Menjahit Ketahanan Pangan Indonesia dari Hulu hingga Hilir
Tulisan dari Hari Suciono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hari Suciono : Penulis adalah Pegawai Unit Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember – Jawa Timur
Indonesia adalah sebuah meja makan raksasa yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Di satu sisi, petani menanam cabai di lereng pegunungan. Di sisi lain, nelayan melaut di perairan timur Nusantara. Sementara itu, jutaan keluarga setiap hari bergantung pada ketersediaan pangan yang terjangkau untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Seluruh aktivitas tersebut sesungguhnya terhubung oleh satu benang yang sama: stabilitas harga pangan.

Ketika harga cabai, bawang merah, telur ayam, atau beras melonjak, masyarakat tidak memandangnya sebagai angka inflasi dalam laporan statistik. Mereka merasakannya langsung di pasar, dapur, dan dompet mereka. Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, gejolak harga pangan dapat mengurangi daya beli, memengaruhi kualitas konsumsi, bahkan mengganggu kesejahteraan keluarga. Karena itulah inflasi pangan memiliki makna yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar indikator ekonomi.
Di tengah tantangan global yang masih berlangsung, Indonesia menunjukkan fondasi ekonomi yang tetap kuat. Pada Semester I Tahun 2026, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,45 persen, sementara inflasi berada pada level 3,28 persen, masih terjaga dalam kisaran sasaran nasional. Di sisi lain, realisasi investasi hingga September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun dengan lebih dari 50 persen berasal dari luar Pulau Jawa. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa mesin ekonomi Indonesia tetap bergerak dengan baik. Namun, mempertahankan stabilitas ekonomi membutuhkan lebih dari sekadar pertumbuhan. Indonesia juga harus memastikan bahwa pangan tetap tersedia, terjangkau, dan dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat.
Menyambung Rantai Pasok dari Hulu hingga Hilir
Tantangan pangan Indonesia sesungguhnya tidak selalu berasal dari kurangnya produksi. Sering kali masalah muncul karena terputusnya rantai pasok antara daerah penghasil dan daerah konsumsi. Bayangkan sebuah sungai yang mengalir dari pegunungan menuju lautan. Air di hulu melimpah, tetapi saluran yang menghubungkannya ke hilir tidak berjalan dengan lancar. Akibatnya, sebagian wilayah mengalami kelebihan pasokan, sementara wilayah lain justru menghadapi kelangkaan. Fenomena serupa kerap terjadi pada pangan Indonesia.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan distribusi yang unik. Sentra produksi pangan tersebar di berbagai wilayah, sedangkan pusat konsumsi berada di lokasi yang berbeda. Ketika konektivitas belum optimal, biaya logistik meningkat dan harga pangan menjadi lebih mahal di tingkat konsumen.
Karena itu, pengendalian inflasi pangan tidak cukup dilakukan melalui operasi pasar atau intervensi jangka pendek semata. Yang diperlukan adalah strategi yang mampu memperkuat seluruh rantai pasok, mulai dari produksi, distribusi, hingga tata kelola. Pendekatan tersebut tercermin dalam berbagai program pengendalian inflasi yang dilakukan secara sinergis oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta berbagai pemangku kepentingan melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah. Strategi 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, menjadi fondasi dalam menjaga stabilitas harga pangan nasional.
Langkah tersebut semakin diperkuat melalui berbagai inovasi penguatan ketahanan pangan. Peningkatan kapasitas produksi pertanian dan perikanan, penguatan kerja sama antardaerah, dukungan pembiayaan bagi petani dan nelayan, perbaikan logistik, serta pengembangan sistem data pangan menjadi bagian dari upaya membangun sistem yang lebih tangguh.
Hasilnya mulai terlihat. Cadangan beras nasional telah mencapai sekitar 4,5 juta ton, mencerminkan kapasitas stok yang kuat untuk menjaga stabilitas pasokan. Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 131,11, merupakan capaian tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Data tersebut menunjukkan bahwa upaya menjaga inflasi tidak hanya memberikan manfaat kepada konsumen, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan produsen pangan sebagai garda terdepan ketahanan pangan nasional.
Ketahanan Pangan sebagai Fondasi Masa Depan Indonesia
Di tengah meningkatnya risiko perubahan iklim, tantangan pangan ke depan diperkirakan akan semakin kompleks. Fenomena cuaca ekstrem, kekeringan, gangguan distribusi, hingga perubahan pola konsumsi masyarakat dapat menjadi sumber tekanan baru terhadap inflasi pangan. Dalam kondisi tersebut, Indonesia membutuhkan pendekatan yang lebih visioner. Inflasi pangan tidak boleh hanya dipandang sebagai masalah harga hari ini, melainkan sebagai bagian dari agenda besar membangun ketahanan pangan nasional.
Kabar baiknya, Indonesia memiliki modal yang kuat untuk mewujudkan hal tersebut. Selain capaian investasi yang terus meningkat, sektor pertanian juga menunjukkan perkembangan positif. Pada tahun 2025, nilai ekspor pertanian meningkat 28,26 persen, sementara impor pertanian menurun 9,66 persen. Tren ini menunjukkan bahwa sektor pangan Indonesia tidak hanya berperan dalam menjaga stabilitas harga, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang semakin kompetitif.
Dalam konteks tersebut, peran Bank Indonesia menjadi semakin strategis. Sebagai otoritas yang bertugas menjaga stabilitas nilai rupiah, Bank Indonesia tidak hanya hadir melalui kebijakan moneter, tetapi juga melalui penguatan koordinasi pengendalian inflasi, fasilitasi kerja sama antardaerah, dukungan digitalisasi data pangan, serta sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui TPIP dan TPID.
Jika ketahanan pangan dianalogikan sebagai sebuah kain tenun Nusantara, maka setiap daerah adalah helai benangnya. Ada benang produksi, benang distribusi, benang pembiayaan, benang teknologi, dan benang kebijakan. Satu benang saja tidak cukup untuk membentuk kain yang kuat. Namun, ketika seluruh benang dirajut melalui kolaborasi yang erat, akan terbentuk sistem pangan yang mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.
Menjaga inflasi pangan bukan semata-mata tentang mengendalikan harga cabai atau beras. Ia merupakan ikhtiar besar untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat kesejahteraan petani dan nelayan, meningkatkan ketahanan ekonomi daerah, serta memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Ketika produksi semakin kuat, distribusi semakin lancar, data semakin akurat, dan kolaborasi semakin solid, Indonesia tidak hanya mampu mengendalikan inflasi pangan, tetapi juga membangun fondasi ketahanan pangan yang kokoh untuk masa depan bangsa.HARI
***

