Konten dari Pengguna

Catatan Orang-Orang Kalah (#4)

Minhaj

Minhaj

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Langit Bandung yang Syahdu menjelang maghib. Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Langit Bandung yang Syahdu menjelang maghib. Dokumentasi Pribadi

Tidak ada kue tart malam ini, bahkan tidak ada segelas kopi gula aren untuk merayakan kelahiran. Hanya pikiran yang terjaga dengan segala kerumitannya. Mata sama sekali tak jua kompromi untuk sekadar terlelap bahkan ketika jarum jam sudah menunjuk angka 2 dini hari.

Momen ulang tahun paling suram dalam hidup saya. Seharian hanya mendekap ditemani sepi di dalam kamar kos. Merutuki nasib yang tak kunjung tiba, nasib baik tentunya. Memang ulang tahun bukan momen yang spesial dalam hidup saya karena tradisi keluarga kami tidak mengenal perayaan ulang tahun, mungkin karena hidup di desa atau mungkin ada alasan lain, entahlah.

Namun sejak bekerja, rekan-rekan punya kebiasaan merayakan ulang tahun dan kami harus mentraktir semua rekan setiap ulang tahun, maka jadilah momen ulang tahun sebagai rutinitas yang selalu saya ingat beberapa tahun terakhir, tepatnya sejak dua belas tahun silam.

Kebiasaan merayakan ulang tahun pun kami lakukan di keluarga meski perayaan kecil. Jika pada momen-momen sebelumnya, saya dan keluarga minimal keluar makan di mall atau di tempat makan favorit kami, namun kali ini semua menguap, saya benar-benar dipaksa menyelemi sepi sendiri di kamar kos, momen yang sangat menyebalkan. Saya menginginkan lagi dan lagi.

Namun mungkin seperti itulah hidup. Kita selalu terus menerus mengejar keinginan, tentu di dalamnya ingin bahagia. Di satu sisi pun, kita, atau lebih tepatnya saya, menyadari bahwa apa yang saya inginkan dalam hidup ini pasti jauh lebih besar dari apa yang saya dapatkan karena keinginan tidak ada batas maksimal sementara pemenuhannya terbatas.

Terdengar seperti dalam ilmu ekonomi namun begitulah adanya, bahkan dalam hidup kita sehari-hari pun berlaku hukum yang sama.

Pada momen-momen seperti ini, saya sangat menggandrungi kutipan Arthur Schopenhauer,

"life swings like a pendulum between pain and boredom"

Schopenhauer benar bahwa hidup ini hanyalah perpindahan dari rasa sakit menuju ke rasa bosan dan begitu seterusnya. Bahagia itu ilusi karena sungguh sangat singkat.

Salah seorang pemain sepakbola mengatakan bahwa mayoritas pemain hebat berasal dari keluarga yang melarat sehingga mereka memandang bahwa sepakbola merupakan jalan untuk menyembuhkan kehidupan dari kemiskinan.

Namun apa yang terjadi kemudian adalah ketika mereka mencapai puncak yang kehidupan diharapkan, pelan tapi pasti bahwa kebosanan datang menghampiri. Mereka kemudian mempertanyakan apa arti semua ini dan bahkan sebagian dari mereka merasa lebih bahagia saat masa sulit.

Mungkin, ini perkiraan saja, bahwa sebagian dari kita merasa hal yang sama. Ketika mencapai tujuan yang didambakan, kita kemudian berpikir bahwa semua tidak ada artinya bahkan proses yang dilalui lebih indah meskipun berdarah dibandingkan dengan hasil yang diraih.

***

Saya terlalu jauh ngelantur padahal tadi hanya ingin bercerita tentang ulang tahun yang suram. Tentang bagaimana saya masih tetap saja berputar pada masalah yang sama dan merasa tidak ada progres sama sekali, atau mungkin inilah yang menyiksa hidup saya karena selalu berharap progres secara kuantitatif.

Catatan ini saya tulis sesaat setelah menuntaskan novel tipis yang ditulis oleh Osamu Dazai, Orang Gagal. Saya merasa bahwa keberanian untuk jujur pada diri menulis apa yang dirasakan merupakan hal yang paling ampuh untuk menemukan diri meskipun dari sudut pandang orang lain, kita akan dianggap orang kalah.