Konten dari Pengguna

Mengapa Nasi Jamblang Selalu Menarik untuk Dicoba Saat ke Cirebon?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tarisah Ainahaque Yuda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari pesan teman sebelum berangkat sampai cerita setelah piring kosong, ini perjalanan seorang pembeli.

Nasi Jamblang Foto Oleh Tarisah Ainahaque Yuda
zoom-in-whitePerbesar
Nasi Jamblang Foto Oleh Tarisah Ainahaque Yuda

Kebanyakan orang menjawab pertanyaan ini dengan satu kata: enak. Dan itu tidak salah. Tapi kalau rasa saja yang jadi alasan, kenapa banyak orang sudah merasa harus mencoba nasi jamblang bahkan sebelum menginjakkan kaki di Cirebon?

Saya rasa jawabannya ada disepanjang perjalanan sang pembeli. Dalam perilaku konsumen, keputusan membeli bukan satu momen, melainkan proses yang dimulai jauh sebelum kita membayar dan berlanjut setelah makanannya habis. Kalau nasi jamblang dilihat dari tiga tahap itu, yaitu sebelum datang, saat memilih, dan setelah makan, daya tariknya jadi lebih mudah dipahami.

Tahap 1: sebelum datang, Nasi Jamblang sudah lebih dulu dikenal.

Biasanya kita tahu nasi jamblang bukan dari iklan melainkan dari orang. Teman yang baru pulang dari Cirebon, saudara yang bercerita atau unggahan yang kebetulan lewat di media sosial. Padahal kita belum pernah mencicipinya.

Disinilah rekomendasi orang lain bekerja. Saran dari orang yang kita kenal terasa lebih menyakinkan daripada promosi resmi, dan itu mengurangi rasa ragu sebelum mencoba. Dalam bahasa kuliah, ini word-of-mouth, dan bentuk daringnya disebut eWOM. Hasilnya ketika akhirnya tiba di Cirebon, nasi jamblang sudah masuk daftar “harus dicoba” bahkan sebelum kita lapar.

Tahap 2: Saat memilih, Kita yang menyusun sendiri

Begitu di warung, pengalamannya berbeda dari kebanyakan makan di luar. Nasi sudah ada, dan lauknya berjajar. Kita yang memilih, kita yang mengambil.

Menurut saya, di tahap ini ada dua hal yang bekerja. Pertama, rasa memegang kendali. Orang cenderung lebih puas ketika merasa ikut menyusun pengalamannya. Kedua, tampilan yang khas. Nasi dibungkus daun jati, dan itu langsung memberi tahu bahwa ini bukan nasi biasa. Ciri yang gampang dikenali seperti ini membuat produk gampang diingat dan gampang diceritakan ulang.

Tahap 3: setelah makan, pengalaman itu menjadi cerita

Bagian ini yang sering terlewat. Pengalaman membeli tidak selesai ketika piring kosong. Setelah makan, kita menilai apakah pengalaman itu sepadan, lalu menceritakannya ke orang lain, entah lewat foto, obrolan, atau sekadar jawaban atas pertanyaan, “Gimana,enak?”

Di sini cerita di balik makanannya berperan. Nasi jamblang sering diceritakan punya sejarah, dan versinya memang beragam tergantung siapa yang cerita, jadi saya tidak memilih satu versi di sini. Yang menarik buat saya adalah efeknya: makanan yang punya cerita terasa lebih bermakna, dan lebih layak dibicarakan. Begitu kita menceritakannya, kita sendiri menjadi bagian dari rekomendasi yang akan didengar orang berikutnya. Lingkarannya kembali ke tahap pertama.

Yang Saya Temukan di Lapangan

Supaya tidak hanya berteori, saya mewawancarai 8 orang secara langsung di sebuah rumah makan nasi jamblang pada hari Sabtu. Alasan yang paling sering saya dengar adalah kebebasan memilih lauk. Karena lauknya bervariasi, mereka tidak bosan walau sering makan nasi jamblang. Alasan lain yang muncul adalah cerita di balik makanannya dan rekomendasi orang lain.

Jawaban ini cocok dengan tiga tahap tadi: rekomendasi di tahap pertama, kebebasan memilih di tahap kedua, dan cerita di tahap ketiga. Tentu saja, delapan orang di satu tempat belum bisa mewakili semua pembeli, jadi anggap ini gambaran kecil, bukan kesimpulan besar.

Jadi, Kenapa Nasi Jamblang Selalu Menarik?

Menurut saya, nasi jamblang menarik karena ia menang di setiap tahap perjalanan pembeli: ia sudah dikenal sebelum dicoba, memberi rasa memegang kendali saat dipilih, dan meninggalkan cerita setelah dimakan. Rasa memang penting, tapi bukan satu-satunya yang membuat orang kembali dan membicarakannya.

Buat pelaku usaha kuliner, pelajarannya jelas: pikirkan seluruh perjalanan pembeli, bukan hanya apa yang ada di piring. Dan lain kali ada yang bertanya, "Sudah makan nasi jamblang belum?", kamu sedang berada di tahap yang mana?