Pesan Hannah Al Rashid buat Korban Kekerasan dalam Pacaran

Millennialverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hannah Al Rashid Foto: Adinda Githa Murti Sari Dewi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Hannah Al Rashid Foto: Adinda Githa Murti Sari Dewi/kumparan

Hannah Al Rashid menjadi salah satu pembicara dalam diskusi 'Kekerasan dalam Pacaran', yang digelar oleh UN Women Indonesia di Institut Français d'Indonésie (IFI), belum lama ini.

Diskusi ini diawali dengan nonton bareng film 'Posesif' yang menceritakan kekerasan dalam pacaran. Aktris yang berperan di film 'Ratu Ilmu Hitam' itu mengaku pernah menjadi korban dari pacaran enggak sehat alias toxic relationship.

"Saat nonton film 'Posesif', udah banyak trigger buat saya sebenarnya. Saat Yudhis menempeleng kepala Lala, dimarah-marahin karena enggak angkat telepon, saya udah mengalami itu semua," ungkap dia.

Karena merasa relate dengan kasus ini, Hannah merasa perlu untuk membicarakan isu tersebut. Dia juga punya pesan buat para korban kekerasan dalam pacaran.

"Salah satu hal yang paling penting adalah memulai pembicaraan soal ini. Kita juga harus sampaikan kepada korban kekerasan dalam pacaran, kalau lo enggak sendiri," ucapnya.

Diskusi 'Kekerasan dalam Pacaran' bersama Anindya Restuviani (kiri), Hannah Al Rashid (tengah), dan Edwin (kanan) dok Aulania Silviananda

Diskusi 'Kekerasan dalam Pacaran' ini merupakan bagian dari peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP) yang diadakan oleh UN Women Indonesia.

Ada sejumlah rangkaian acara seperti konser musik, nonton film bareng, dan diskusi yang diselenggarakan sejak Senin (25/11) sampai Selasa (10/12).

“Rangkaian acara selama 16 hari ini penting untuk perlahan mengubah norma sosial yang diskriminatif di sekitar kita. Jadi, mulai bicara, berdiri dalam solidaritas bersama penyintas, dan bersatu untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan,” ujar Ryce Chanchai selaku Programme Specialist, United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN-Women), di kesempatan yang sama.

Ryce Chanchai di diskusi 'Kekerasan dalam Pacaran' dok Aulania Silviananda

Dalam kampanye tersebut, UN Women juga membawa tagar 'HearMeToo' untuk mengajak masyarakat dan korban agar berani bersuara, demi menghentikan tindakan kekerasan terhadap perempuan.

Warna oranye juga dipilih sesuai dengan tema 'Orange The World: End Violence Against Women and Girls' yang ditentukan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Warna ini mewakilkan masa depan yang cerah tanpa kekerasan. Oranye juga menjadi tanda solidaritas untuk menghapuskan segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan dalam pacaran.

Reporter: Aulania Silviananda