Konten dari Pengguna

Sialan, Besok Senin

Minhaj

Minhaj

Karyawan Unisa Bandung. Pejalan Panjang

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Minhaj tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rest Area KM 72, tempat singgah setiap minggu malam. Photo: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Rest Area KM 72, tempat singgah setiap minggu malam. Photo: Dokumentasi Pribadi

Sialan, Senin datang lagi menghantuiku yang berarti aku harus bekerja lagi dalam sepi dengan tumpukan dokumen di atas meja. Pura-pura sibuk lalu pikiran melayang ke akhir pekan.

Apa yang salah dengan hari senin, kenapa para pekerja begitu membencinya? Minggu siang menjelang senin bagaikan teror bagi pekerja, mereka sudah memikirkan betapa begitu beratnya harus melalui kembali awal pekan yang melelahkan, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental.

Rasanya selalu berat ketika menyadari bahwa hari minggu sudah menjelang sore, hidup seakan kembali ke dalam ruang yang dibonsai tanpa kemerdekaan. Membayangkan betapa harus tertunduk pura-pura serius di depan laptop sambil mendengarkan playlist lagu favorit, lagu berhenti berharap dari SO7.

Minggu sore, aku harus bergegas mempersiapkan kebutuhan untuk kembali ke tempat kerja, tugas-tugas yang menumpuk dan mental untuk memulai segala drama di kantor. Selalu seperti ini bahkan aku merasa berjalan secara mekanik tanpa kontrol sadar atas apa yang harus kujalani.

Entah berapa tahun silam, aku mendengar ungkapan bahwa kantor adalah 20% kerja dan 80% drama. Mungkin iya tapi tergantung sih, ada orang-orang yang tidak ingin menjadikan drama sebagai bagian dari kehidupannya di kantor, namun di negeri yang masyarakatnya masih suka mengurusi privasi orang lain maka drama tidak akan bisa dihilangkan.

Lupakan tentang drama, mari kita menelisik tentang hari senin yang menjadi momok bagi manusia modern dan dianggap sebagai rutinitas yang given padahal pernahkah kita mempertanyakan kembali, kenapa kehidupan kita dipenjara dalam rutinitas seperti saat ini. Kerja hari senin sampai jum'at kemudian libur sabtu minggu.

Hakikat Kerja

Aku akan mulai dari pemaknaan tentang kerja. apa itu bekerja dan kapan seseorang dianggap sedang bekerja? Kita sering mengatakan bahwa kita akan bekerja, kita sedang bekerja, kita sudah bekerja, kerja, kerja, kerja, namun tidak benar-benar paham apa hakikat dari kerja.

Umumnya, kerja diartikan sebagai aktivitas manusia melakukan sesuatu. Definisi ini tentu masih sangat abstrak karena melakukan sesuatu banyak sekali bentuknya dan belum tentu ketika kita melakukan aktivitas maka kita sedang bekerja.

Salah seorang filsuf yang menenggelamkan dirinya dalam penelusuran tentang makna kerja adalah Karl Marx yang direlevansikan dengan kondisi faktual masyarakat pada zamannya. Namun meskipun sekian puluh tahun berlalu, apa dielaborasi oleh Marx masih relevan dengan apa yang sedang kita saksikan hari ini.

Marx memandang bahwa kerja merupakan sebuah tindakan khas manusia dalam rangka mengubah alam. Melalui bekerja, manusia tidak dapat melepaskan diri dari alam karena ketika manusia bekerja, ia memasuki dimensi alam dan menjadi bagian dari alam itu sendiri (Franz Magnis Suseno, 2005).

Mungkin ini masih sangat abstrak tetapi intinya bahwa pada awalnya manusia bekerja tidak bisa lepas dari alam misalnya petani menanam padi, tukang kayu mengolah karya dengan menggunakan bahan dari hutan. Maka manusia tidak bisa lepas dari alam bahkan menjadi bagian dari proses alamiah.

Dalam hal ini, pengertian kerja yang paling mudah divisualisasikan sebelum pada akhirnya, sistem memaksa manusia mengembangkan berbagai varian kerja yang abstrak seperti yang kita temui sekarang. Kita abstrak yang seolah-olah berguna namun ketika kerja tersebut dihilangkan, tidak berpengaruh apa-apa terhadap eksistensi manusia.

