Aku Lupa Menulis

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aku Lupa Menulis
Aku lupa menulis rasa syukur
Aku lupa menulis rasa cinta kepada keluarga
Aku lupa menulis rasa peduli ke tetangga
Dan,
Aku lupa menulis rasa terima kasih ke Semesta
Sudah dua bulan saya absen menulis, melupakan semua detail kecil dalam hidup yang seharusnya diawetkan dalam setiap barisan kata-kata. Saya tenggelam dalam rutinitas yang tak berujung, menjadi manusia mekanik.
Bangun tidur, cemas, mandi lalu berangkat ke kantor, cemas, pulang ke kos, cemas, ngopi malam hari kemudian memelihara setiap kekhawatiran-kekhawatiran dalam batin. Entahlah.
Pun membaca, seingat saya, buku terakhir yang saya tuntaskan novelnya Maxim Gorky, judulnya Pecundang. Meskipun tidak kontekstual dengan apa yang sedang saya alami, namun rasanya saya benar-benar menjadi pencundang, melupakan kebahagiaan kecil seperti membaca lalu menulis, meski hanya sebaris bait diary.
Mahatma Gandhi dalam autobiografinya menuliskan bahwa saya tidak terlalu pandai berbicara sehingga saya menulis.
Tidak, saya tidak sedang ingin mengamini diri sebagai seorang yang tidak jago dalam public speaking namun saya menyadari bahwa menulis merupakan salah satu cara saya meredam segala gejolak yang memaksa keluar dari dalam diri.
Maka tidak menulis selama dua bulan merupakan dosa terbesar pada diri sendiri.
Jika Pramudya mengatakan bahwa menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah, tapi saya rasa tidak perlu untuk memikirkan bagaimana kekal dalam sejarah. Saya hanya ingin menjalani hari-hari menyenangkan membunuh waktu dengan membaca dan menulis, apa saja.
AI dengan segala macam jenis, memang datang menantang kita bagi yang suka menulis karena dengan hadirnya aneka jenis AI, menulis seakan tidak ada nilainya. Namun percayalah, menulis tetap memiliki tempat di ruang kosong manusia modern yang tidak bisa digantikan oleh AI, secanggih apa pun dia mampu mengenerate tulisan.
Saya akan menulis lagi, mulai kembali memperhatikan setiap hal-hal remeh kehidupan yang saya sedang jalani, atau yang saya jumpai dalam setiap perjalanan saya, kemudian mengekalkan dalam barisan kata-kata.
Mungkin pada akhirnya tidak berujung pada sebuah karya namun minimal mampu menjadi pelipur lara di kalah setiap kecemasan menghampiri.
Saya akui begitu banyak hal-hal yang membuat saya cemas, menjadikan hidup semakin tidak menyenangkan dijalani, tetapi mungkin saja menulis bisa menjadi saluran untuk mengabarkan kepada dunia bahwa kita masih eksis dan tidak sedang merasa kalah pada kehidupan.
Pada hari-hari seperti ini, saya menyelami kembali setiap tulisan Albert Camus, tentang bagaimana dia mengajarkan kita untuk tetap riang gembiri menjalani hidup meski sudah paham bahwa tidak ada makna dalam setiap kehidupan yang dijalani. Alih-alih memikirkan makna dari kehidupan ini, lebih baik menikmati secangkir kopi di kafe sudut kota.
Tentu ada juga Byung-Chul Han dengan tulisan-tulisan rekflektifnya yang mampu menuntun kita memahami kehidupan yang sedang dijalani.
Dalam kalimat pembuka di bukunya The Burnout Society, Han mengingatkan manusia modern bahwa
"Every age has its signature afflictions."
Jadi tidak perlu merasa paling menderita hidup di zaman yang sedang kita jalani karena setiap zaman ada kekhasan penderitaan yang orang-orangnya alami.
Saya membayangkan bagaimana begitu menderitanya orang-orang di masa perang. Hidup dalam setiap ketakutan akan kematian sehingga tidak mampu mengekspresikan segala dayanya sebagai manusia.
Sekian puluh tahun silam ketika saya masih bocah, nenek saya bercerita tentang bagaimana menderitanya masyarakat Indonesia di masa penjajahan Jepang, bahkan hal-hal kecil seperti garam sangat sulit didapatkan.
Maka hidup dan ditakdirkan menjadi manusia modern seharusnya tidak membuat kita begitu menderita. Kita memiliki begitu banyak instrumen untuk menjalani hidup dengan baik-baik saja.
Saya memang sudah memutuskan untuk menjalani hidup dengan membaca dan menulis, tentu tujuannya bukan dianggap sebagai orang sok rajin tetapi ada rasa bahagia yang saya rasakan seperti ketika masih kecil.
Ingatan saya kembali ke masa 30 tahun silam ketika menjalani hari-hari sebagai bocah di kampung. Setiap pulang sekolah, saya harus mengembala Sapi. Bayangkan bagaimana saya tidak menikmati masa kecil dengan bermain karena harus mengembala, namun setiap mengembala, saya selalu membawa novel yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Bahkan samar-samar dalam memori saya ketika berada di punggung Sapi sambil membaca buku.
Rasa nikmat itu yang sedang saya pupuk agar hidup yang sedang saya jalani tidak membosankan.
