Konten dari Pengguna

Kirana dan Pertanyaan yang tak Lagi Sama (4)

Minhaj

Minhaj

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sisa kopimu di kafe baca. Photo: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sisa kopimu di kafe baca. Photo: Dokumentasi Pribadi

Orang-orang tidak akan pernah percaya bahwa kau dan aku adalah realitas sejati. Mereka menyangka ini semua hanyalah semacam cerita Teenlit murahan, hanya bisa dikonsumsi remaja tanggung yang sedang bergumul dengan pencarian diri.

Mereka tidak akan pernah percaya bahwa kita benar-benar ada, hidup di kota Kembang dengan segala persoalan eksistensi yang mendera. Kita hidup di setiap sudut kota ini, pada titik di mana kebosanan dan penderitaan silih berganti dalam hidup.

Di kota di mana orang miskin akan merasa begitu menderita sementara orang kaya merasa begitu bosan. Kedua kondisi itu, kebosanan dan penderitaan merupakan musuh abadi makhluk yang bernama manusia.

Oh ya, tapi sejak kapan kita peduli dengan omongan orang lain. Mereka pada akhirnya hanya akan menerima apa yang mereka ingin percaya. Aku suka analoginya salah seorang profesor UGM ahli hukum tatanegara “Konklusi mendahului analisis.”

Cozy Cube, Cihapit

20.45 WIB

Kirana,

Salah satu kafe favoritmu karena cara penyajian kopinya yang unik. Kopi dibekukan menjadi seperti es batu. Semakin mencair maka rasa kopinya semakin kuat. Di kafe inilah kita sering membunuh waktu kebosanan, berdua saja sampai tak tersisa lagi kata-kata, hanya tatapan penuh makna.

Aku sedikit ragu menceritakan identitas kita, terlalu riskan pada apa yang sedang kujalani, dan tentu juga dirimu. Tapi tak apalah, masing-masing manusia memiliki batas keberanian dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.

Aku ingat dengan sangat presisi, tahun lalu saat pertama kali kau ikut dalam kelasku, pada kelas pengantar ekonomi politik. Kau datang terlambat dengan alasan masih baru di Bandung, belum hapal jalanan di kota ini.

Kota ini memang tidak terlalu luas namun sedikit agak membingungkan karena beberapa jalannya didesain satu arah. Bahkan aku yang sudah lebih lima tahun di kota ini, masih sangat sering mengandalkan aplikasi google maps jika berangkat ke lokasi yang jarang kukunjungi.

Maka aku menerima alasanmu telat masuk kelas. Kau memilih duduk di barisan kedua dari belakang paling pojok dekat jendela. Saat itu pertemuan pertama, aku hanya menyampaikan hal-hal normatif di dalam kelas dan sedikit pengantar pada pelajaran yang akan kita diskusikan selama satu semester.

Dari sekian temanmu yang tertarik pada mata kuliah ini, kau salah satunya yang sama sekali tidak menampakkan minatmu, entahlah mungkin karena terlalu teoritis tentang bagaimana relasi ekonomi dan politik selalu berkelindan dalam kehidupan kita.

Apa sih gunanya belajar terlalu banyak pelajaran, toh yang diperlukan hanya beberapa?”

Tanyamu suatu waktu ketika kau dan aku duduk berhadapan pada sebuah kafe di jalan Karawitan. Kalau aku sering menulis beberapa kafe, maka pembaca sudah pasti menebak bahwa kita berdua selalu menyambangi berbagai kafe di kota ini.

Belajar layaknya menabung sekian banyak untuk sebuah perjalanan yang sangat panjang, seperti yang kutulis di setiap bio media sosialku “Pejalan panjang.”

Mungkin pengetahuanmu yang akan kau gunakan hari ini hanya sedikit dari bekalmu, tapi kita tak pernah tahu di persinggahan mana hidupmu harus mengeluarkan lagi tabungan pengetahuanmu.

Pelajaran yang terasa tak terpakai sering kali bukan untuk dijawab, melainkan untuk membentuk cara kita bertanya, bersabar, dan memahami dunia dengan lebih lembut karena hidup jarang datang sesuai rencana, ia kerap mengetuk pintu dari arah yang tak pernah kita pelajari.

Itu setahun yang lalu, saat semua terlihat akan berjalan dengan baik-baik saja. Namun setelah kau ditampar oleh realitas kehidupanmu, semuanya berubah. Kau mulai memahami bahwa politik adalah hal yang inheren dalam kehidupan kita, bahkan ketika kita berlari menjauh maka dia seperti bayangan yang selalu berada di samping.

Hingga pada suatu momen yang mengharuskanmu bangun dari kesadaran palsu yang selama ini kau acuhkan. Saat kau pulang dari kotamu, Subang, saat semua hancur lebur pada rencana pernikahanmu yang gagal.

