Braga Kehilangan Kirana (5)

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seperti dugaanku, setelah aku menceritakan kisah kita pada tragedi saat kau hampir tak tertolong di kampus Unisba September silam, banyak yang mengira aku mengarang cerita bebas, meromantisasi tragedi-tragedi sosial. Mereka mengira aku sejahat itu.
Namun seperti pada apa yang kita yakini bahwa tidak perlu menjelaskan siapa dirimu kepada orang lain, sebagaimana kutipan dari Ali bin Abi Thalib;
"Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu."
Aku suka sekali menulis kutipan hikmah dari beberapa tokoh Pemikir, dan kau tahu itu. Suatu waktu, kau pernah protes kenapa sih harus memvalidasi tulisan sendiri dengan kutipan dari orang lain, pun dari para tokoh besar.
Aku percaya bahwa setiap apa yang kita pikirkan saat ini, sebetulnya sudah terpikirkan bahkan mayoritas sudah ditulis oleh tokoh-tokoh terdahulu, hanya saja konteksnya yang mungkin berbeda. Tidak ada yang benar-benar orisinal dari buah pemikiran kita jika saja kita mau sedikit berkeringat untuk mencari referensinya.
Pun kalau aku menulis kutipan, ada yang kubaca langsung dari tulisan tokoh tersebut namun ada juga yang kuperoleh dari kutipan dalam kutipan atau juga kumpulan tulisan kutipan para Pemikir dunia yang dibukukan.
Salah satu kutipan yang cukup populer sering kubaca dan kudengar di setiap diskusi dua puluh tahun silam ketika masih kuliah. Kutipan dari tokoh yang sering disalahpahami, Friedrich Nietzsche;
"What doesn't kill me, makes me stronger"
Kutipan itu ditulis dalam "Twilight of the Idols," pada bagian Maxims and Missiles. Kumpulan aforisma pendek yang menggugat kemapanan nilai dan normal. Kau tahu, dia yang sering dianggap telah membunuh tuhan melalui tulisan-tulisannya.
Aku masih ingat tahun lalu ketika aku meminjamkan beberapa buku untuk kau baca. Responsmu sebagaimana orang pada umumnya, kau tidak mau membaca buku-buku yang dianggap sebagai pemikiran sesat. Dua dari sekian tokoh yang sangat kau hindari bukunya, Nietzsche juga Karl Marx.
Tentu tidak mengherankan karena kau dibesarkan dari tradisi keluarga yang menjalankan ritual keagamaan dengan cukup rajin. Maka apa yang ada di pikiranmu tentang Nietzsche dan Marx adalah mereka tokoh ateisme.
Nietzsche dengan stereotypenya "tuhan telah mati" sementara Marx dengan pernyataannya "Religion is the opium of the people." Kutipan yang sebenarnya tidak seperti pada arti harfiahnya.
Itu dulu, namun sekarang kau begitu lahap dengan ide-ide mereka yang menemukan relevansinya dalam hidupmu. Meruntuhkan segala hal yang dulunya kau anggap sesuatu yang given. Bahkan kau pernah jujur kepadaku bahkan kau sudah lupa kapan terakhir merasakan nikmatnya sujud di sajadah.
Begitulah alasanku menyukai menambahkan kutipan pada setiap tulisanku. Aku menulis kutipan-kutipan untuk mengingatkanmu pada kejadian sebelumnya yang kau alami. Pada setiap fase kehidupan yang kita lalui, selalu ada tantangannya yang hampir saja menghancurkan kita namun setiap kita bangkit dan melanjutkan perjalanan maka kita akan semakin kuat.
Kau hampir tewas dan tidak meninggalkan apa-apa selalu tragedi bahkan orang-orang mungkin akan melupakanmu seminggu setelah kau dikubur, namun ternyata kau selamat, maka di momen ini jika kau tetap bergerak maka kau semakin perkasa, bukan fisikmu namun pikiran dan karaktermu.
Ruang Tunggu Stasiun Kiaracondong, 21:10 WIB
Kirana,
Kau asik duduk di ruang tunggu tepat di depan loket check in counter, sambil membuka lembar demi lembar novel Dostoevksy, "Notes from the Underground."
Novel yang membantu menemukan dirimu tentang bagaimana pentingnya jujur pada diri sendiri. Diksi demi diksi kau lahap dan membuatmu sejenak tidak menyadari apa yang ada di ruang tunggu stasiun.
Ada seorang gadis kecil umur tujuh tahun yang sedari tadi berlari di depanmu namun sama sekali kau tidak menyadarinya. Ada bapak paruh baya yang sedang asik menelepon istrinya menanyakan keadaan rumahnya, mungkin mereka hidup terpisah jarak.
Kau tiba pada bab 7 dengan kutipan yang bernas,
"Orang-orang paling beradablah yang menjadi pembantai paling licik. Peradaban telah membuat manusia, kalau tidak lebih haus darah, paling tidak lebih keji, lebih dahaga secara menjijikkan."
