Konten dari Pengguna

Catatan Orang-Orang Kalah #5

Minhaj

Minhaj

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada titik ketika kita menyerah tanpa ampun. Photo: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Pada titik ketika kita menyerah tanpa ampun. Photo: Dokumentasi Pribadi

Paradoks,

sebelum memutuskan menjadi akademisi penuh waktu, hasrat belajar saya begitu menggebu-gebu bahkan saya punya daftar buku yang harus saya tuntaskan dalam seminggu atau sebulan. Setiap tahun, biasanya saya merefleksikan buku favorit yang saya baca.

Namum, sekian tahun berlalu sebagai akademisi, semua menguap. Saya seperti tidak punya energi untuk hanya sekadar baring di kasur, duduk di kursi depan, atau di manapun untuk melahap sebuah buku. Semua seakan berjalan begitu mekanis entah untuk tujuan apa.

Ada begitu banyak buku di atas meja, pun di rak yang hanya tersusun rapi tanpa saya tuntaskan. Sebagian dibuka ketika butuh referensi menulis, sebagian lagi dipandangi ketika bernostalgia masa-masa kuliah saat belum punya kemampuan untuk memuaskan hasrat membeli buku.

Paradoks lain, dulu ketika masih kuliah, saat buku saya hanya beberapa biji, saya bisa membaca berulang kali dan tenggelam di dalamnya. Namun saat ini, ketika saya mampu membeli buku apa saja yang saya inginkan, nafsu membaca luruh dalam distraksi yang tak berguna.

Kemudian, saya menulis bukan lagi libido yang muncul dari keingintahuan akan sesuatu, namun berubah menjadi keharusan bahkan saya sendiri terkadang begitu sangat malas membaca kembali tulisan-tulisan saya yang hanya ditulis karena memenuhi kewajiban.

Tentu, saya sudah sering mendengar atau bahkan menganalisis bahwa sesuatu yang awalnya merupakan kesenangan tanpa variabel apa-apa, akan berubah menjadi sesuatu yang lain ketika sudah jadi profesi.

Begitu banyak Atlet yang stress ketika mereka sudah menjadi profesional sementara mereka begitu bersenang-senang saat masih menikmati permainan sebagai sebuah hobi.

Kita sering mendengar berita Selebriti yang bunuh diri hanya karena tidak sanggup menghadapi krisis eksistensial, sementara mungkin pada permulaan, mereka menikmatinya.

Atau bahkan Penulis yang awalnya menyenangi aktivitas menulis tanpa ekspektasi apa-apa, namun ketika dikenal dan menjadi profesi, sepersekian waktu, mereka tidak lagi menikmati apa yang sebelumnya menjadi hobi.

Entah sejak kapan saya memikirkan apa akar dari persoalan eksistensial semacam ini. Kita seakan mengejar bayang-bayang yang kita sendiri sudah sadari dari awal tidak akan tergapai.

Berbagai identifikasi dari apa yang terjadi, misalnya seperti yang disampaikan Hobbes sebagaimana dikutip Erich Fromm dalam bukunya "to have or to be?

kebahagiaan adalah kelanjutan tiada henti dari satu ketamakan (cupiditas) ke ketamakan lainnya.

Saya kira tidak terlalu butuh waktu mengerutkan kening untuk memahami makna apa yang disampaikan Hobbes, bahwa seringkali apa yang manusia anggap sebagai kebahagiaan tidak lebih dari ketamakan memuaskan nafsu, dari satu hal ke hal lain. Uang, kekuasaan, pasangan, dan semua yang kita anggap mampu memuaskan keinginan bahagia.

Ada satu konsep sebagai solusi yang ditawarkan baik oleh agama maupun filsafat, meskipun dengan istilah yang berbeda,

Consciousness.

Sebagai manusia, kita harus mampu hidupan dalam kesadaran akan diri kita agar kita mengenal diri. Agama (khususnya Islam) mengajarkan untuk mengenal diri. Hidup berkesadaran itu tidak bersedih hati pada apa yang sudah dilewati dan tidak cemas akan masa depan.

Dalam konsep lain dikenal dengan mindfullness khususnya dalam tradisi Zen. Kita harus sadar apa setiap detail yang sedang kita lakukan bahkan harus menyadari udara yang masuk keluar saat kita bernafas.

Dan begitu banyak diskursus yang membahas tentang kesadaran manusia, namun sederhananya bahwa agar kita tidak seakan mengejar bayang-bayang maka kita harus hidup secara sadar.

Tirakat dalam melatih kesadaran akan melahirkan diri yang autentik dan dalam perspektif agama, kita akan mensyukuri banyak hal yang kita miliki tanpa terbebani oleh target-target hidup yang ilusif.

Pada akhirnya, saya mengaku kalah pada diri, pada setiap teori-teori yang saya pelajari namun hanya tersimpan sebagai arsip tanpa terinternalisasi dalam diri. Saya kalah pada banyak hal, kalah pada diri yang terlalu permisif untuk hal yang sia-sia.

Teknologi adalah tantangan terberat saya saat ini. Alih-alih memudahkan urusan-urusan yang sifatnya prioritas, bahkan menjadi penyebab tertundanya pekerjaan yang harus saya selesaikan. Menyebalkan kita kita membayangkan diri larut dalam teknologi sementara waktu terus berlalu.

Saya tidak sedang menyalahkan teknologi, saya sedang menunjuk diri sendiri yang terlalu lembek pada hal-hal di luar diri sementara saya punya kuasa atas apa yang harus saya lakukan.

Saya punya pilihan apakah takluk pada godaan-godaan hal yang sia-sia atau memilih menyibukkan diri yang membantu mengembangkan kompetensi.

Kita memang lebih mudah menyalahkan apa saja di luar diri karena tidak pernah mampu menekan ego. Kita selalu merasa benar pada keputusan diri dan ini menghancurkan. Ego, sebagaimana yang dipahami adalah musuh terbesar manusia.

saya kalah dan saya mencatat daftar kekalahan demi kekalahan sepanjang hidup. Mungkin nanti akan menjadi catatan panjang yang menghiasi setiap lembaran buku saya.