Muntah

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suatu waktu sehabis maghrib setiba di kos, aku tiba-tiba muntah dan hampir saja tidak sadarkan diri. Tentu aku tidak terlalu panik karena sering mengalami hal serupa, khususnya ketika terlalu sering bertemu manusia.
Hal yang tidak bisa karena semua jenis asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhku selama seminggu, berceceran di lantai kamar. Biasanya hanya memutahkan satu jenis makanan saja.
Aku tidak ingat persis semuanya karena kepalaku begitu pusing. Aku mulai paham bahwa ini bukan kondisi yang sering kualami ketika sakit perut, cukup ke toilet lalu semuanya selesai. Ini lebih dari yang kubayangkan
Kesadaranku semakin menurun, hanya sebagian yang terekam di memoriku menyaksikan makanan satu bersatu antri keluar dari mulutku. Ada gibah yang terlalu banyak keluar. Aku mengingat kembali hari-hari yang kujalani, beberapa kali aku menelan gibah bahkan jauh dari porsi yang sering kukonsumsi.
tidak hanya gibah yang berceceran namun juga iri. Entahlah, aku sudah sekuat tenaga menahan nafsu untuk mengkonsumsi iri namun tak tertahankan. Aku pun tidak tau kenapa iri jadi santapanku karena toh tidak sehat, terlalu asin.
Aku kira akan berhenti di iri ternyata jauh lebih parah. Sisa makanan iri keluar bercampur dengan dengki sehingga warnanya hitam pekat. Sejak kecil, ibuku menyarankan untuk tidak mengkonsumsi dengki karena makanan tersebut bisa merusak sel-sel hati namun tetap saja, mungkin karena aku belum mampu menekuni tirakat.
Sebenarnya, amarah bukan makanan yang kuhindari karena toh masih enak namun mungkin karena porsinya terlalu besar sehingga membuatku demam. Aku tahu bahwa porsi makanan amarah harus ditakar, kapan mengkonsumsi dan kapan menghindarinya tetapi namanya manusia, kita kalap jika sedang lapar. Semua jenis makanan disantap.
Lalu aku juga mencium bau dendam yang keluar dari mulutku. Aku tahu bahwa sisa makanan dendam ini karena porsi amarahku yang terlalu banyak sehingga ketika seharusnya sudah cukup, tetap masuk ke dalam rongga mulutku.
Perlahan-lahan, kesadaranku semakin menipis dan pandanganku berkunang-kunang. Hanya muntahan yang sempat kulihat sebelum semuanya menjadi gelap. Aku merasa kemungkinan masih ada sisa-sisa makanan lain namun tak terlihat.
Esok harinya, aku menyadari sekujur tubuhku tak berdaya dan terbaring di ICU. Aku menyadari bahwa penyakit yang sedang kuderita bukan dari luar tapi dari dalam diriku sendiri. Penyakit yang tidak mengharuskan aku minum obat 3x sehari tetapi harus membiasakan diri untuk melepaskan segala kebiasaan negatif.
Aku semakin ngantuk dan perlahan menutup mata untuk sekadar melepaskan penat. Dalam hati berikrar bahwa aku akan melepaskan makanan jiwa yang meracuni nuraniku. Aku juga sadar tidak bisa melepaskan semua dalam waktu singkat tetapi harus dilatih hari demi hari agar batinku terbiasa mengontrol setiap makanan yang masuk ke dalam tubuhku.
Aku istirahat sejenak dari hiruk pikuk dunia dan terbuai dalam dunia mimpi.