Kerja kemudian memiliki makna yang sangat mendasar misalnya kerja menjadi pembeda antara manusia dengan hewan. Manusia selalu mendasarkan aktivitasnya pada kebebasan dan rasionalitasnya dan bukan sekedar dikontrol oleh kebutuhan fisik dan sensualitas (Raharusuna,2021). Sementara hewan bekerja secara naluriah hanya untuk memenuhi kebutuhan fisiknya untuk tetap survive.

Selain itu, kerja juga merupakan aktualisasi diri manusia untuk tetap mempertahankan eksistensi diri. Prof Magnis menyatakan bahwa pada dasarnya, manusia bekerja dengan perasaan bangga. Maka seharusnya hari senin yang dipersepsikan sebagai awal pekan untuk memulai aktivitas bekerja disambut dengan suka cita dan rasa bangga, namun realitasnya sangat berbeda. Kita menangisi senin sebagai awal penyiksaan eksistensi diri.

Senin yang Mencekam

Masyarakat modern bekerja tidak lagi sebagai proses aktualisasi diri demi mempertahankan eksistensi sebagai manusia. Kita dan juga aku tentunya, seringkali terasing dari apa yang kita kerjakan dan apa yang kita kenal sebagai karya.

Manusia tidak lagi merasa bahagia dan bangga dalam mengerjakan pekerjaannya, sistem memfabrikasi manusia dalam bentuk yang lebih mekanik, bekerja untuk mengakumulasi profit dan pada akhirnya manusia lelah secara mental. Kondisi keterasingan disebut oleh Marx sebagai bentuk alienasi.

Kita tidak lagi menjalani hari-hari bekerja sebagai bentuk kebahagiaan tetapi bekerja untuk menunggu tanggal 25, merasakan sensasi saldo rekening bertambah namun esok harinya, kembali menipis setelah membayar cicilan, memenuhi kebutuhan fisik lalu tenggelam kembali dalam proses pencapaian target.

Masyarakat modern tidak lagi merasakan aktivitas yang utuh dan bermakna sebagai makhluk yang berkesadaran. Kerja berubah bentuk menjadi sekadar waktu kerja yang ditukar dengan upah. Kita hanya memikirkan bagaimana menghasilkan uang sebanyak-banyaknya tanpa mencoba menghasilkan karya yang memuaskan diri kita sebagai seorang manusia.

Maka tidak mengherankan jika sebagian dari kita menganggap bahwa senin merupakan hari yang mencekam karena kita memaknai bekerja bukan lagi sebagai sebuah kebahagiaan tetapi keterpaksaan yang harus dijalani, jika tidak maka tentu kekhawatiran akan kebutuhan finansial akan terganggu.

Senin menjadi semacam alarm bagi kita bahwa kita kembali akan bergelut di ruang dan waktu yang mungkin saja tidak kita inginkan, mengingatkan kita pada tagihan yang harus segera dibayar, gaji yang selalu dianggap kecil, dan sebagai kerja-kerja yang mungkin dianggap sia-sia.

Tidak ada kiat untuk menghilangkan rasa benci pada senin selama manusia tidak mencintai pekerjaannya, maka selama itu pula, senin menjadi sosok yang menakutkan.

Mungkin, ini mungkin loh ya, kita tidak benar-benar membenci hari senin tetapi pada dasarnya yang kita benci adalah perasaan dalam diri kita yang menyadari bahwa kita tidak benar-benar berada di tempat yang sesuai dengan apa yang ingin kita kerjakan. Pada akhirnya, hari senin menjadi deklarasi perang mental bagi para pekerja.

Sialnya aku menulis ini tepat pada minggu malam dan menyadari besok sudah hari senin lagi. Aku harus menata kembali hati yang berat untuk memulai lagi.

Betapapun, aku harus menjalani senin sebagai bagian dari repetisi yang akan mempertemukanku dengan serpihan makna kehidupan yang selama ini kucari.

Entahlah, Albert Camus tertawa terbahak-bahak membaca kalimat terakhirku.