5G Itu Cepat, tapi Apakah Kita Sudah Siap Memanfaatkannya?

Mahasiswi Universitas Pamulang, Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Melany Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap kali operator seluler mengumumkan perluasan jaringan 5G, kita biasanya disuguhi janji yang sama: internet super cepat, tanpa jeda, dan siap mengubah segalanya. Janji itu memang tidak keliru secara teknis. Namun menurut saya, ada pertanyaan yang lebih penting daripada seberapa cepat 5G, yaitu seberapa siap kita memanfaatkannya.

Dari sisi teknologi, 5G memang lompatan besar. Dalam mata kuliah Komunikasi Data, kita belajar bahwa kualitas komunikasi ditentukan oleh kecepatan transfer data, latensi, dan jumlah perangkat yang bisa terhubung bersamaan. Di tiga hal itu, 5G unggul jauh dibanding pendahulunya. Latensinya yang sangat rendah membuka jalan bagi aplikasi yang tidak mungkin berjalan baik di jaringan sebelumnya, seperti operasi bedah jarak jauh, kendaraan otonom, pabrik pintar, dan jutaan sensor Internet of Things yang saling berkomunikasi pada saat yang sama.
Tetapi di titik inilah saya merasa ada jarak antara brosur dan kenyataan. Bagi kebanyakan pengguna di Indonesia, 5G saat ini hanya terasa sebagai unduhan dan streaming yang lebih cepat. Itu menyenangkan, tetapi bukan perubahan besar yang dijanjikan. Teknologi sehebat ini kalau hanya dipakai untuk menonton video lebih mulus ibarat membeli mesin balap untuk mengantar belanjaan.
Masalah pertama adalah sebaran. Jaringan 5G masih terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara banyak daerah masih berjuang mendapat sinyal 4G yang stabil, bahkan ada yang belum terjangkau sama sekali. Kalau pembangunan 5G terus berfokus pada wilayah yang sudah maju, kesenjangan digital justru bisa melebar. Daerah yang sudah unggul makin unggul, dan daerah yang tertinggal makin jauh tertinggal.
Masalah kedua adalah perangkat dan biaya. Agar bisa menikmati 5G, orang butuh ponsel yang mendukung dan paket data yang terjangkau. Teknologi secanggih apa pun tidak berarti banyak kalau hanya bisa dinikmati sebagian kecil masyarakat.
Masalah ketiga, dan menurut saya paling sering terlupa, adalah keamanan. Makin banyak perangkat yang terhubung, makin besar pula permukaan serangan. Ketika ribuan sensor, kamera, dan mesin saling terkoneksi lewat 5G, satu perangkat yang lemah pengamanannya bisa menjadi pintu masuk bagi penyerang. Kecepatan yang tinggi juga berarti kebocoran data bisa terjadi lebih cepat dan dalam jumlah lebih besar. Jadi pembangunan 5G seharusnya berjalan beriringan dengan penguatan keamanan, bukan menyusul belakangan.
Meski begitu, saya tidak ingin terdengar pesimis. Potensi 5G untuk Indonesia nyata. Di sektor kesehatan, ia bisa memperluas layanan konsultasi dan pemantauan pasien jarak jauh ke daerah yang kekurangan tenaga medis. Di pertanian dan perikanan, sensor yang terhubung bisa membantu petani dan nelayan mengambil keputusan berdasarkan data. Bagi UMKM, jaringan yang lebih andal memudahkan transaksi digital dan pemasaran daring. Semua itu hanya terwujud jika infrastruktur, regulasi, dan kemampuan sumber daya manusia ikut disiapkan.
Karena itu, menurut saya, ukuran keberhasilan 5G bukan berapa banyak menara yang berdiri atau berapa Mbps yang tercatat dalam uji kecepatan. Ukurannya adalah seberapa banyak masalah nyata yang terbantu, mulai dari layanan kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi masyarakat kecil. Teknologi yang cepat tetapi tidak merata hanya akan menjadi kemewahan bagi sebagian orang.
Pada akhirnya, 5G adalah fondasi, bukan tujuan. Fondasi yang kuat memang penting, tetapi yang menentukan adalah bangunan apa yang kita dirikan di atasnya. Tantangan kita bukan lagi membuat jaringan yang lebih cepat, melainkan memastikan semua orang punya kesempatan yang sama untuk ikut merasakannya.
