Pengamat Pendidikan: Tidak Naik Kelas Bukan Akhir dari Segalanya

Millennialverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi siswa Gonzaga. Foto: Instagram/@instagonzaga
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswa Gonzaga. Foto: Instagram/@instagonzaga

Seorang mantan siswa SMA Kolese Gonzaga, berinisial BB, tidak naik ke kelas XII karena masalah perilaku. Ia ketahuan makan di kelas dan merokok saat kegiatan sekolah.

Mantan siswa SMA Kolese Gonzaga tersebut juga tidak lulus di salah satu mata pelajaran. Wali muridnya, Yustina Supatmi, menggugat pihak sekolah dan Dinas Pendidikan DKI atas hal ini.

Terkait hal ini, sebenarnya ada beberapa hal yang bisa dilakukan seorang pelajar kalau tidak naik kelas. Sebab, tidak naik kelas bukan akhir dari segalanya.

"Tidak naik kelas memang bukan akhir dari segalanya. Jangan dianggap beban karena itu konsekuensi dari perbuatan sendiri. Berani berbuat, harus berani menanggung akibat," kata Pemerhati Pendidikan, Ina Liem, saat dihubungi kumparan, Kamis (31/10).

Ina mengatakan, seorang pelajar yang tidak naik kelas, bisa memperbaiki dirinya jika masih mau menimba ilmu di sekolah yang sama. Mulai dari memperbaiki perilaku, sampai akademis.

"Itu artinya perlu dididik lebih lama, terutama karakternya karena belum siap untuk 'terjun di masyarakat'. Pendidikan dasar dan menengah itu, inti utamanya, kan, pendidikan karakter," lanjut dia.

Sementara itu, wali murid BB, Yustina, melayangkan gugatan ke PN Jakarta Selatan karena keputusan sekolah tidak menaikkan BB dinilai cacat hukum.

Misalnya, BB tidak naik kelas karena tidak lulus di salah satu mata pelajaran. Padahal sesuai Pasal 10 Permendikbud Nomor 53 tahun 2015, siswa dinyatakan tidak naik kelas jika tidak lulus di tiga mata pelajaran.

Dalam gugatannya, Yustina meminta pihak sekolah membayar ganti rugi senilai ratusan juta rupiah hingga sekolah disita.

embed from external kumparan