Belajar (Lagi) Menjadi Manusia

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada edisi wisuda September 2026, Rektor UIN Makassar, Prof. Hamdan Juhannis memanggil tiga wisudawan naik ke podium. Prof Hamdan mempersilakan ketiga wisudawan untuk memperkenalkan diri. Setelah itu, prof Hamdan bertanya nama kaprodi dan dijawab dengan sangat lancar dan lantang beserta gelarnya. Hal yang menarik ketika para wisudawan ditanya siapa nama Cleaning Service (CS) dan Satpam yang bertugas di prodi masing-masing, termasuk siapa nama penjual nasi goreng langganan mereka.
Tidak ada satupun dari wisudawan yang mengenal nama CS, Satpam, maupun penjual langganan mereka. Bahkan satu dari mereka mencoba membela diri bahwa meskipun tidak kenal nama namun dia sangat ingat wajahnya.
Ironis, entahlah.
Mungkin saya pun demikian, sering mengabaikan orang-orang yang dianggap tidak penting dalam hidup kita padahal paling berjasa. Namun saya mencoba untuk menakar sejauh mana langkah saya menjauh dari koridor kemanusiaan.
Kemarin menjelang maghrib, ada tiga pesan masuk di WA saya, bunyinya sama. Mengabarkan salah seorang Satpam yang jaga di kampus 3 telah berpulang.
Tiga hari sebelumnya, almarhum masih ngobrol panjang dengan saya ketika hendak pulang. Tiba-tiba saja saat di gerbang, dia mengabarkan bahwa salah seorang mantan Satpam di kampus dua sudah meninggal. Saya mengira itu pertanda atau mungkin hanya kebetulan saja, saya tidak suka menerka-nerka hal yang gaib.
Saya lumayan sering berinteraksi dengannya selama enam bulan terakhir. Tentu karena saya seringkali menjadi penghuni terakhir di ruang lantai dua, jadi saban sore jam lima atau jam enam, dia akan mengecek ruangan kami sebelum dibersihkan.
Sekira seminggu sebelumnya, kran kamar mandi di lantai dua rusak karena karatan sehingga tidak bisa ditutup, alhasil almarhum yang menangani sementara dengan menyumbat menggunakan plastik sebelum esok hari dibereskan oleh tukang.
Begitulah orang-orang di sekitar kita bekerja yang seringkali tak terlihat. Mereka bekerja dalam diam dan hanya berharap tetap bertahan, toh masing-masing manusia memiliki naluri bertahan pada setiap hidup yang dijalani.
***
Saya bukan Meursault yang tidak punya rasa sedih ketika ditinggal mati ibunya, atau tidak menunjukkan ekspresi ketakukan ketika dihukum mati, pun tidak merasa patah hati harus berpisah dengan Marie.
Namun mendengar orang yang sering saya jumpai menemui ajalnya, tetap saja ada rasa sedih, atau mungkin penyesalan karena tidak berbuat lebih banyak kebaikan.
Emosi pada makhluk adalah lumrah namun berbeda dengan manusia. Emosi diartikulasikan dalam banyak hal bahkan dalam waktu yang sangat lama.
Itulah hukuman bagi makhluk bernama manusia karena diberikan kesadaran atas dirinya. Manusia memikirkan semuanya, tentang hidup dalam keruwetannya, meromantisasi masa lalu dan mencemaskan masa depan. Kesadaran akan dirinya menjadi belenggu untuk menjalani hidup yang biasa-biasa saja seperti pada umumnya makhluk lain.
Benarlah apa yang ditulis Pramudya dalam Magnum opusnya, Tetralogi Pulau Buru:
Hidup sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirannya.
Coba refleksikan dengan sangat mendalam tentang kehidupan kita, pisahkan antara kebutuhan dan keinginan, pilah atribusi diri dan hakikat diri kita.
Misalnya profesi sebagai dosen, mahasiswa, wakil presiden, dan sebagainya hanyalah artibusi yang kapan saja bisa berganti, sementara nilai kemanusiaan yang melekat pada diri.
