Kirana Membenci Sisifus

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada Kedai Jante yang semakin menghitam
Kirana muak dengan Sisifus,
22.24
Kita masih duduk di bangku depan kedai tanpa sekalipun ingin beranjak pulang. Wajahmu sendu menyisakan genangan di sudut matamu, tentang harapan yang begitu cepat sirna.
Tadi selepas maghrib, kita ikut diskusi buku di Kedai Jante, buku tentang pemikiran Rosa Luxemburg. Kau terkesima berkali-kali dan memutuskan membeli bukunya di lapak depan pintu.
"Ah, mulai sekarang, aku benci pada Sisifus. Begitu muak pada tokohnya yang asik pada pergulatan eksistensinya." Gumammu dengan suara yang terdengar lirih.
Aku tidak ingin mengusik dialektika di alam pikiranmu. Kau sedang mencoba mencari sintesis pada setiap antitesis yang kau hadapi beberapa hari terakhir.
"Seharusnya dia tidak legowo menerima hukuman mendorong batu, toh dia punya kehendak bebas untuk mengubahnya. Sisifus pantas dihukum lebih berat lagi. Dia menciptakan imaji tentang dunia yang asik pada dirinya sendiri."
Setelah ikut kajian tentang dominasi kelas, kau begitu sangat fasih mengkritik konsep absurditas yang menurutmu terlalu receh, atau mungkin juga kau menganggap bahwa kondisi itu hanyalah output bukan sumber masalah.
Pembacaan tentang dominasi kelas dan kemampuan manusia mengubah struktur membuatmu muak pada segala bentuk penerimaan nasib, termasuk orang-orang yang asik dengan pergulatan eksistensi diri.
Entah mungkin juga kau merelevansikan dengan kejadian yang kau alami, pernikahan yang merupakan komoditas bisnis ayahmu, sementara kau sudah membayangkan momen-momen indah bersama pria brengsek yang pergi begitu saja mencampakkanmu.
Aku masih ingat begitu antusiasnya kau mencari buku-buku karya Albert Camus setelah menamatkan novel tipis "The Stranger" yang kubelikan untukmu ketika kita menyambangi pasar Palasari.
Aku ingat, sesaat setelah kita pulang dari kafe di bilangan Lengkong, kau memaksaku untuk menemanimu ke Gramedia TSM sekadar mencari buku "Pemberontak."
Setiap toko buku kau datangi, Toga Mas di jalan Supratman, lalu menyeberang ke Gramedia di jalan yang sama, kemudian kita menghabiskan siang menjelang sore di perpustakaan Pusdai.
Kau tenggelam dalam pemikiran absurditas dan merasa bahwa telah menemukan hidupmu kembali. Aku hanya tersenyum tipis memandangimu seperti menyaksikan seorang bocah yang sedang menemukan hobinya.
Aku membiarkanmu menyelami pemikiran Albert Camus, pemikiran khas tokoh awal abad 20. Bagian dari Posmodernisme yang tren sebagai aliran pemikiran selama periode pascaperang.
Pada akhirnya, kau menemukan antitesis dari hasil bacaanmu dan yang terpenting adalah antites itu berasal dari pengalaman pribadimu tentang kegagalan menikah karena dijadikan sebagai komoditas pasar.
"Kenapa kau mulai muak pada Sisifus."
Aku berusaha menanggapi ocehanmu yang tak berhenti sejak tadi, kau seperti remaja yang terlalu banyak minum anggur dan mabok di antara pergumulan pemikiran.
Sepertinya menjalani hidup tidak hanya sekadar menjadi Sisifus tetapi harus seperti manusia yang menolak berdamai dengan absurditas meski kemungkinan gagal dan hancur bersamanya.
Percakapan kita akhirnya berakhir pada persoalan eksistensial, tentang apa tujuan hidup sebenarnya.
"Apa sebenarnya yang kita harus kejar di dunia ini? Jika tidak ada tujuan, ngapain juga hidup." Akhirnya kau mengeluarkan pertanyaan yang selama ini mengganggu pikiranmu.
Pada kedai dan malam yang sudah begitu larut, kita sepakat bahwa manusia selalu akan mengejar kebahagiaan dalam hidupnya, meski konsep kebahagiaan itu tidak tunggal, dan bebas saja ditafsirkan oleh masing-masing manusia yang menjalani hidupnya.
