Ini 10 Jenis Depresi yang Perlu Kamu Tahu

Millennialverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Depresi. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Depresi. Foto: Shutter Stock

Salah satu masalah kesehatan mental yang berbahaya dan juga serius adalah depresi. Depresi dapat muncul dengan sendirinya dalam beberapa cara.

Salah satu masalah kesehatan mental yang satu ini pun juga bermacam-macam, ada yang ringan tapi ada juga yang parah hingga berisiko dapat mengancam nyawa.

Dengan memahami jenis-jenis depresi yang dialami dapat membantu penyedia layanan kesehatan untuk menentukan pengobatan. Bagi orang-orang yang didiagnosis depresi, memiliki informasi tentang gangguan spesifik tentu saja dapat bermanfaat.

Di bawah ini ada beberapa jenis depresi yang harus diketahui seperti dikutip dari Healthline.

Depresi Mayor

Ilustrasi depresi. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Jenis depresi yang satu ini merupakan salah satu jenis yang paling umum terdiagnosis. Depresi mayor ini memiliki beberapa gejala yang cukup serius dan berdampak pada kualitas hidup pengidapnya.

Gejala dari depresi mayor mulai dari perasaan sedih, hampa, enggak berharga, putus asa, kehilangan nafsu makan, perubahan kebiasaan tidur, pikiran tentang kematian, hingga bunuh diri.

Gangguan depresi mayor ini memiliki dua subtype, yaitu depresi atipikal dan depresi melankolis. Orang yang termasuk ke dalam depresi atipikal ini cenderung banyak tidur dan juga makan. Mereka secara emosional reaktif dan juga sangat cemas.

Sedangkan, untuk depresi melankolis ini mengalami kesulitan tidur dan cenderung merenungkan pikiran yang dipenuhi oleh rasa bersalah. Orang-orang yang cenderung berada di depresi atipikal adalah dewasa muda, sedangkan tipe melankolis lebih sering terlihat pada orang dewasa yang lebih tua.

Penyebab dari jenis depresi ini belum diketahui pasti, tapi diduga berkaitan dengan faktor genetik, gangguan struktur kimia otak, dan trauma psikologis.

Depresi Treatment Resistant

Ilustrasi Remaja Perempuan Depresi Foto: Shutterstock

Terkadang, orang dengan gangguan depresi mayor enggak segera menanggapi pengobatan depresinya. Agar orang yang didiagnosis dengan depresi yang resisten terhadap obat, maka dia harus melalui dua uji coba farmakoterapi yang gagal.

Membantu orang mengatasi depresi yang resisten terhadap pengobatan dimulai dengan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan diagnosis yang tepat dan mengidentifikasi penyebab dari gejalanya.

Pasien akan diberi konseling tentang dosis dan durasi pengobatan yang tepat. Jika obat enggak bekerja, maka penyedia layanan kesehatan akan mencoba beralih ke obat serupa atau dari kelas yang berbeda. Pasien mungkin akan mendapat manfaat dari menambahkan antidepresan kedua dari kelas yang berbeda dan mungkin jenis obat lain seperti anitpsikotik.

Depresi Subsindrom

Ilustrasi depresi. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Orang yang memiliki gejala tapi enggak memiliki banyak gejala yang masuk ke dalam diagnosis depresi berat maka dapat dianggap sebagai subsindromal. Misalnya, orang tersebut hanya memiliki kurang dari lima gejala atau mengalami depresi kurang dari minimal dua minggu.

Gangguan Depresi Persisten

Ilustrasi wanita depresi. Foto: Thinkstock

Orang dengan gangguan depresi ini sebelumnya dikenal sebagai distimia. Orang-orang dengan gangguan depresi ini memiliki suasana hati yang gelap atau sedih hampir setiap hari dan setidaknya memiliki dua gejala depresi tambahan yang berlangsung selama dua tahun atau lebih.

Pada anak-anak, depresi ini dapat didiagnosis jika gejala cepat marah atau depresi bertahan selama satu tahun atau lebih. Gejala yang dialami di gangguan jenis depresi ini adalah masalah tidur, cepat lelah, tingkat percaya diri yang rendah, nafsu makan yang buruk atau makan berlebihan, konsentrasi yang buruk, hingga kesulitan membuat keputusan.

Biasanya, orang yang mengalami gangguan depresi ini membutuhkan pengobatan antara obat dan psikoterapi.

