Konten dari Pengguna

Catatan Orang-Orang kalah (#2)

Minhaj

Minhaj

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

tangkapan layar dari Ebook #Jangan Jadi Dosen.
zoom-in-whitePerbesar
tangkapan layar dari Ebook #Jangan Jadi Dosen.

Saya menutup jumat malam dengan membaca buku tipis yang yang merupakan kumpulan esai viral ditulis oleh tim Dosen Update. Buku yang diberi judul #Jangan Jadi Dosen.

Buku ini dalam bentuk ebook yang saya checkout dengan harga dua puluh lima ribu, setelah beberapa kali muncul di beranda media sosial. Saya memang seringkali tertawan pada buku-buku yang menarik minat.

Buku yang cukup provokatif, seolah-0lah mendemotivasi calon dosen untuk masuk dan menjadi bagian dari akademisi, namun ketika membaca beberapa tulisan awal, saya menyadari bahwa buku ini semacam otokritik kepada sebagian dosen yang punya banyak alasan untuk menekuni labirin kesunyian seorang cendekiawan.

Slow living, work-life balance, gaji kecil, menikmati weekend, dan berbagai curhatan yang sering muncul di ruang-ruang dosen, bahkan lebih sering menjadi bahan debat di antara akademisi daripada debat ide yang konstruktif, tentang saya bagian di dalamnya.

Meskipun tidak menafikan pada setiap nilai bahwa kesejahteraan dosen merupakan hal fundamental untuk menopang masa depan bangsa. Rumus dasar dari kehidupan bahwa urusan perut (masalah ekonomi) merupakan hal pokok untuk dipenuhi sebelum memikirkan hal-hal suprastruktur.

Ada sebaris kalimat yang cukup tegas tanpa kompromi pada akhir tulisan artikel kedua,

"Cendekiawan seringkali takut pada letih ketimbang pada kebodohan."

Ya, saya dan mungkin sebagai rekan sejawat pun seringkali mengalami dan merasakan hal yang sama. Bahwa kesibukan mengurusi tetek bengek birokrasi kampus membuat saya melupakan roh keilmuan padahal mungkin saja saya hanya malas dengan topeng keletihan.

Kita mungkin takut letih dibandingkan takut bodoh maka healing selalu menjadi tameng paling ampuh untuk lari dari ketidakmampuan menjalani hari-hari sebagai seorang akademisi.

Saya tidak sedang membicarakan orang lain karena mungkin saja masalah mereka sebagai dosen lebih kompleks, namun saya ingin menghukumi diri saya sendiri tentang keluhan-keluhan panjang yang keluar dari mulut saya pada apa yang sedang saya jalani.

Indeed, saya harus mengerjakan bejibun laporan dalam banyaaak sekali rupa namun saya juga menyadari bahwa nampaknya, masih terlalu banyak waktu saya yang terbuang. Toh saya masih bisa nonton netflix, scroll media sosial, nonton youtube, dan berbagai hiburan lainnya, artinya bahwa waktu saya tidak benar-benar tersita pada kehidupan kampus.

Rintihan keluhan hanya semacam normalisasi diri saya untuk ikut arus merasa terperdaya dengan rutinitas yang sebenarnya masih bisa saya kontrol. Meski tentu ketika deadline datang bersamaan, terkadang saya kewalahan.

Saya merasa begitu gagal ketika terlalu banyak keluhan yang memenuhi otak saya daripada ide-ide yang harus saya tulis. Saya gagal ketika ada mahasiswa yang menghadap namun saya acuhkan hanya dengan alasan sedang sibuk, dan kegagalan-kegagalan lain yang menghampiri karena ketidakmampuan untuk memaknai diri sebagai seorang akademisi.

Mengajar yang dulunya menjadi bayang-bayang indah dengan imaji berdebat ide dengan mahasiswa, merawat idealisme-idealisme masa muda ternyata larut dalam harapan yang hampir luruh. Saya bahkan melewatkan berbagai momen untuk menikmati menyiapkan materi sampai larut malam karena laporan dan rapat sedang menanti.

Saya harus memutar kembali ke titik tumpu untuk menemukan tujuan saya memilih profesi ini. Tidak ada jalan lain untuk hidup berdaulat selain menikmati kesibukan demi kesibukan dengan bahagia.

Setiap kali pulang ke kos dan menyendiri dalam sunyi sambil memandang atap kos yang hanya setinggi kira-kira tujuh meter, saya menerka bahwa keluhan yang diucapkan maupun muncul di kepala seringkali berasal dari perasaan paling berkontribusi, paling sibuk paling bernilai, dan tentu ini berbahaya sekali.

Padahal semua orang mempunyai porsinya masing-masing, bukan saya saja yang sibuk, semua punya kesibukan, tanggung jawab, dan masalah masing-masing. Seharusnya ini menjadi renungan panjang untuk sedikit mereduksi segala keluhan yang tak perlu.

Saya ingat Mahatma Gandhi menulis dalam autobiografinya bahwa salah satu kenangan masa kecilnya adalah beliau tidak pernah sekalipun memandang tinggi kemampuan dirinya. Bahkan pada beberapa momen, beliau merasa sangat terkejut ketika mendatkan hadiah dan beasiswa.

Tidak menganggap tinggi kemampuan diri juga sebagai cara sederhana untuk kembali pada kesadaran diri yang hakiki, sadar ruang dan sadar waktu.

Apa itu kesadaran diri? tentu elaborasinya akan terlalu panjang namun sederhananya bahwa kita menyadari kehadiran diri pada semua hal yang dijalani.

Prof Budiono Kusumohamidjojo mengatakan bahwa semakin rendah tingkat kesadaran maka semakin tinggi tingkat risiko terjadinya kekeliruan dalam proses mengetahui dan memperoleh pengetahuan.

Menyadari bahwa profesi ini membutuhkan integritas dan pengorbanan yang besar merupakan cara merawat ilmu pengetahuan sebagai pondasi perabadan. Saya rasa peradaban tidak dibangun dari keluhan demi keluhan para cendikiawan.

Memilih profesi ini artinya memilih kesepian bersama tumpukan buku, tumpukan jurnal, dan sudut perpustakaan yang senyap. Tidak semua harus tampil di layar untuk mempertontonkan debat panjang dengan para politisi, atau mendapat eksposur karena sejatinya bukan itu.

Memori paling berkesan yang selalu saya kenang tentang profesi ini hanyalah imaji tentang dosen saya dulu yang datang ke kampus dengan supra tua, masuk tepat waktu ke kelas dengan tumpukan buku-buku tua, menulis di papan tulis sambil mengajak kami berdebat tentang ide-ide liar, lalu menyapa dengan sangat senyum paling tulus, dan menghabiskan dunianya dalam membaca dan menulis.

Bukan realitas tentang mereka yang muncul di layar, membicarakan mega proyek, atau bahkan sibuk dengan berbagai urusan bisnis yang beriorientasi keuntungan semata,

Atau mungkin juga saya yang gagal memaknai semua ini.

Maka, menjadi akademisi adalah jalan panjang kesunyian, maka butuh ketahanan untuk mengarungi labirin yang tak bertepi.