Konten dari Pengguna

Renungan Akhir Pekan

Minhaj

Minhaj

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemandangan dari atas tol MBZ. Photo: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan dari atas tol MBZ. Photo: Dokumentasi Pribadi

Apa yang paling menyiksa dari sebuah perjalanan? Saat ketika kita menyadari sedang berjalan menjauh dari jejak masa lalu dan anehnya, kita selalu ingin kembali. Itulah hidup, siklus yang pasti akan dilalui.

Sudah begitu lama aku mengejar makna, namun berakhir hampa karena di ujung hanyalah fatamorgana. Kemana waktu yang kita persiapkan untuk masa depan? kemana semua harapan-harapan yang indah?

Dari atas tol MBZ, aku menatap nanar cahaya yang terpendar dari matahari yang sebentar lagi tenggelam. Aku mencoba dengan sekeras usaha mendengarkan hati yang sedang berbisik, menguak rahasia yang tersimpan, lalu menyusun serpihan hikmah yang tak kasat mata.

Setidaknya sekali dalam seminggu, aku melintasi jalanan ini, pada titik-titik kebosanan kehidupan. Tentang diri yang mengemis rindu pada keluarga dan tentang tanggung jawab yang tetap harus ditunaikan.

Jika perjalanan adalah prosa dari kehidupan maka diksi-diksinya serupa momen bahagia dan sedih, sementara aku hanya tersisa dari harapan-harapan palsu. Aku membaca setiap bait-baitnya, serupa Lebah yang tekun menyusun sari bunga menjadi gumpalan madu.

Jalanan ini, menjadi siksaan terpanjang pada rindu yang tergulung keadaan. Serupa Sisifus yang harus mendorong batu ke atas bukit lalu jatuh kembali sebelum tiba di puncak, begitu seterusnya sampai pada titik di mana manusia menyadari hidup ini adalah ruang kosong.

Bau gosok menyeruak dari gesekan ban dengan jalanan, dari jauh tampak Karawang dengan rimbunnya pabrik layaknya hutan bangunan. Aku sesekali termangu, meratapi manusia yang tak habisnya mengejar benda-benda.

Mengumpulkan apa yang tak dipergunakan hanya demi validasi diri, pada akhirnya menjadi penderitaan kehidupan. Demikianlah kisah sang pejalan panjang, pencari makna yang tak jua bertemu.

***

Aku menjumpai-Mu sesaat setelah penat melarungi jalanan panjang ini. Jalanan yang serupa hukum tentang kerinduan, tentang pilihan-pilihan hidup.

Pada pertemuan kita yang serupa malam yang larut, maka Engkau adalah bintang-bintang di langit yang memberikan secercah harapan, sementara aku hanyalah angin yang menambah dinginnya malam.

Dalam sunyi ketika malam semakin menua, aku bertanya kepada diriku, kemana langkah kita akan dijejak dan sejauh mana kita harus berjalan, dan pada akhirnya apa yang kita inginkan.

Kerapkali aku memburu pikiranku yang terlalu cepat bergerak, namun tak jua kutemui dia di masa depan. Saat tiba pada titik di masa yang dia pikiran, aku mendapatinya kembali ke masa lalu. Sungguh melelahkan mengejar pikiran yang entah kemana.

Dia tidak pernah tinggal di detik ini, di setiap pencapaian yang sudah kuraih. Dia selalu bergerak melingkar, dari masa lalu ke masa depan kemudiang menawariku taman bunga yang ternyata hanya fatamorgana.

Yang tersisa kemudian adalah ketika dia sudah ada di masa depan, aku merasa sangat cemas dan khawatir. Sementara aku merasa sangat sedih ketika dia kembali ke masa lalu mengenang seluruh serpihan langkah yang sudah terlampaui.

Aku lupa bahwa Engkau telah menceritakan kepadaku;

"Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan bersedih hati."

Aku berusaha untuk percaya bahwa hidup bukan tentang mengejar waktu, melainkan tentang memeluknya. Belajar untuk tetap sadar dalam setiap detiknya. Pikiran terlalu terburu-buru maka dia harus dipeluk, jangan terbawa olehnya.

Dari atas Tol MBZ, aku mulai menyadari satu hal, hidup adalah putaran roda antara harapan dan kesia-siaan, semakin kita berharap maka akan semakin sia-sia apa yang akan kita dapatkan.

Demikianlah....