Kirana,
Kau mengamini hal di atas ketika merasakan sendiri bagaimana kerusakan yang disebabkan bukan oleh rakyat kecil tetapi mereka yang mendaku diri sebagai orang terpelajar, gelar akademik sekian tingkat, dan tentu jabatan publik yang mentereng. Manusia lupa pada akarnya yang tidak punya dan tidak bisa apa-apa.
Manusia memang makhluk paling pelupa. Sebesar apapun tragedi yang mereka alami, maka hanya membutuhkan sekian waktu untuk melupakan semuanya. Tidak hanya pada kejadian-kejadian pribadi tetapi juga tragedi kemanusiaan besar yang mereka ciptakan sendiri.
Ketika seseorang ditinggalkan oleh orang yang dia cintai, berapa lama dia akan bersedih. Mungkin seminggu, sebulan, atau paling lama setahun kemudian dia akan lupa dan hanya ingat sesekali pada momen tertentu, misalnya pada menjelang ziarah kubur. Kesedihan akan dihapus oleh waktu.
Atau pada tragedi kemanusiaan. Sekian kali terjadi perang yang menghancurkan kemanusiaan tidak hanya fisik tetapi juga moralitas, tetapi setelah itu, kita tahu bahwa ancaman perang selalu saja menghantui peradaban manusia. Ah manusia memang makhluk brengsek.
Itulah kenapa kesadaran eksistensial pada manusia dianggap sebagai bencana kemanusiaan itu sendiri. Semakin kita sadar akan diri kita dan eksistensi kita di dunia ini, semakin sering pula manusia merasa harus terus menciptakan peradaban yang lebih maju Paradoksnya, kemajuan peradaban malah menjadi bumerang. Itulah mungkin relevansi yang ingin disampaikan Dostoevsky.
Kepalamu semakin pening dan berputar-putar. Dunia ideal yang kau bayangkan semakin redup dengan realitas yang kau temui di setiap fase kehidupanmu. Kau ingin berontak minimal untuk menegaskan dirimu bahwa kau manusia yang punya prinsip, bukan manusia yang terjebak dalam kesadaran palsu.
Tiket KA Kahuripan 274, EKO-5/12A
22:30
Suara Train Attendant membuyarkan pikiranmu yang sedang berkelana ke dunia lain, pada ruang dan waktu yang ideal. Suara seorang Prami yang menginformasikan bahwa kereta KA Kahuripan sebentar lagi akan berangkat dari Kiaracondong ke Lempuyangan.
Kau bergegas menyiapkan tiketmu dan kartu identitas. Segelas kopi Americano belum jua habis dan kau bawa serta masuk ke kereta. Hanya satu ransel yang memuat beberapa potong baju dan buku yang kau susun dengan rapi.
Kau menuju gerbong 5 nomor kursi 12A tepat di samping jendela. Aku tahu bahwa kau tidak akan pernah mau berangkat dengan kereta jika tidak duduk di samping jendela. Alasannya sederhana, kau bisa membaca buku sepanjang perjalanan sambil memandangi hamparan sawah.
Ada sepasang kakek nenek tepat di depan kursimu. Mereka berjalan sambil berpegangan tangan. Kau menebak mungkin umur mereka sekitar 70 tahun. Mereka senyum tepat ketika menoleh ke arahmu, senyuman tulus.
Kau membayangkan, sekian tahun keduanya menghabiskan waktu bersama, bertengkar, berdamai, bahagia, sedih, dan tentu sudah tidak terkira sekiah kali permintaan maaf yang harus diterima atau kesalahan yang diikhlaskan. Kau mendoakan mereka dalam hati sebagai bentuk kebahagiaan melihat kehidupan manusia yang bisa bersama setua mereka.
Sesaat sebelum kereta berangkat, kau membuka aplikasi WA lalu mencari daftar nama huruf M, kemudian mengirimkan pesan singkat,
"Aku pamit berangkat ke Yogyakarta, kota yang mungkin akan menawarkan dunia lain untuk menempa diriku menjadi lebih kuat. Sampaikan salamku pada bangku Braga yang sekian lama menjadi saksi bisu setiap pelukan dan kecupan yang kau hadiahkan untukku."
"Sampai jumpa atau selamat tinggal, entahlah," Pungkasmu sambil membuka kembali novel Dostoevksy pada halaman yang kau lipat tadi di ryuang tunggu sebagai penanda halaman terakhir yang kau baca.
Aku membuka pesan WA dengan perasaan hampa, bahkan aku tidak mampu memahami apa yang sedang aku rasakan saat membaca pesanmu; Marah, sedih, kecewa, bahagia, atau apapun itu, kau sedang mencari dirimu yang hilang. Aku membalas singkat pesan WA mu,
"Untuk kesekian kalinya, kita dihukum jarak dan waktu, mungkin sebagai pelipur pada dosa-dosa masa lalu kita."
Kau meninggalkan kepingan kenangan di bangku Braga.
