Bawa Poster Bernada Satire Saat Demo, Netizen: Instastory Berkedok Aspirasi

Mahasiswi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik - Prodi Ilmu Komunikasi.
Konten dari Pengguna
20 April 2022 11:51
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Miftachul Laili tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
11 April 2022, merupakan hari dilaksanakannya demo besar-besaran yang melibatkan seluruh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan tergabung dalam BEM SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia). Demo di depan Gedung DPR itu diikuti oleh mahasiswa dari berbagai daerah, mereka mendatangi Gedung DPR di kota masing-masing. Aksi demo itu bertujuan untuk menolak wacana tentang penundaan pemilu, serta menentang isu yang beredar mengenai perpanjangan masa jabatan Presiden Joko Widodo selama tiga periode. Selain kedua tuntutan tersebut terdapat juga beberapa tuntutan lain terkait naiknya harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan BBM.
ADVERTISEMENT
Sejumlah mahasiswa yang melakukan demonstrasi turut membawa poster yang bertuliskan aspirasi-aspirasi mereka. Namun sayangnya beberapa aspirasi yang mereka tulis menimbulkan kontroversi di media sosial. Poster mereka dianggap ‘kurang pantas’ karena menganalogikan aspirasi dengan sesuatu yang berbau seksual. Banyak dari warganet yang menyayangkan penulisan kata didalam poster tersebut karena pesan yang mereka bawa dinilai terlalu 'vulgar' yang dapat menimbulkan stigma negatif pada harkat dan martabat perempuan.
Mahasiswi Membentangkan Poster dan Spanduk Saat Demo 11 April 2022 | Twitter/@tubirfess
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswi Membentangkan Poster dan Spanduk Saat Demo 11 April 2022 | Twitter/@tubirfess
“Capek-capek perempuan berjuang agar RUU TPKS bisa disahkan, tetapi perempuan sendiri yang menjatuhkan hal itu,” tulis warganet.
“Instastory berkedok aspirasi, paling kesel sama tulisan yang dikarton gak layak banget, padahal mereka pelajar loh emang gak ada kata-kata lain selain tulisan kotor gitu. Apalagi yang megang kartonnya itu perempuan loh. Duh.. gak pantes banget pelajar kayak gitu,” ujar warganet.
ADVERTISEMENT
“Semakin tinggi pendidikan nya harusnya bisa lebih cerdas lagi dalam bertutur kata,” sentil warganet.
Sederet komentar pedas dari warganet turut meramaikan jagat sosial media. Isu tersebut tak hanya diperbincangkan melalui akun-akun berita dan gosip namun juga sampai merambah ke akun sosial media milik salah satu mahasiswi yang membawa poster bertulisakan "lebih baik bercinta tiga ronde daripada harus tiga periode" itu. Berbagai argumentasi tentang poster yang ia bawa dikirimkan melalui Direct Massage Instagram, sehingga membuat mahasiswi yang turun aksi tersebut melakukan klarifikasi melalui instastory nya.
"Halo semuanya, terima kasih karena menyempatkan waktu untuk bisa mampir ke akun saya. Mengenai poster yang saya buat (tidak menyangka akan serame ini) tidak peduli bahwa orang lain berpikir "ya namanya juga anak sastra, aneh-aneh tulisannya" diluar itu saya sudah sebutkan alasannya kenapa saya menggunakan kata 'ronde' agar terdapat asonansi kata untuk kata 'periode'. Mungkin dari teman-teman banyak yang menunjukkan atau respon/tidak suka. Tidak apa-apa karena hal tersebut diluar kendali saya. Adapun teman-teman yang tetap me-support (menyukai aksi berani saya tersebut) terima kasih banyak, peluk dan cium jauh dari saya. Untuk teman-teman semua tolong jaga diri dan sehat selalu." tulis mahasiswi tersebut
ADVERTISEMENT
"Melihat respon dari pihak yang kontra dari poster tulisan yang saya buat, mungkin bagi beberapa orang tulisan ini agak sedikit tabu. Ditambah teman-teman yang selain atau bukan anak bahasa/sastra mungkin akan cukup sulit mengerti mengapa saya menggunakan kata tersebut (yaitu balik lagi karena ingin menyuguhkan asonansi di dalamnya) di dalam bahasa Indonesia ada banyak sekali istilah untuk permainan kata atau ujung kata. Kasusnya seperti asonansi tadi. Nah, buat teman-teman yang belum mengerti dan terlanjur tidak suka dengan apa yang saya tulis, mungkin kita bisa belajar asonansi." Imbuhnya.
