Istilah Musik 'Indie' yang Sudah Tidak Relevan

Geliat musisi tanah air yang mulai meninggalkan perusahaan rekaman besar (major label) dan membuat produksi secara independen, membuat istilah musik indie saat ini menjadi kurang relevan untuk diperbincangakan.
Sebab, jika dulu istilah tersebut merujuk pada pergerakan bawah tanah (underground), sekelompok orang dalam menyuarakan idealisme bermusik, kini hal tersebut hampir bisa dibilang lumrah untuk dilakukan oleh semua jenis musisi.
Dihubungi kumparan (kumparan.com) pada Jumat pagi (24/11), Adib Hidayat, seorang pengamat sekaligus pemimpin redaksi majalah musik Rolling Stone Indonesia, turut mengamini perubahan tersebut.
Menurut dia, batasan yang dulu terdapat di antara musik arus utama (mainstream) dan indie kini sudah melebur. Sehingga, pembicaraan mengenai istilah indie itu sendiri menjadi kurang relevan lagi untuk dibicarakan.
“Kalau bicara saat ini, indie itu spirit. Semuanya dilakukan secara independen. Cuma, menurut saya bahasan itu sudah tidak relevan lagi saat semua (kalangan musisi) sudah bisa melakukan sendiri. Jadi, batasan antara indie dan mainstream sudah melebur sekarang,” ucap Adib.
Adib menambahkan, anak-anak saat ini justru cenderung akan merasa malas bila harus mendefinisikan musik mereka sebagai ‘indie.’ Sebab, pada dasarnya semua pelaku musik di masa sekarang sudah mulai memproduksi karya mereka secara independen.

“Anak-anak sekarang malah sudah tidak mau membahas itu. Jadi, mereka sudah tidak mau bilang 'ah gue mah indie', itu malah ditertawakan, karena semua sudah bisa dilakukan sendiri, which is independent. Tapi, sudah tidak perlu dibahas,” tambah dia.
Ia juga menjelaskan, dengan adanya situasi yang seperti sekarang, mereka yang dulu mendefinisikan diri sebagai musisi indie, justru merasa tidak lagi terwakilkan oleh terminologi tersebut.
Menurutnya, saat ini bentuk kompetisi antar musisi yang ada adalah bukan lagi persoalan jenis musik apa yang ia tawarkan, melainkan bentuk promosi dan kreasi yang jauh lebih dinamis.

“Saat ini adalah saat yang paling dinamis untuk musik Indonesia. Dengan berbagai cara promosi dan berkreasi yang lebih gila, mau lewat record company, independen, maupun gratisan, mereka berlomba adu ide imajinasi untuk membuat band-band mereka berhasil,” jelas Adib.
Perubahan semacam itu, menurut Adib, salah satunya disebabkan oleh kemunculan produk musik digital yang membuat pola konsumsi para pendengar menjadi instan dan harus tersedia dengan cepat. Sehingga, membuat karya yang didengarkan tidak membekas.
“Semuanya sekarang serba instan, serba cepat, maunya harus selalu ada. Seperti membeli online. Kalau kamu kontak yang jual ternyata tidak ada, ya sudah kamu tinggalkan,” jelas dia.
“Kalau dulu, dibuka artworknya, dibaca siapa yang nulis lirik, lalu diputar di perangkat fisik di rumah. Jadi sangat membekas. Kalau sekarang tidak seperti itu, semuanya memilih playlist yang merepresentasikan diri mereka,” tambah Adib.