Aku sering mengajakmu ke acara diskusi kajian sosial. Saban Jum’at sore, kita selalu menghadiri diskusi terbuka di perpustakaan Bunga di Tembok, terletak di kawasan Regol. Cukup menyenangkan, hanya dengan memesan segelas kopi gula aren, kita bisa menghabiskan sekian jam sambil melahap buku-buku yang ada di rak.

Aku masih ingat pertama kali kau ikut diskusi advokasi konflik tanah Dago Elos. Pemantik diskusinya pemuda dari Dago Elos dan mahasiswa dari Unikom. Bahkan kau baru tahu bahwa begitu banyak masalah sosial di kota ini, pada kota yang dianggap sangat romantis.

Pada minggu siang di kedai Jante. Kita selalu memilih bangku pojok dengan toko buku sambil menyesap hawa Bandung yang semakin romantis menjelang sore. Di kedai ini, kau menemukan dirimu yang baru, bertemu orang-orang dari berbagai kelompok yang memiliki tujuan yang sama.

Kampus UNISBA

2 Sep 2025 21.00

Sejak dua hari yang lalu, kau tak pernah menghubungiku. Aku paham, ini momen kau mengekspresikan segala kejengahanmu terhadap apa yang kau saksikan di negeri ini. Pada sistem yang begitu tidak berpihak pada rakyat kecil bahkan mengintimidasi sampai pada ruang privasi.

Sejak tragedi tukang ojek dilindas pada aksi di Jakarta, seruan aksi meluas dan masif, tentu Bandung menjadi salah satu kota yang mendapat sorotan. Gedung Sate selalu menjadi titik kumpul menyuarakan suara-suara terpinggirkan.

Hingga momen itu tiba, saat puncak aksi semakin masif, semua tidak mampu mengendalikan diri. Kampus Unisba menjadi sasaran amukan aparat. Pada malam yang panjang, aparat menghujani kampus Unisba dengan serangan gas air mata secara brutal, mungkin juga peluru, entahlah.

Aku tidak memikirkan apa-apa selain dirimu. Aku yakin kau sedang berada di dalam kampus karena menjadi titik konsolidasi para aktivis di kota ini. Aku sama sekali tidak menyesal membuatmu terjebak di dunia seperti yang sedang kau jalani. Hanya saja, aku merasa bersalah jika terjadi apa-apa denganmu.

Ada hari ketika aku merindukan berdua menghabiskan sisa-sisa rasa bangku taman, pada toko buku, dan setiap ruang yang kita akrabi. Aku terlalu terlalu khawatir tidak lagi melewati momen-momen itu.

RSUD Tamansari

5 September 2025, 23:15 WIB

Kau terbaring lemah dengan selang infus yang masih terpasang, sesekali mengerang untuk sekadar mengurangi rasa sakit di sekujur tubuhmu. Aku duduk terpaku di samping ranjang tempatmu berbaring. Hanya menatap nanar pada wajahmu yang terus meringis kesakitan.

Ada tiga aparat di ruang tunggu, berbaju kaos oblong, pura-pura asyik dengan handphone masing-masing sambil main game. Aku sangat paham bahwa mereka terus berkoordinasi dengan pimpinan mereka. Setiap beberapa menit mengawasi gerak-gerikku di dalam kamar inap samping ranjangmu.

Semalam, kau ditemukan tukang ojek di taman Lansia dalam keadaan setengah sadar. Sekujur tubuhmu dipenuhi darah yang mulai mengering, mereka mengira kau tak tertolong lagi, namun mungkin semesta masih menjaga mimpi-mimpimu. Tidak ada yang tersisa di badanmu selain pakaian yang kau kenakan. Semua barang-barangmu raib.

Aku mendekat ke arahmu ketika menyadari ada gerakan tangan seperti memanggil. Kudekati kupingku ke mulutmu yang sedang komat-kamit. Kau seperti akan menanyakan sesuatu, mungkin tentang impian-impian kita yang belum tercapai, atau mungkin tentang Kucing liar yang selalu kau beri makanan di depan kosmu, apakah dia sudah makan atau belum.

“Aku ingin hidup sekali lagi, sekadar menyaksikan negeri ini menjadi negeri yang Gemah Ripah Loh Jinawi. Kapan rakyat hidup makmur di negeri ini?”

Dengan setengah sadar, kau menyerangku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu kujawab, atau mungkin kau tidak butuh jawaban dariku.

Sepersekian detik setelah kudaratkan kecupan di keningmu, aku berlalu sambil mengguman,

Kirana, gadis mungil dan kata tanya yang tak lagi sama