Catatan Orang-Orang Kalah (#1)

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Senin subuh, sesaat setelah adzan baru saja dikumandangkan dari musala dekat rumah, seorang pria paruh baya sudah rapi dengan stelan celana bahan dan jaket tipis. Putra semata wayangnya masih terlelap di kasur depan TV sementara istrinya baru saja selesai menanak nasi, menyiapkan bekal untuk anaknya.
Dia pamit, memeluk istrinya lalu mengecup kening putranya sambil menikmati aroma bau mulut yang selalu dirindukannya. Selalu ada perasaan sentimental setiap kali harus berangkat lagi, menatap putranya yang sedang tumbuh menjadi remaja namun hanya dapat dipandangi setiap sabtu minggu.
Di sepanjang jalan ke pool travel melewati gang kecil, kepalanya berdebat panjang tentang banyak hal, tentu pertanyaan eksistensial,
Sebenarnya untuk apa semua ini?
Kapan berakhir dan apa makna dibalik semuanya?
Kenapa harus meninggalkan anak demi mencari hal yang seharusnya bisa diusahakan di kota asal?
Pria itu menikmati jalan kaki di subuh hari. Merasakan aroma sisa malam yang sedang luruh dalam dingin dan udara yang sedang segar-segarnya. Jika beruntung, maka dia menjumpai pemandangan bulan yang sedang tersenyum pada semesta.
Perjalanan kembali ke kota tempat bekerja tidak hanya sebagai lelaku fisik namun isi kepala terus berkecamuk, sesekali mampu diredam namun seringkali memaksa untuk mempertanyakan diri.
meski terasa begitu menyiksa namun toh tetap harus dijalani. Perasaan menyalahkan diri selalu menari-nari di kepala tentang kegagalan menjadi seorang ayah karena tidak menemani anak setiap hari, kegagalan menjadi seorang suami karena membiarkan istrinya meratapi malam-malam panjang penuh kesepian. Dia tahu, seringkali istrinya harus menangis.
Saban senin subuh selama sekian tahun terakhir, dia menjalani rutinitas panjang yang serupa dengan ini, berangkat senin subuh dan pulang jumat sore, melelahkan dan menjenuhkan.
Mungkin dia sedang menerima karma pada setiap idealisme di kepalanya puluhan tahun silam, tentang bagaimana dia begitu membenci rutinitas yang memaksa manusia menjadi makhluk mekanik. Dia merasa mampu berdaulat pada setiap fase kehidupannya, ternyata variabel kehidupan terlalu rumit.
Mungkin karma, ini perkiraan saja.
Pada akhirnya, dia benar-benar terjebak dalam siklus kehidupan yang memaksanya untuk mengeja senin sampai jumat dalam tumpukan dokumen-dokumen kemudian menghabiskan sabtu minggu di rumah, sekadar menonton netlfix dan menemani anaknya membeli komik Chainsaw Man edisi terbaru.
Dalam beberapa kali fase kesulitan yang dijumpai, begitu banyak godaan untuk menghakhiri rutinitas ini semua, hidup lebih tenang di kota kecil dan meninggalkan segala yang mengaburkan ide-ide di kepala, berjualan sekadar untuk hidup sambil merangkai ide yang lama terkubur.
Namun hanya sebatas lamunan karena ada anak yang masih menunggu dibelikan komik dan ada istri yang tentu merasa risih jika bersuami seorang yang tak berpenghasilan tetap.
Konstruksi sosial nyata pada kehidupan yang dijalani. Kita harus menyesuaikan segala ritme dengan konsensus-konsensus sosial yang mungkin saja tidak cocok dengan diri kita.
Maka kakinya tetap melangkah, dipaksa untuk menjalani hari-hari yang sangat panjang nan sunyi, melupakan semua ide gila yang hampir mustahil dijalani, tentang bagaimana seharusnya hidup ini dijalani.
Pria itu merutuki nasib tentang ketidakmampuan dirinya memiliki skill yang bisa dikapitalisasi, dia menganggap dirinya bagian dari orang-orang kalah.
Manusia memang tidak sedang berperang dengan siapa-siapa, namun lawannya ada di dalam pikiran yang setiap saat berisik. berperang melawan diri merupakan pertikaian tiada akhir, sekali waktu menjadi kawan namun sedetik kemudian menghakimi maka jangan heran jika banyak manusia yang mati sebelum wafat.