Menurut klarifikasinya, alasan ia menggunakan kata-kata tersebut karena ingin menyuguhkan asonansi bahasa dalam posternya. Asonansi sendiri merupakan sebuah pengulangan suara atau vokal yang bertujuan untuk membuat rima internal dalam sebuah frasa atau kalimat yang berfungsi sebagai salah satu blok bangunan sajak, seperti halnya penggunaan kata 'ronde' dengan kata 'periode'.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi dari setiap isu yang terjadi di masyarakat akan selalu ada pihak pro dan kontra. Dari sekian penolakan, tak sedikit pula yang memberikan dukungan.
"Why so serious? Biarinlah mereka udah capek-capek demo, kok kalian yang ngatur-ngatur,” ujar seorang warganet.
"Kalau gak ikut turun ke jalan setidaknya tidak usah ikut bicara," tulis warganet.
"Niatnya untuk mau turun ke jalan sebenarnya patut diapresiasi." tulis warganet yang lain.
Mereka justru mendukung aksi berani dari mahasiswi tersebut karena telah rela turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya, menyangkal hujatan yang sebagaian besar warganet lontarkan kepada mahasiswi jurusan sastra itu.
Isu yang tengah ramai diperbicangkan itu membuat warganet terbagi menjadi dua pihak, yaitu pihak pro dan pihak kontra. Sebenarnya tidak ada masalah jika kenyataanya seperti itu, karena memang sejatinya setiap manusia memiliki presepsi masing-masing. Mereka memberikan komentar tentu juga memberikan alasan dibalik ketidaksetujuan atau dukungannya. Jika kita menggunakan kacamata dari pihak kontra kita bisa memahami alasan mereka menolak poster tersebut karena bahasa yang dipergunakan cukup sensitif di Indonesia, dimana norma dan adab dijunjung tinggi. Bahasa tersebut juga tidak sepantasnya dipergunakan di depan umum apalagi sampai merambah ke sosial media. Kita tidak dapat mem-filter siapa saja audience yang akan melihat dan menimbulkan khawatirkan jika saja anak dibawah umum mengkonsumsi konten tersebut. Tak menutup kemungkinan juga kepercayaan masyarakat kepada mahasiswa sebagai kaum intelektual pembela masyarakat kian memudar akibat isu yang beredar.
ADVERTISEMENT
Jika asonansi bahasa dipergunakan sebagai alasan penggunaan kata tersebut karena ia adalah mahasiswi jurusan sastra tetap saja kurang tepat, pasalnya dalam bahasa Indonesia selain asonansi terdapat juga diksi. Diksi membantu penulis untuk memilih kata yang tepat dan selaras sesuai dengan kebutuhan agar makna yang tersampaikan sesuai dengan keinginan penulis, pemilihan diksi yang kurang tepat menimbulkan perbedaan makna sehingga pesan dari penulis tidak tersampaikan dengan baik (menimbulkan bias). Penggunaan poster tersebut dinilai juga mengaburkan tujuan dari demo, alih-alih fokus kepada tuntutan demo, masyarakat justru fokus dengan poster kontroversial itu.
Setelah memahami sudut pandang kontra marilah kita juga melihat bagaimana sudut pandang pro sebagai sebuah acuan agar kita dapat berpikir lebih luas dan tidak terpaku dalam satu sudut pandang saja. Sudut pandang pro memang mendukung aksi dari mahasiswi tersebut, mereka menganggap hal tersebut adalah hal biasa. Tidak ada yang perlu dirisaukan atas penggunaan bahasa tersebut. Viralnya poster tersebut di media sosial justru seharusnya membawa angin segar bagi para demonstran. Mengingat di era digital ini siapa yang tidak memiliki sosial media tak terkecuali pemerintah. Dengan viralnya poster tersebut diharapkan aspirasi serta tuntutan dari seluruh mahasiswa dapat tersampaikan kepada pemerintah, karena jika hanya berfokus pada aksi demo yang dilakukan di jalan sepertinya kecil kemungkinan poster tersebut dapat dilirik oleh pemerintah. Pihak pro mengapresiasi aksi berani yang dilakukan oleh mahasiswi tersebut, karena ia rela meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu masyarakat serta mahasiswa lain menyuarakan keresahan masyarakat.
ADVERTISEMENT
Dapat ditarik kesimpulan bahwa kita boleh-boleh saja menyuarakan pendapat asalkan pada konteks yang tepat. Penggunaan bahasa yang kurang tepat seringkali menimbulkan kesalahpahaman. Manusia memanglah makhluk yang tidak luput dari kesalahan dan tanpa kesalahan manusia tidak akan belajar.
Sebagai manusia yang hidup sosial, sebuah hal wajib bagi kita untuk dapat memahami berbagai sudut pandang agar kita dapat dengan tentram hidup berdampingan, menghargai pendapat satu sama lain tanpa saling menyalahkan.
Sekian opini dari saya, apabila ada salah-salah kata saya mohon maaf.
Terimaksih.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020