Konten dari Pengguna

Mencari Suasana di Balik Secangkir Kopi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abhista Raissa Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alunan musik pelan mengalun dari sudut ruangan, berpadu dengan desis mesin espresso yang tak henti bekerja. Aroma kopi yang baru diseduh tercium ke seluruh kafe. Di meja, Ara menyeruput cokelat hangat pesanannya. Rasa manis dan pekat yang menyentuh lidah membuat tubuhnya rileks, sementara pikirannya tetap siap bekerja. Di antara semua itu terdengar ketukan keyboard yang bersahutan dari meja ke meja. Layar laptopnya menyala dengan kursor berkedip, menanti ide. Ara sengaja memilih tempat ini ketimbang kamar kosnya demi menuntaskan tugas kuliah.

Pemandangan seperti ini bukan hanya milik Ara. Di sekitar kampus, kafe dan warung kopi kini dipenuhi mahasiswa yang membuka laptop dan mengerjakan tugas. Tempat yang dulu identik dengan nongkrong perlahan berubah menjadi ruang belajar.

Bagi Ara, ke kafe bukan kebiasaan harian, melainkan menyesuaikan dengan tugas. “Seminggu itu satu sampai dua kali, tergantung tugas yang didapat. Kalau tidak ada tugas, ya tidak nongkrong,” ucapnya. Sekali datang, ia biasanya bertahan sekitar empat jam, sampai tugasnya selesai.

Alasannya sederhananya kamar kos terlalu banyak godaan. “Kalau di kos, gampang ngantuk dan sering terdistraksi, jadi tidak fokus,” ucapnya. Perpustakaan sebenarnya bisa jadi pilihan, tetapi menurutnya tidak banyak berbeda dengan kafe. “Bedanya, di perpustakaan kurang leluasa dan biasanya orangnya lebih ramai.”

Yang membuat kafe terasa istimewa justru orang-orang di sekitarnya. “Di kafe lebih fokus karena kebanyakan orang juga mengerjakan tugas. Jadi rasanya semua orang fokus dengan kesibukannya, dan kita ikut terbawa suasana fokus itu,” katanya. Ada satu hal lagi yang ia sebut yaitu pengunjung kafe jarang yang ia kenal, sehingga ia tidak mudah terdistraksi.

Sumber: Foto probadi

Suasana itu terlihat jelas dari pengamatan langsung di kafe. Tempat duduknya strategis dan nyaman karena dekat dengan stopkontak, sehingga laptop tak perlu cemas kehabisan baterai. Wi-Fi-nya kencang, dan volume musiknya tidak terlalu keras sehingga tidak mengganggu fokus pengunjung. Di sekeliling, hampir semua orang menunduk menatap layar dengan kesibukannya masing-masing. Pemandangan itu membuat siapa pun yang duduk di sana ikut terbawa suasana fokus.

Soal pesanan, Ara punya aturan sendiri. Kopi, yang biasanya ia pilih versi manis, baru ia pesan ketika rasa kantuk mulai datang. Namun kalau perutnya masih kosong, ia beralih ke cokelat atau red velvet. “Kalau belum makan, aku minum yang bukan kafein supaya maagku tidak kambuh,” katanya. Jadi bagi Ara, kopi bukan sekadar teman duduk, melainkan alat bantu melawan kantuk yang dipesan pada saat yang tepat.

Tentu ada harga yang harus dibayar. Sekali ke kafe, Ara mengeluarkan maksimal Rp30.000. Ia mengaku tidak pernah menghitung total pengeluarannya dalam sebulan. Baginya, yang terasa justru manfaatnya. “Pengaruhnya jadi lebih fokus mengerjakan tugas dan tidak menunda-nunda,” ujarnya.

Kisah Ara mencerminkan pergeseran yang lebih luas di kalangan mahasiswa. Kafe tidak lagi sekadar tempat menghabiskan waktu luang, tetapi menjadi semacam “ruang kerja kedua”. Orang datang bukan terutama untuk kopinya, melainkan untuk suasana yang membuat mereka mau dan mampu bekerja.

Ketika ditanya apakah kafe hanya tempat membeli minuman, Ara punya jawaban yang lugas. “Kalau cuma beli minuman, better beli di tempat lain yang lebih terjangkau. Jadi menurutku kafe itu sudah jadi ruang kerja kedua untuk masa-masa kuliah.”

Menjelang sore berganti malam, musik masih mengalun pelan dan aroma kopi belum benar-benar pergi. Ketukan keyboard di sekeliling Ara mulai jarang terdengar. Ia menyimpan file tugasnya, lalu menutup laptop dengan pelan. Cokelat hangatnya tinggal sedikit, menyisakan manis yang masih terasa di lidah. Ia merapikan tas dan melangkah keluar dengan tugas yang selesai. Sejak tadi, bukan sekadar minuman yang ia cari, melainkan suasana yang membuatnya mau fokus.