Konten dari Pengguna

Rupiah Turun, Beban Rakyat Naik

Muhammad Arif Farhan

Muhammad Arif Farhan

Saya adalah mahasiswa Universitas Pamulang yang ingin mengupload sebuah opini untuk tugas ataupun opini pribadi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Arif Farhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari-hari ini, penurunan nilai rupiah dan penurunan kemampuan masyarakat untuk membeli barang bukan lagi sekadar angka ekonomi yang sering dibicarakan di televisi dan media sosial. Di dapur rumah tangga, di pasar tradisional, di warung kecil, hingga di toko-toko yang mulai kekurangan pelanggan, dampaknya terasa langsung. Biaya impor untuk bahan baku, makanan, energi, dan kebutuhan produksi meningkat seiring dengan pelemahan rupiah. Bukan karena mereka memahami teori makroekonomi, tetapi karena uang mereka semakin habis, masyarakat umum merasakan tekanan. Pertanyaan utama dalam keadaan seperti ini adalah: siapa yang sebenarnya dilindungi oleh kebijakan ekonomi saat ini?

Sumber: Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi AI

Menjaga stabilitas rupiah, inflasi, dan kepercayaan pasar adalah hal yang sering ditekankan oleh pemerintah dan otoritas moneter. Itu benar secara teoritis. Masalahnya, stabilitas yang dijaga seringkali lebih menguntungkan di pasar keuangan daripada di rumah tangga. Fokus kebijakan yang berlebihan pada mempertahankan persepsi investor, pasar obligasi, atau arus modal menyebabkan masyarakat kecil menghadapi kenaikan harga beras, biaya transportasi, biaya sekolah, dan tagihan harian lainnya. Oleh karena itu, kebijakan yang tampak "sehat" secara makro belum tentu memiliki efek sosial yang adil. Di sinilah kritik utamanya terletak: ekonomi sering terlihat stabil di atas kertas, tetapi sebenarnya lemah.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah penurunan daya beli karena harga yang mahal dan pendapatan yang tidak meningkat secepat kebutuhan hidup. Banyak masyarakat tetap bekerja, tetapi pendapatannya tidak cukup untuk menjaga kualitas hidup yang layak. Kelas menengah juga mengalami kesulitan: mereka tidak miskin, tetapi tidak memiliki keamanan finansial yang cukup. Mereka masih membayar cicilan, sekolah, transportasi, dan kebutuhan pokok lainnya, tetapi anggaran mereka semakin terbatas. Akibatnya, orang mulai berhati-hati saat berbelanja, menunda makanan, dan bahkan mengurangi kebutuhan dasar mereka. Konsumsi rumah tangga, mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, akan melemah jika situasi ini terus berlanjut.

Situasi ini memiliki masalah terbesar karena kebijakan cenderung berfokus pada mengurangi gejala daripada menyelesaikan masalah dasar. Tekanan pada rupiah akan berlanjut meskipun ada kemungkinan penurunan inflasi sementara, tetapi jika lapangan kerja berkualitas rendah tidak meningkat, sektor produksi domestik tidak diperkuat, dan ketergantungan pada impor terus berlanjut. Ini menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi kita tidak cukup struktural dan terlalu reaktif. Bukan hanya "menenangkan pasar" yang diperlukan, tetapi juga membangun fondasi ekonomi yang membuat masyarakat lebih tahan terhadap perubahan global. Karena negara yang kuat bukan hanya memiliki kurs yang stabil, tetapi juga memiliki negara yang memungkinkan penduduknya untuk hidup dengan cara yang layak saat keadaan tidak stabil.

Akibatnya, kebijakan seharusnya lebih berani berfokus pada peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan kerja yang stabil, pengendalian harga pangan, dan penguatan industri dalam negeri. Perlindungan kebijakan tidak seharusnya terbatas pada investor, perbankan, atau indikator makro. Jika tidak, kita hanya akan terus mendengar bahwa "ekonomi tetap terjaga", sementara rakyat semakin merasa tidak dijaga. Selain itu, ketika masyarakat mulai kehilangan rasa aman secara ekonomi, kepercayaan publik terhadap kebijakan negara itu sendiri juga akan terancam.

KESIMPULAN

Melemahnya rupiah dan penurunan daya beli menunjukkan bahwa masalah ekonomi saat ini tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi atau stabilitas pasar, tetapi juga seberapa efektif kebijakan melindungi kehidupan masyarakat. Rakyat biasa, bukan pemilik modal besar, akan paling terkena dampak kenaikan harga kebutuhan pokok, stagnasi pendapatan, dan pengurangan ruang konsumsi. Akibatnya, kebijakan ekonomi tidak hanya harus berkonsentrasi pada mempertahankan stabilitas makro, tetapi juga harus nyata dalam mempertahankan harga, meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja yang layak, dan menjaga daya beli masyarakat. Jika tidak, laporan hanya akan menunjukkan stabilitas, bukan kehidupan rakyat.