Konten dari Pengguna

Hal-Hal Sederhana

Minhaj

Minhaj

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

FGD kegiatan Lazismu. Photo: Dokumentasi Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
FGD kegiatan Lazismu. Photo: Dokumentasi Pribadi.

Seorang Guru MTK mengelus dada ketika menyaksikan muridnya yang sudah kelas 11 namun masih mengalami kesulitan dalam hitung matematika dasar.

Fenomena di atas bukan fiktif tetapi kejadian yang sedang viral, bahkan bukan kejadian yang pertama namun terjadi sekian kali sejak beberapa tahun terakhir. Tidak hanya pada bidang matematika namun bahkan pada kemampuan membaca, beberapa murid yang sudah memasuki jenjang SMP, masih belum lancar membaca.

Ada banyak analisis yang mengangkat isu pendidikan di Indonesia mulai dari penyebab, solusi, dan siapa yang harus bertanggung jawab. Ujian nasional yang dihapuskan, masifnya media sosial, sampai pada proses pengawasan orang tua yang terlalu longgar, seringkali dianggap sebagai faktor penting yang membuat generasi muda mengalami kemunduran dalam pendidikan.

Kekhawatiran akan merosotnya tingkat pendidikan di negeri ini memang sudah berada di titik nadir jika tidak dicarikan solusinya karena negara yang kuat adalah negara yang peduli terhadap pendidikan.

Semua elemen harus bertanggung jawab dalam mengembalikan kualitas pendidikan di negeri ini. Secara struktural, sudah pasti Pemerintah memiliki tanggung jawab penuh pada masalah ini, namun secara kultural maka semua pihak mempunyai peran baik dari individu, keluarga, dan organisasi masyarakat seperti persyarikatan Muhammadiyah.

Muhammadiyah sendiri sudah dikenal memberikan sumbangsih yang sangat signifikan pada bidang kesehatan dan pendidikan, hal ini ditandai dengan ratusan rumah sakit dan institusi pendidikan di bawah naungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang tersebar di seluruh nusantara bahkan di luar negeri.

Namun, di tengah dinamika organisasi, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian publik, kerja-kerja sunyi dan ikhlas pemberdayaan yang dilakukan secara langsung di tingkat akar rumput yang memberikan dampak signifikan pada generasi muda.

Muhammadiyah memiliki lembaga filantropi LAZISMU yang bergerak secara nyata. Kerja-kerja wirausaha sosial dijalankan dengan penuh khidmat dan menyasar lapisan masyarakat yang membutuhkan mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan bidang lainnya.

Khususnya pada bidang pendidikan, kita tidak bisa memungkiri bahwa kebutuhan akan pendidikan sangat tinggi namun kemampuan finansial masyarakat Indonesia menjadi kendala terbesar. Begitu banyak generasi muda yang ingin meningkatkan kompetensi di tingkat perguruan tinggi namun tidak mampu karena kendala biaya.

Di sinilah peran LAZISMU menjadi penting dan krusial. Tidak sekadar menyalurkan bantuan, LAZISMU juga berupaya membangun kemandirian penerima manfaat, terutama dalam sektor pendidikan.

Salah satu contoh konkret dapat dilihat pada inisiatif LAZISMU Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung dalam mendampingi mahasiswa penerima beasiswa. Program ini tidak berhenti pada pemberian bantuan finansial, tetapi diarahkan pada upaya pemberdayaan melalui pendekatan kewirausahaan sosial.

Selama setahun dipercaya menjadi kepala kantor LAZISMU UNISA Bandung, saya menemukan persoalan penting bahwa untuk menjadikan lembaga ini bisa berlangsung sustain dan bermanfaat bagi masyarakat luas, maka mahasiswa penerima beasiswa harus menjadi pion penggerak dalam gerakan fundraising kewirausahaan sosial.

