Konten dari Pengguna

Catatan Orang-Orang Kalah (#3)

Minhaj

Minhaj

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Langit akan menjelaskan kepada manusia peran mereka di dunia. Photo: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Langit akan menjelaskan kepada manusia peran mereka di dunia. Photo: Dokumentasi Pribadi

Sabtu kemarin saat sedang jogging di bumi perkemahan Ragunan, matahari cukup terik sehingga bayangan saya terlihat jelas. Semakin saya berlari kencang maka bayangan saya semakin menjauh. Setiap kali saya melambatkan langkah, bayangan pun mengikuti langkah yang sama,

Demikianlah kehidupan.

Saya merasa menjadi orang yang kalah mengejar kehidupan. Sekian lama saya merefleksikan tentang diri, maka yang saya temui tidak lain hanya kekurangan-kekurangan. Tidak punya keahlian khusus yang bisa dijual, tidak punya keahlian dagang, tidak memiliki relasi yang luas, tidak mampu mempengaruhi orang, dan serangkaian kekurangan yang inheren dalam diri saya.

Bayangkan, saya pernah jualan namun gagal, saya sama sekali tidak ada keahlian pada bidang musik, seni, dan sejenisnya. Kemampuan otak pun pas-pasan ditambah lagi dengan habit yang hanya membunuh waktu dengan lamunan-lamunan tolol.

Pada setiap malam ketika kepala dipenuhi perdebatan, saya sering melontarkan pertanyaan pada Tuhan, apa sebenarnya peranana saya hadir di dunia ini?

Satu hal yang selalu menjadi rutinitas ketika pulang ke kos menjelang maghrib, saya duduk merenung kemudian mempertanyakan tanya yang berulang, untuk apa semua ini? apa sebenarnya yang saya cari?

Saya mencoba untuk merapikan pikiran semoga saya krisis eksistensial yang saya sedang alami bukan karena pengaruh dari luar diri, tentang merasa bahwa kehidupan orang lain lebih bahagia.

Pada akhirnya, saya menulis di status WA tentang pepatah Jawa;

Sawang Sinawang

Kemudian saya tulis sebuah kutipan yang sering dianggap tulisan Kierkegaard meskipun saya sendiri belum yakin benar dari dia namun relevan dengan apa yang sedang saya pikirkan;

Kita manusia memang suka meromantisasi hidup yang tidak kita jalani.

Manusia yang sudah mengenal dirinya akan hidup dalam kebahagiaan hakiki. Dia tidak mampu terdistraksi pada apapun yang sedang dijalani orang lain karena setiap dari kita memiliki peran yang tidak bisa digantikan oleh orang lain.

Ya, saya sudah sangat sering mendengar dogma agama bahwa tidak ada satu makhluk pun yang diciptakan di dunia ini tanpa manfaat, atau semua manusia memiliki perannya masing-masing di dunia ini.

Namun, semakin saya mencoba meyakini itu semua, semakin saya mengalami krisis eksistensial. Menyadari bahwa tidak ada hal yang bisa saya banggakan dari diri saya.

Kita sudah terlalu lelah mengejar dunia, bagaikan mengejar bayangan yang tak kan mungkin tergapai. Sepertinya rumus kehidupan bukan tentang kecepatan tetapi presisi, kita harus mampu menakar diri kapan harus pelan dan kapan berlari.

Sialnya, kita hidup di era di mana ukuran keberhasilan dilekatkan pada kecepatan maka muncullah istilah digitalisasi untuk membuat segalanya seakan berlari mengejar waktu.

Bayangkan, ketika kita tidak mengecek WA beberapa menit, selalu ada perasaan was-was tentang info, sekian menit harus mengecek media sosial, dan berbagai kebiasaan yang membuat diri kita terpenjara dalam kehidupan digital.

Cukup mengerikan.

Tadi saya mencoba eksperimen. Saya membuka buku tebal di atas meja lalu menyelami halaman demi halaman, pada setiap menitnya, saya selalu menguap akhirnya saya menyerah lalu ganti main medsos di HP. Sekian menit sampai sejam, sekalipun saya tidak menguap dan tidak merasa lelah.

Pada kejadian yang saya alami, saya terpaksa merasa bergabung menjadi orang-orang yang kalah dalam kehidupan. Hidup dalam kekalahan sungguh sangat menyiksa bahkan ini bukan tentang kekalahan perlombaan dengan orang lain tetapi kalah mewan diri sendiri.

Sungguh menyakitkan.