Jika kita sudah mengklasterisasikan semuanya maka kita akan menemui makna hidup yang memang sungguh sangat sederhana.
Gengsi, ego, perasaan sok, dan berbagai insting hewani yang tidak mampu dinetralisir, pada akhirnya membuat hidup manusia menjadi sungguh sangat kompleks dan terkesan berat.
Pertanyaannya, ketika kita menyadari bahwa pada saatnya nanti, kita pun akan tiba pada titik akhir maka apa yang harus kita usahakan?
***
Sebenarnya menarik merefleksikan lebih mendalam pertanyaan retoris prof Hamdan kepada tiga wisudawan sebagaimana yang saya tuliskan di awal. Tentang orang-orang terpinggirkan yang sering tidak dianggap hadir, padahal mungkin lebih berjasa dalam hidup kita.
Pada 3 ayat pertama al Ma'un membahas tentang orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan fakir miskin dianggap mendustakan agama.
Bagi mereka yang aktif di persyarikatan, maka ayat ini sangat populer dikaji. Bahkan konon kabarnya, KH Ahmad Dahlan mengkaji dan mengajarkan Surat Al-Ma'un secara berulang-ulang selama berhari-hari hingga 3 (tiga) bulan lamanya kepada para muridnya.
Atau salah satu perspektif kritis ekonomi politik membahas lebih detail tentang kelompok proletar, kaum termarjinalkan yang hanya memiliki tenaga untuk dijual ke pemilik modal dan dibayar dengan sangat tidak manusiawi.
Manusia begitu rapuh dan ringkih makanya untuk mempertahankan eksistensinya, mereka saling memerlukan dalam kehidupan ini. Itulah kenapa manusia disebut sebagai makhluk sosial. Maka aneh rasanya jika ada manusia yang merasa paling berjasa dibanding manusia lain sementara semua punya porsi masing-masing.
***
Dulu waktu masih di kampung, saya mengembala Sapi. Saya sangat sering menyaksikan Sapi melahirkan. Sesaat lahiran, saya diajarkan oleh bapak supaya kuku tipis nan halus pada Sapi dicopot agar cepat berjalan. Hanya butuh sekian jam, anak Sapi yang baru lahir sudah bisa berdiri.
Bandingkan dengan makhluk bernama manusia. Sejak di dalam kandungan kemudian dilahirkan, berapa banyak orang yang disusahkan untuk mengurusnya, bahkan butuh beberapa bulan sebelum bisa berdiri lalu berjalan.
Demikianlah kita diajarkan untuk merefleksikan bahwa sebenarnya manusia adalah selemah-lemahnya makhluk.
Sejarah manusia pun sejarah yang masih sangat baru dibandingkan sejarah makhluk lain. Asal usul manusia yang populer dikenal dengan Teori Out of Africa yang menyatakan bahwa Homo sapiens berasal dari sebuah wilayah di Afrika kemudian pada akhirnya untuk menjaga habitatnya, manusia bermigrasi ke seluruh dunia. Waktunya pun baru terjadi antara 100.000 hingga 200.000 tahun yang lalu.
Anggaplah itu benar artinya genealogi kita berasal dari ras yang satu maka variabel lain seperti cuaca, kemampuan adaptasi dan faktor lain yang kemudian membentuk manusia beragam.
Maka biasa saja dalam hidup ini, tidak perlu merasa lebih jago dari yang lain.
Saya selalu merasa heran pada manusia yang selalu ingin menjadi pusat semesta, siapapun. Padahal ketika mati, paling lama mereka dikenang beberapa hari kemudian dilupakan. Hidup akan terus berlalu tanpa memikirkan hanya satu manusia.
Kemudian kenapa peradaban manusia menjadi peradaban yang anomali, menganggap sebagian lebih superior dari manusia lain.
Entahlah...!
Carilah makna dalam hidup masing-masing untuk menjalani hari-hari agar memiliki tujuan yang jelas. Orang Jepang mengenal istilah Ikigai atau bagi orang beragama punya panduan dalam kitab suci yang diyakininya.
Maka waktunya untuk belajar lagi menjadi manusia.