***

Suatu siang di awal tahun 2026, saya membuka pesan whatsapp dari orang tua mahasiswi yang mengajukan beasiswa. Narasi awal bahwa dia tidak mampu membiayai anaknya kuliah namun di sisi lain, ada tekad yang kuat dari anaknya untuk tetap melanjutkan kuliah. Bahkan ibunya memohon dengan sangat berharap agar diberikan kesempatan bagi anaknya untuk menjadi salah satu penerima beasiswa.

Sejak menjadi kepala kantor LAZISMU UNISA Bandung, hal yang lumrah dalam setiap minggu, saya selalu mendapat pesan permohonan bantuan dana pendidikan, baik langsung dari mahasiswa, orang tua, atau dosen yang memfasilitasi mahasiswanya.

Ada beberapa hal mendasar yang saya terapkan dalam mengakomodasi permohonan beasiswa salah satunya adalah keinginan yang kuat dari penerima beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Selain itu, mereka harus memiliki komitmen untuk berkontribusi di LAZISMU dalam rangka meningkatkan kapasitas pendanaan agar penerima manfaat bisa diperluas.

Mengingat tingginya permintaan beasiswa maka saya dan tim berinisiatif untuk memberdayakan puluhan mahasiswa yang sudah diberikan beasiswa. Langkah pertama yang kami lakukan dengan cara mengadakan pelatihan peningkatan strategi fundraising kewirausahaan sosial.

Kegiatan ini diadakan berkolaborasi dengan LAZISMU Jawa Barat sebagai narasumber utama. Poin penting yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah para peserta yang merupakan mahasiswa mampu mengubah cara pandang mereka terkait lembaga filantropi yang seringkali dianggap sebagai lembaga pencari dana.

Selain pemaparan materi, pun diadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk mengidentifikasi setiap permasalahan yang seringkali ditemui di lapangan dalam mengajak masyarakat luas untuk berpartisipasi dan berkontribusi pada lembaga filantropi dan berbagai bentuk.

Hal yang perlu diketahui bahwa fundraising pada lembaga filantropi memiliki tantangan tersendiri karena calon donatur tidak mendapatkan dampak langsung pada setiap lembar dana yang dikeluarkan. Butuh kemampuan khusus untuk meyakinkan masyarakat luas bahwa lembaga filantropi mempunyai dampak yang sangat besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dana-dana beasiswa yang disalurkan merupakan bentuk nyata untuk mendukung pemerintah dalam meningkatkan kemampuan generasi muda menghadapi tantangan zaman yang semakin dinamis.

Di tengah perdebatan besar tentang arah bangsa, kerja-kerja semacam ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perubahan sosial seringkali justru dimulai dari ruang-ruang yang sederhana, dari kampus, dari komunitas, dan dari mereka yang diberi kesempatan untuk berkembang.

Mungkin usaha yang dilakukan oleh LAZISMU UNISA Bandung dalam rangka membantu masyarakat yang terkendala dana, terlihat hal yang sepele tetapi jika dilakukan secara masif dalam menyeluruh maka akan ada perubahan yang bisa dilakukan khususnya dalam bidang pendidikan.

Kita harus menyadari bahwa sejarah panjang peradaban manusia selalu berkelindan dengan pendidikan. Bangsa yang menjadi superior dimulai dari kemampuan mereka meningkatkan pendidikan bagi masyarakatnya.

Hal ini juga tersirat dalam perintah pertama al-Qur'an, bacalah. Pemaknaan tersebut dapat diamplifikasi sebagai bentuk perintah untuk belajar terus menerus.

Muhammadiyah pun meniti jalan sunyi dalam dunia pendidikan. Tidak terhitung lagi sumbangsih yang diberikan oleh Muhammadiyah kepada negara dalam bidang pendidikan baik kuantitatif maupun kualitatif.

Ini bukan tentang mengglorifikasi sebuah organisasi tetapi upaya untuk bersama-sama bagi semua organisasi berjalan sesuai dengan visinya untuk menuntut bangsa ini menuju bangsa yang Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur.

“Hidup harus bermakna, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.” (Buya Syafii Maarif)