Buzz
·
4 Agustus 2021 10:59
·
waktu baca 2 menit

FODA, Fenomena Ogah Pacaran Akibat Pandemi COVID-19 yang Berkepanjangan

Konten ini diproduksi oleh kumparan
FODA, Fenomena Ogah Pacaran Akibat Pandemi COVID-19 yang Berkepanjangan (968452)
searchPerbesar
Ilustrasi Photo by Ike louie Natividad from Pexels
Pandemi COVID-19 turut berdampak pada kisah cinta anak muda. Salah satunya dalam bentuk FODA alias fear of dating again atau takut pacaran.
ADVERTISEMENT
FODA lahir akibat pandemi COVID-19 yang berkepanjangan karena adanya social distancing sampai pembatasan kegiatan. Hingga akhirnya membuat orang takut memulai interaksi sosial dan menjalin hubungan romantis.
Kayak yang dialami Eric Buttelman (26), cowok asal New York itu mengaku kehilangan semangat dan juga gairah untuk kembali berkencan. Apalagi setelah satu tahun lebih pandemi terjadi, dia enggak bisa berinteraksi dengan orang secara langsung di luar rumah.
"Sebenarnya, sih, selama lockdown aku ngobrol sama banyak cewek. Tapi lewat online aja. Enggak satu pun dari mereka yang akhirnya jadian. Karena emang enggak ada perasaan," katanya, dilansir New York Post.
Buttelman enggak sendiri. Daniella Orellana (30) juga mengalaminya. Bahkan dia udah di tahap mempertanyakan diri sendiri apakah perlu pacaran atau enggak.
ADVERTISEMENT
"Temanku sampai nanya, 'Kamu tahu, 'kan, kalau ada cowok yang suka sama kamu?'. Tapi saat ini aku enggak tertarik sama hal itu (berkencan). Padahal ini bukan jadi masalah sebelum adanya pandemi," tutur dia.

Penyebab FODA

Menurut Chief dan Dating Expert dari aplikasi kencan Match, Rachel DeAlto, FODA terjadi karena seseorang udah lama enggak berkencan sehingga menimbulkan rasa takut buat memulainya lagi.
Berbeda dengan sebelum pandemi, saat berkencan terasa sebagai sesuatu yang alami karena bisa bertemu langsung secara leluasa.
“Aku rasa ada banyak orang yang mengalami kondisi ‘Oh, aku lupa bagaimana melakukan hal ini (akibat pandemi)’,” kata DeAlto, seperti dilansir Mashable.
Faktor kesehatan juga menjadi alasan munculnya FODA. Kayak Victoria Pla (24) yang takut kencan sama orang yang belum divaksin COVID-19.
ADVERTISEMENT
"Serem. Apalagi kalau ngedate sama orang yang mungkin aja bikin aku sakit atau ternyata dia penyebar virus," ucapnya.
Selain itu, menurutnya PDKT sebelum pacaran adalah interaksi yang melelahkan.

Cara Mengatasi FODA

Cara Mengatasi FODA
FODA bisa diatasi dalam beberapa cara. Berikut di antaranya, seperti dilansir Instyle.
1. Beri waktu untuk beradaptasi
Penting untuk menerima kondisi bahwa kencan saat pandemi atau nanti setelah pandemi, akan sangat berbeda dari kondisi sebelum pandemi. Oleh karena itu, seseorang harus memberikan dirinya sendiri waktu untuk beradaptasi dengan situasi yang baru ini.
2. Enggak perlu merasa tertekan
Enggak perlu merasa tertinggal dari teman-teman yang udah punya pacar baru atau menikah saat pandemi. Lebih baik buat diri kamu nyaman dengan kondisi yang lagi dihadapi sampai akhirnya nanti bisa memulai hubungan lagi.
3. Kamu enggak sendiri
Yakin, deh. Kamu enggak sendirian dalam merasakan FODA dan merasa kelelahan karena pandemi ini. Kamu juga enggak perlu menghadapinya sendirian, kok.
4. Tenangkan diri sebelum berkencan
Cobalah emupuk rasa percaya diri sebelum berkencan. Cara termudah yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan meditasi, sehingga ketika kencan bisa lebih tenang buat ngobrol.
5. Jadilah pendengar yang baik
Wajar kalau merasa gugup saat kencan. Mungkin juga ada perasaan cemas dan takut karena udah lama enggak berinteraksi secara langsung. Makanya, biar kencan tetap berjalan lancar, cobalah jadi pendengar yang baik, mengajukan pertanyaan lanjutan, dan menunjukkan ketertarikan.
6. Fokus bersenang-senang
Jangan fokus mencari pasangan secara tepat, tapi fokuslah terlebih dahulu untuk bersenang-senang. Justru orang yang fokus untuk mencapai tujuan akhir mendapatkan pasangan, akan semakin terjerat FODA karena tingkat keberhasilannya belum tentu tinggi. Maka dari itu fokuslah bersenang- senang menjalani proses kencan sehingga bisa lebih terbuka dengan lawan bicara dan menemukan kecocokan dalam percakapan itu.
7. Minta bantuan profesional jika sudah parah
Jika sudah terlalu parah, maka disarankan untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog supaya bisa kembali memulai langkah untuk berinteraksi sosial.