Review Film Moxie: Mampu Ajarkan Feminisme ke Anak Muda meski Ceritanya Nanggung

Moxie jadi salah satu film terbaru dari Netflix yang dirilis pada awal Maret 2021. Film ini disutradarai oleh aktris dan komedian Amy Poehler.
Film berfokus kepada pelajar SMA Rockport High bernama Vivian (Hadley Robinson) yang menjadi sosok pelajar under the radar. Dia juga cuma punya satu sahabat dekat yaitu Claudia (Lauren Tsai), anak perempuan keturunan Asia.
Konflik mulai muncul saat Vivian harus mengisi formulir aplikasi pendaftaran kuliah. Saking biasanya hidup dia, Vivian enggak tahu bagaimana mengisi surat lamaran itu.
Sampai dia menyaksikan anak baru Lucy (Alycia Pascual-Peña) di-bully oleh kapten football Mitchell Wilson (Patrick Schwarzenegger).
Kejadian itu membuatnya bingung dengan ketidakadilan gender yang terlihat jelas di depan matanya. Dia lantas bertanya kepada ibunya yang diperankan oleh Poehler, dan mengetahui bahwa dulunya sang ibu pernah membuat gerakan feminis di sekolah.
Akhirnya Vivian mendapat ide untuk memulai zine feminis bernama Moxie.
Karakter Pendukung yang Justru Lebih Menarik
Lewat Moxie, Poehler berupaya mengenalkan feminisme kepada generasi Z. Sayangnya meski niatnya mulia, film yang sebenarnya diadaptasi dari novel karya Jennifer Mathieu (2015) itu terasa nanggung.
Vivian sebagai tokoh utama juga kalah menarik dibandingkan karakter-karakter pendukungnya.
Untuk ukuran pimpinan pemberontak, sosok Vivian terlalu biasa saja bahkan enggak terasa otentik. Kemarahannya yang harusnya meluap-luap melihat ketidakadilan di depan matanya justru enggak keluar.
Sepanjang film, sosok Vivian terasa hambar. Nyatanya, alih-alih menyerap isu-isu terkini soal feminisme dari teman-temannya di sekolah, dia sibuk mengulik majalah-majalah selebaran dari koper tua milik ibunya yang tukang protes lebih dari tiga dekade sebelum dia lahir.
Justru Lucy yang sepertinya lebih layak dikisahkan di film. Cewek keturunan Afrika-Amerika itu sempat ditegur oleh Vivian supaya mengabaikan perilaku bullying Wilson, namun dengan tegas dia menolak dan tetap akan melawan.
Selain Lucy, ada CJ (Josie Totah) si anak perempuan transgender yang enggak diakui di sekolah karena orang-orang masih suka memanggil dia dengan nama lamanya.
Ada gadis di kursi roda (Emily Hopper) yang meski punya banyak keterbatasan dan tetap berani bersuara.
Ada pula Kaytlinn Price (Sabrina Haskett) yang didiskriminasi karena dadanya besar. Dia dipulangkan oleh kepala sekolah hanya gara-gara dilarang memakai tank top dan dinilai terlalu vulgar karena dadanya tampak lebih besar dibanding anak lain.
Dua karakter lainnya yang menarik adalah Kiera (Sydney Park) dan Amaya (Anjelika Washington) yang meski berprestasi sebagai atlet, namun tetap enggak diakui.
Sayangnya, kisah-kisah mereka cuma jadi catatan kaki untuk membantu membangun karakter Vivian yang biasa saja.
Jadi Penanda Jenis Film Remaja yang Baru
Poehler tampaknya terlalu berambisi untuk membahas topik-topik berat namun dengan cara yang ringan. Sebab hasilnya cerita jadi ambyar.
Bahkan sampai akhir cerita, perkara Vivian mengisi aplikasi kuliah enggak lagi disinggung.
Meski begitu, film ini memang menghibur dan enak ditonton. Namun jangan berharap berlebihan karena enggak bisa membuat tertawa terpingkal-pingkal, atau merenung hingga baper karena kurang cocok dibilang sebagai film romantis.
Gimana pun, Moxie punya potensi jadi jenis film remaja baru yang menampilkan generasi Z saat ini lebih peka terhadap berbagai isu dan berani membuat perubahan.
