Konten dari Pengguna

Catatan Orang Kalah #6

Minhaj

Minhaj

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Screenshot dari SMUP. Photo: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Screenshot dari SMUP. Photo: Dokumentasi Pribadi

Cara ampuh menjalani hidup adalah dengan memiliki berkali lipat kemampuan menghadapi kegagalan. Saya sadar bahwa hidup merupakan rangkaian cerita kegagalan demi kegagalan maka salah satu cara paling penting untuk menjaga eksistensi adalah mampu mengatasi kegagalan.

Dua bulan silam, saya mencoba mendaftar studi lanjut dengan berbagai ekspektasi di kepala, meski saya juga sadar bahwa segenap hidup saya seringkali menemukan kegagalan, maka saya mencoba untuk tetap menakar rasa optimis.

Benar saja, setelah menjalani serangkaian tes yang cukup menguras energi maka tibalah hari pengumuman di laman pendaftaran. Saya login dengan perasaan yang lumayan data, sepersekian detik kemudian, saya membaca tulisan yang dibold;

"tidak lulus."

Ini adalah kesekian kali kegagalan yang saya temui dalam hidup. Saya tidak mampu lagi mengingat secara pasti namun rasanya masih tetap sama, merasa paling tidak beruntung dan menjadi manusia pecundang. Naluriah bagi manusia yang sedang gagal.

Di setiap ajaran entah agama atau ajaran kehidupan lain, kegagalan harus dimaknai sebagai sebuah peristiwa yang membawa hikmah tersendiri, bahwa ketika gagal artinya hal itu yang terbaik bagi kita. Rahasia kehidupan yang samar hanya bisa dipahami melalui hati tidak dengan logika.

Tentu, sebagai orang yang masih tetap memegang ajaran agama yang diyakini, saya juga mempercayai bahwa gagal bukan berarti sesuatu yang buruk bahkan sebaliknya, terkadang akan membawa kita kepada kondisi yang lebih baik. Namun saya juga tidak naif bahwa setiap kali gagal meraih apa yang diinginkan, ada rasa sedih, kecewa, dan berbagai energi negatif yang otomatif muncul dari dalam.

Memang "kegagalan" hanyalah konsep rekaan dari manusia yang menganggap bahwa jika merencanakan A tetapi yang diperoleh B, maka dianggap sedang sial padahal hidup tidak selalu berjalan linear.

Contohnya, ada dua orang yang sedang berlaga di final olahraga. Keduanya pasti merencanakan untuk keluar sebagai pemenang tetapi mereka juga yakin bahwa mustahil keduanya menjadi yang terbaik karena dengan menjadi pemenang maka yang lainnya harus kalah.

Hal yang bisa mereka lakukan adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk mengalahkan lawannya, jika toh pada akhirnya harus kalah maka mereka memaknai bahwa proses yang dijalani oleh lawannya jauh lebih keras daripada yang dia jalani, meski tentunya juga bahwa usaha bukan satu-satunya variabel penentu dalam hal ini.

Hidup juga tentang keberuntungan. Di umur paruh baya seperti sekarang, saya sudah menyaksikan berbagai macam fenomena yang mengajarkan saya bahwa hidup tidak selalu dapat dikalkulasi. Beberapa teman yang saya kenal saat remaja hanya menghabiskan masa muda dengan bermain-main, tidak terlalu keras dalam belajar namun pada akhirnya secara kasat mata, mereka meraih apa yang orang lain inginkan.

Sementara sebagian dari teman saya yang begitu keras belajar sejak dulu namun ternyata berakhir tragis, tidak mencapai apa yang mereka cita-citakan. Mereka kalah dalam hidup.

Meski sekali lagi bahwa saya tidak mengetahui dengan detail apa yang mereka jalani dalam prosesnya karena hanya mengamati dari luar. Mungkin saja ada variabel lain yang menentukan.

Ada anak yang nakal tetapi orang tua mereka sangat baik, dermawan, peduli dengan orang lain, tidak pernah merasa iri pada orang lain, dan berbagai kebaikan yang dimiliki, maka seringkali karma akan berbalik ke keturunannya. Anak mereka yang mungkin masa muda nakal, tiba-tiba berubah menjadi anak yang sukses.