Ada yang mendefinisikan sebagai Eudaimonia, Hedone, dan berbagai aliran yang begitu tekun mencari makna bahagia. Aliran pemikiran demikian adanya, mazhab Hedonisme, Utilitarianisme, dan ajaran agama baik agama Samawi maupun Dharmik, semua mengiming-imingi tentang akhir yang bahagia.
"Aku juga berhak bahagia tanpa harus peduli omongan orang lain." Kau berteriak yang membuat kang parkir menoleh lalu pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Kita memandangi langit Bandung dari jalan Laswi, cukup terang dengan beberapa bintang yang seakan sedang mendoakan rapalan doa-doa kita di kedai ini.
Atau mungkin saja, bintang-bintang itu seakan turut prihatin atas pergulatan eksistensi diri yang sedang kau alami setelah hatimu remuk oleh kenyataan.
Aku tidak mampu memahami seperti apa yang kurasakan, mungkin kau tau aku ingin kita menghabiskan sisa hidup berdua di kota Kembang, mengulangi dosa-dosa masa lalu, pada bau keringat yang beradu di hotel murah, atau pada pelukan erat di setiap taman yang kita sambangi.
Namun aku pun tidak tega melihatmu menguras air mata, pada kenyataan yang menyakitkan. Kau pulang dengan niat menjalani hari-hari yang baru, namun yang kau temui adalah luka penuh darah.
Kau mengajakku beranjak dari kedai ini, membayar jasa parkir lalu melaju dengan motor sewaan.
"Ayo kita mengitari kota ini semalam suntuk." Ajakmu dengan penuh keyakinan.
Aku mengarahkan motor ke arah jalan Ahmad Yani, tujuan kita ke daerah Braga, tempat yang selalu ramai meskipun malam sudah semakin menua.
Dari belakang, kau tidak ragu merangkul dengan begitu erat, membiarkan kepalamu bersandar di bahuku lalu asik dalam pergumulan sisa luka yang terbawa dari kotamu.
Lampu jalanan yang berderet seperti ingatan-ingatanku pada setiap kenangan yang pernah kita habiskan di kota ini, angin merasa serasa memecah kepalaku. Meski orang-orang mengeluhkan Bandung yang semakin panas, tetapi aku selalu merasa kota ini menemukan kehangatan di malam hari.
Aku menyukai Bandung menjelang malam tenggelam. Suara kendaraan semakin hilang dan yang tersisa hanya kenangan pada momen kebersamaan kita.
Kita tidak mengobrol di atas motor, kita asik pada pikiran masing-masing. Kau berusaha menyembuhkan luka sementara aku menata kembali bayangan momen indah bersamamu.
Kirana
Malam ini, aku tahu kita akan berakhir pada pergumulan dua hati yang pernah berjarak, tapi setidaknya apa yang kita akan kita rencanakan di masa depan.
Seperti katamu yang membenci Sisifus karena tidak kuasa mengubah dunianya, maka kita sebaiknya mengubah hidup tanpa diinterupsi oleh siapapun, termasuk orang tuamu.
Aku mendengar napasmu, teratur, seolah kau sedang menahan sesuatu pada hatimu yang sedang rapuh. Aku menyadari kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa dikejar malam ini.
Bukan juga sesuatu yang bisa diputuskan. Kita hanya menikmati momen malam ini, melewati kota yang tidak bertanya dan tidak menjawab, diam dalam sunyi sambil membiarkan kita tersiksa pada dunia yang absurd.
Pada bangku pinggir jalan di Braga, kau menatap kosong jalanan yang tetap ramai. Kau menyangsikan segalanya dan tak percaya apa-apa selain dirimu.
Sudah begitu lama aku tidak bersujud bahkan entah sampai kapan. Sesering aku melakukannya maka yang kutemui hanyalah kekosongan dan nyaris berakhir pada kesia-siaan. entah apa yang sebenarnya sedang menyelimuti hatiku, sementara kenangan masa kecilku dipenuhi dengan ketekunan menyelami rutinitas mempelajari agama.
Aku sudah terlalu lama lupa hangatnya air wudhu, tenangnya pikiran saat sujud, dan damainya hati sesaat setelah salam. Aku lupa dan sudah lupa kapan terakhir itu terjadi dalam diriku.
Kau jatuh dalam pelukanku di malam itu, sambil berbisik dengan sedikit lirih,
Aku hanya ingin bahagia sekali lagi.
Kirana, aku akan membantumu bahagia lahir batin
