Sisi Buruk Multitasking: Kelelahan sampai Bisa Turunkan IQ

Millennialverified-green

ยทwaktu baca 1 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
com-Ilustrasi multitasking. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi multitasking. Foto: Shutterstock

Bagi sebagian orang, multitasking alias mengerjakan beberapa aktivitas atau pekerjaan sekaligus dalam waktu bersamaan, punya keuntungan. Salah satunya mempercepat selesainya tugas.

Emang, sih, pekerjaan jadi terasa lebih cepat selesai dalam waktu singkat. Apalagi milenial pengin selalu produktif dan bisa mengerjakan banyak hal.

Tapi di sisi lain, multitasking juga berdampak buruk, lho.

Psikolog klinis dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Pritta Tyas Mangestuti bilang, multitasking bisa sangat menghabiskan energi sehingga menyebabkan kelelahan.

"Bahkan bisa menurunkan IQ kalau terlalu sering multitasking," kata dia, seperti dilansir Antara.

embed from external kumparan
embed from external kumparan

Dampak buruk multitasking sudah diperlihatkan berbagai studi

Studi pada 2008 yang dilakukan peneliti dari University of Utah, Amerika Serikat menemukan, seseorang mungkin perlu waktu lebih lama untuk menyelesaikan dua tugas sekaligus ketimbang mengerjakannya secara terpisah.

Studi dari University of California Irvine juga menunjukkan adanya hubungan antara stres dan multitasking.

embed from external kumparan

Studi pada 2009 dari Western Washington University menemukan, multitasking berisiko membuat seseorang kehilangan sesuatu karena enggak sepenuhnya fokus.

Para peneliti menyebut ini sebagai kebutaan yang enggak disengaja. Sebab meski bisa melihat sekitrnya, tapi enggak ada yang benar-benar terekam di otak.

embed from external kumparan

Hal lain yang enggak kalah penting, saat melakukan dua hal sekaligus misalnya membaca buku diselingi menonton televisi, seseorang akan kehilangan detail penting dari salah satu atau keduanya.

Menyela satu tugas untuk tiba-tiba fokus pada yang lain saat multitasking, juga cukup untuk mengganggu memori jangka pendek.