Pentingnya Mengelola Keuangan Sejak Dini di Tengah Gaya Hidup Konsumtif

Mahasiswa Universitas Pamulang dan saya tertarik terkait tentang keuangan dan sdm
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Melani sugiarti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi dan media sosial telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat ini, berbelanja menjadi semakin mudah karena berbagai barang dapat dibeli secara daring tanpa harus datang langsung ke toko. Selain itu, banyaknya promosi, diskon, dan tren yang beredar di media sosial sering kali menarik minat masyarakat untuk membeli berbagai produk. Namun, kemudahan tersebut juga dapat mendorong kebiasaan konsumtif apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola keuangan secara bijak.
Gaya hidup konsumtif semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda. Keinginan untuk mengikuti tren atau memiliki barang yang sedang populer terkadang membuat seseorang mengeluarkan uang tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya. Padahal, kebiasaan tersebut dapat berdampak pada kondisi keuangan, khususnya bagi mereka yang masih memiliki pendapatan terbatas atau belum terbiasa mengatur pengeluaran sendiri.
Pentingnya pemahaman keuangan juga tercermin dalam hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Perbedaan kedua angka tersebut menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap layanan keuangan lebih tinggi dibandingkan tingkat literasinya. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kemudahan dalam menggunakan layanan keuangan perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai agar masyarakat dapat mengambil keputusan keuangan secara bijak.
Salah satu hal yang mendorong perilaku konsumtif adalah pengaruh lingkungan dan media sosial. Berbagai konten yang menampilkan gaya hidup mewah, barang-barang terbaru, hingga aktivitas berbelanja dapat menimbulkan keinginan untuk memiliki hal yang sama. Tanpa disadari, seseorang bisa membeli barang bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan hanya karena tertarik atau ingin mengikuti tren yang sedang berkembang.
Selain pengaruh media sosial, kemudahan berbelanja secara daring juga menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan pengeluaran. Berbagai penawaran diskon dan promosi sering kali membuat seseorang tertarik membeli barang, meskipun barang tersebut sebenarnya belum diperlukan. Jika kebiasaan ini terus dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan, pengeluaran dapat menjadi sulit dikendalikan.
Kebiasaan konsumtif yang dilakukan secara terus-menerus dapat menimbulkan berbagai masalah keuangan. Pengeluaran yang tidak direncanakan dapat membuat uang lebih cepat habis, bahkan sebelum kebutuhan utama terpenuhi. Kondisi ini menjadi tantangan, terutama bagi seseorang yang memiliki pendapatan terbatas dan belum terbiasa mengatur keuangan secara teratur.
Selain itu, perilaku konsumtif juga dapat menghambat seseorang dalam menyisihkan uang untuk tabungan maupun kebutuhan di masa mendatang. Ketika sebagian besar pendapatan digunakan untuk memenuhi keinginan, kesempatan untuk mempersiapkan dana darurat menjadi semakin kecil. Padahal, dana tersebut dapat membantu ketika seseorang menghadapi kebutuhan mendadak, seperti biaya kesehatan atau keperluan penting lainnya.
Melihat kondisi tersebut, kemampuan mengelola keuangan sejak dini menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Pengelolaan keuangan tidak harus dimulai dengan cara yang rumit atau membutuhkan penghasilan yang besar. Hal sederhana seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran, membuat anggaran bulanan, serta menyisihkan sebagian uang untuk ditabung dapat menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan keuangan yang lebih baik.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membiasakan diri untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan sebelum membeli sesuatu. Dengan mempertimbangkan manfaat dan tingkat kepentingan suatu barang, seseorang dapat lebih bijak dalam menentukan prioritas pengeluaran. Selain itu, membuat anggaran bulanan juga dapat membantu seseorang mengetahui ke mana uangnya digunakan sehingga pengeluaran menjadi lebih terarah.
Kebiasaan menabung juga perlu dibangun sejak dini, meskipun jumlah uang yang disisihkan tidak terlalu besar. Menabung bukan hanya tentang mengumpulkan uang, tetapi juga melatih kedisiplinan dalam mengelola pendapatan. Jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan ini dapat membantu seseorang mempersiapkan kebutuhan di masa mendatang sekaligus mengurangi ketergantungan pada pinjaman ketika menghadapi keadaan yang tidak terduga.
Menurut saya, kemampuan mengelola keuangan seharusnya tidak hanya dianggap penting ketika seseorang sudah memiliki penghasilan tetap. Justru, kebiasaan tersebut perlu dibangun sejak masih menjadi pelajar atau mahasiswa. Dengan memahami cara menggunakan uang secara bijak, seseorang dapat belajar untuk lebih bertanggung jawab terhadap keputusan keuangannya sendiri.
Pada akhirnya, gaya hidup konsumtif bukanlah sesuatu yang dapat dihindari sepenuhnya, terutama di tengah perkembangan teknologi dan perubahan tren yang begitu cepat. Namun, setiap orang tetap memiliki pilihan dalam menentukan bagaimana uangnya digunakan. Mengelola keuangan sejak dini bukan berarti harus membatasi diri dari segala bentuk kesenangan, melainkan belajar menyeimbangkan keinginan dengan kemampuan finansial. Dengan membiasakan diri membuat perencanaan dan mengendalikan pengeluaran, seseorang dapat menikmati hasil pendapatannya tanpa mengabaikan kebutuhan di masa depan.
Sumber Referensi
Otoritas Jasa Keuangan & Badan Pusat Statistik. (2025). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025.