Depresi Premenstrua (Premenstrual Dysphoric Disorder)

Ilustrasi perempuan sedih Foto: Shutterstock

Depresi yang satu ini merupakan gangguan suasana hati yang cukup serius sehingga bisa mengganggu keseimbangan emosi dan perilaku pengidapnya.

PMDD ini merupakan bentuk PMS yang parah dan dapat memicu depresi, kesedihan, kecemasan, atau lekas marah, hingga gejala ekstrem lainnya pada satu minggu sebelum menstruasi.

Gangguan Bipolar

Ilustrasi Bipolar. Foto: SewCream/Shutterstock

Perubahan suasana hati dan energi yang luas dari kegembiraan hingga keputusasaan adalah tanda-tanda atau gejala depresi pada gangguan bipolar.

Jenis depresi ini ditandai dengan adanya dua suasana hati yang bertolak belakang, yaitu mania dan depresi. Mania ditandai dengan munculnya perilaku atau emosi yang meluap-luap. Sedangkan, depresi ditunjukkan dengan rasa tidak berdaya, putus asa, dan sedih. Kondisi seperti ini dapat membuat pengidapnya mengurung diri di dalam kamar, bicara sangat lambat seolah sedang melantur, dan enggak mau makan.

Postpartum

Ilustrasi perempuan sedih susah move on. Foto: Shutterstock

Jenis depresi yang satu ini biasanya terjadi pada perempuan, beberapa minggu atau bulan setelah melahirkan. Depresi ini kemungkinan dipicu oleh perubahan hormon, kelelahan, dan faktor lainnya.

Tapi, depresi yang satu ini juga bisa terjadi pada pria. Biasanya disebabkan oleh pergeseran peran dan perubahan gaya hidup yang menyertai pola asuh.

Depresi postpartum dapat terjadi kapan saja di tahun pertama setelah kelahiran anak. Meskipun biasanya muncul setelah kelahiran baru. Perasaan sedih, cemas, dan juga kelelahan yang intens dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Ini juga bisa memancing pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi.

Jika dibandingkan dengan baby blues, biasanya depresi postpartum memerlukan pengobatan dengan antidepresan, terapi bicara, atau keduanya.

Gangguan Suasana Hati Musiman (Seasonal Affective Disorder)

Ilustrasi perempuan sedang menghibur pasangannya yang sedih. Foto: ART STOCK CREATIVE/Shutterstock

Jenis depresi ini berkaitan dengan musim. Tepatnya pada perubahan waktu di musim dingin atau musim hujan yang cenderung lebih pendek dan sangat sedikit sinar matahari. Biasanya, jenis depresi ini akan membaik dengan sendirinya saat cuaca sudah lebih cerah dan juga hangat.

Orang dengan depresi ini mungkin akan makan berlebihan, tidur berlebihan, menginginkan karbohidrat, menambah berat badan, atau menarik diri dari interaksi sosial.

Depresi Psikotik

Ilustrasi depresi. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Orang dengan depresi psikotik akan mengalami depresi berat disertai psikosis yang didefinisikan sebagai kehilangan kontak dengan kenyataan. Gejala yang dialami biasanya termasuk halusinasi (melihat atau mendengar hal-hal yang enggak benar-benar ada) dan juga delusi (keyakinan salah tentang apa yang terjadi).

Depresi karena Penyakit

Ilustrasi sakit, nyeri atau kram perut. Foto: bluedog studio/Shutterstock

Saat mengatasi penyakit kronis yang serius seperti jantung, kanker, dan HIV/AIDS bisa membuat depresi. Sebuah penelitian menemukan bahwa pasien yang telah didiagnosis dengan penyakit kronis lebih rentan terhadap depresi.

-----------------------------

Anda bisa mencari bantuan jika mengetahui ada sahabat atau kerabat, termasuk diri anda sendiri, yang memiliki kecenderungan bunuh diri.

Informasi terkait depresi dan isu kesehatan mental bisa diperoleh dengan menghubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas dan Rumah Sakit terdekat, atau mengontak sejumlah komunitas untuk mendapat pendampingan seperti LSM Jangan Bunuh Diri via email janganbunuhdiri@yahoo.com dan saluran telepon (021) 9696 9293, dan Yayasan Pulih di (021) 78842580.

Laporan Afifa Inak