Begitulah,

Saya sendiri begitu akrab dengan kegagalan sejak kecil, kegagalan dalam banyak hal tentunya. Saya mungkin bisa cerita beberapa pada kegagalan yang sudah saya maklumi.

Masih segar dalam ingatan saya ketika duduk di kelas empat madrasah. Sepulang sekolah, saya dan beberapa teman berangkat ke kebun mencari Mangga yang jatuh dari pohon. Hari yang sial karena tidak ada buah Mangga yang jatuh, mungkin karena belum terlalu matang.

Kami tidak ingin pulang dengan tangan hampa, saya dan teman-teman kemudian mencari batu dan potongan kayu kemudian melempar buah Mangga yang masih menggantung di pohon. Saya ingat dengan jelas, saya mengambil sebilah bambu kemudian melempar Mangga yang terlihat ranum. Salah seorang teman tidak menyadari dan berjalan ke bawah pohon mangga,

Prakkk, potongan bambu tersebut meluncur deras dan tepat mengenai kepala teman saya. Darah bercucuran membasahi mukanya. Saya tidak merasakan apa-apa saat itu, yang ada di pikiran saya adalah mengantarnya pulang ke rumah. Meski hari-hari selanjutnya, saya begitu takut bertemu orang tuanya.

Kegagalan lain ketika duduk di kelas 2 SMP. Suatu siang yang terik, saya begitu malas mengikuti pelajaran sehingga memilih untuk cabut dari sekolah bersama teman-teman. Kami harus memanjat pagar bisa di samping sekolah agar tidak terlihat oleh Guru.

Tepat ketika saya memanjat pagar, kali saya terpeleset dan pagar besi yang runcing tertancap di betis saya. Darah membasahi kaki kiri saya dengan rasa yang cukup perih. Bekasnya masih tersisa sampai sekarang.

Kegagalan tidak berhenti sampai di situ. Di masa-masa kuliah, saya mengalami perasaan yang cukup mengerikan ketika suatu waktu, saya meminjam motor teman. Singkat cerita, saya memarkir motor di tempat semula dan mengembalikan kunci ke teman saya. Saat berada di parkiran, motor sudah raib dan tentu saya merasa menjadi pesakitan karena terakhir menggunakan motornya.

Kegagalan demi kegagalan masih terus membayangi sampai sekarang. Saya selalu merasa menjadi paling tidak beruntung.

Saya sangat yakin bahwa hari-hari selanjutnya, saya akan menjumpai kegagalan demi kegagalan yang mungkin membutuhkan ketangguhan untuk melewatinya. Namun kegagalan yang nyata ketika saya terus-menerus menghakimi diri saya atas ketidakmampuan memenuhi segala keinginan.

Satu hal yang tidak saya sesali dalam hidup adalah belajar di ilmu sosial. Saya menemukan banyak hal bahwa terlalu banyak variabel dalam kehidupan ini maka jangan terlalu sok tau tentang hidup.

Hidup ini absurd karena kita hanya menjalani rutinitas yang repetitif dan tidak ada maknanya. Kita layaknya Sisifus yang menjalani hukuman dari dewa (Camus).

Hidup ini hanyalah fase peralihan dari penderitaan menjadi kebosanan karena ketika sedang berproses, manusia merasa menderita, sementara ketika sudah menjadi tujuan, mereka bosan pada hidup (Schopenhauer).

Hidup ini adalah cara kita memahami makna dari semua peristiwa. Kita menyadarkan semuanya kepada sang Pencipta.

Dan masih banyak lagi kesimpulan-kesimpulan hidup baik dari perspektif agama maupun para Filsuf. Semuanya bisa dijadikan pelajaran dalam hidup yang sedang kita jalani. Kita bisa memaknai hidup dari berbagai hal termasuk dari pikiran-pikiran orang terdahulu.

Satu hal lagi, jangan terlalu menjadi orang ambisius dalam hidup karena pada titik ketika tidak mencapai apa yang diinginkan, maka hidup seperti hancur berkeping, pada titik inilah banyak manusia yang memilih mengakhiri eksistensinya sebagai makhluk yang berpikir.