News
·
24 Juli 2021 9:37
·
waktu baca 3 menit

Solidaritas Global dalam Pandemi

Konten ini diproduksi oleh Mochammad Iqbal
Solidaritas Global dalam Pandemi  (614717)
searchPerbesar
Vaksin COVID-19. Foto oleh Spencer Davis dari Pixabay
Di tengah gelombang tinggi pandemi COVID-19, negara-negara saling bantu. Solidaritas global mengemuka. Namun solidaritas global bukan seperti Mr. Bean yang jatuh dari langit dalam setiap intronya dan membuat setiap pemirsa tersenyum. Solidaritas global punya tantangan besar tersendiri, di antaranya masalah ketimpangan akses terhadap vaksin.
ADVERTISEMENT
Pertengahan Juli, Kumparan memberitakan Indonesia merupakan episentrum baru di Asia, melewati India. Di tengah berbagai kesulitan yang dihadapi Indonesia, sejumlah negara sahabat mengulurkan bantuan. Negara tetangga, Singapura, merupakan salah satu negara yang paling cepat merespons situasi di Indonesia. Tanggal 9 Juli 2021 bantuan pertama Singapura di masa PPKM Darurat datang di Indonesia berupa 200 ventilator dan 256 tabung oksigen kosong kapasitas 50 liter serta berbagai alat kesehatan lainnya. Bantuan kedua Singapura tiba tanggal 14 Juli 2021 yang terdiri dari 50 tabung oksigen isi kapasitas 50 liter, 2 buah ISO Tank, 570 Oxygen Concentrator,600 nasal cannula dan 600 bubble humidifier.
Australia tak kalah cepat dalam memberikan dukungan bagi Indonesia. Di hari yang sama saat bantuan pertama Singapura tiba, Indonesia menerima seribu ventilator dari Australia.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya negara yang memiliki jumlah kasus kecil seperti Singapura dan Australia, India yang telah berhasil mengendalikan gelombang keduanya mengirimkan bantuan berupa 300 konsentrator oksigen dan 100 metrik ton oksigen cair ke Indonesia dengan Kapal Angkatan Laut India (INS) Airawat yang berlayar tanggal 16 Juli lalu. Negara-negara tersebut hanyalah sebagian dari banyak negara yang membantu Indonesia tangani COVID-19. Bukti solidaritas global bukanlah jargon tanpa makna.
Tidak hanya di ranah kuratif, solidaritas global terwujud dalam ranah preventif melalui distribusi vaksin. Salah satu perwujudannya adalah Aliansi Global untuk Akses Vaksin COVID-19 (COVAX). Aliansi tersebut digawangi oleh Aliansi Vaksinasi dan Imunisasi Global, Koalisi untuk Inovasi Persiapan Epidemi (CEPI), serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hingga 20 Juli 2021, COVAX telah mengirimkan lebih dari 135 juta vaksin ke 136 negara yang menjadi pesertanya. Indonesia sendiri telah menerima 11.704.800 dosis vaksin AstraZeneca dan 4.500.160 dosis vaksin Moderna. Sementara itu Dubes Tiongkok di Jakarta menyatakan bahwa RRT telah mengekspor dari hampir 100 juta dosis vaksin dalam bentuk jadi maupun setengah jadi selama pandemi.
ADVERTISEMENT
Indonesia sendiri tidak hanya berperan sebagai penerima dalam tetapi juga secara aktif mengirimkan bantuan bagi negara-negara sahabat. Pemerintah dan asosiasi industri telah mengirimkan 200 unit konsentrator oksigen dan 1400 tabung oksigen ke India saat pandemi sedang memuncak di negeri tersebut pada bulan Mei 2021 yang lalu. Di awal pandemi, bulan Februari 2020, Indonesia membantu Tiongkok dengan mengirimkan bantuan berupa masker, baju APD, dan kacamata pelindung. Di tahun yang sama, Indonesia memberikan hibah, termasuk untuk penanganan pandemi, kepada negara-negara tetangga seperti Timor Leste, Fiji, dan Kepulauan Solomon senilai 30 miliar rupiah.
Peran aktif Indonesia tersebut merupakan wujud solidaritas Indonesia terhadap negara-negara sahabat serta pengejawantahan amanat konstitusi untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasar kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
ADVERTISEMENT
Solidaritas global bukan sesuatu yang jatuh dari langit, ia perlu diperjuangkan. Di tengah berbagai contoh solidaritas di atas masih terdapat banyak PR bagi dunia. Salah satunya adalah ketimpangan akses vaksin COVID-19.
Jika kita tengok data yang dikompilasi dan diolah oleh Our World in Data, per 19 Juli 2021 sebanyak 2,07 miliar orang telah menerima suntikan pertama vaksin COVID-19 . Dari jumlah tersebut, sebanyak 51,4% hidup di negara berpendapatan tinggi. Sementara itu yang tinggal di negara berpendapatan menengah atas (termasuk RRT) hanya 35,6% dari jumlah total tersebut. Negara berpendapatan menengah ke bawah mencakup hanya 15% populasi dunia yang telah divaksin setidaknya sekali. Dan hanya 1,1% populasi yang pernah sekali disuntik vaksin COVID-19 berasal dari negara miskin.
ADVERTISEMENT
Dengan statistik yang timpang tersebut pertanyaannya adalah seberapa lama lagi dunia harus menghadapi pandemi? Dirjen WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahkan mengatakan bahwa ketimpangan akses vaksin merupakan hambatan terbesar untuk akhiri pandemi.
Oktober 2020, India dan Afrika Selatan mengajukan proposal kesepakatan pengabaian sebagian ketentuan dalam perjanjian Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS) guna pencegahan, penanggulangan dan pengobatan COVID-19, yang disebut TRIPS waiver. Kedua negara tersebut berharap dengan TRIPS waiver akan mempermudah dan meningkatkan skala produksi produk terkait COVID-19, seperti APD, obat-obatan, dan vaksin, untuk mencegah, menanggulangi dan treatment COVID-19. Proposal India dan Afrika Selatan tersebut mendapat dukungan lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia.
Proposal tersebut ditentang oleh awalnya ditentang sejumlah pihak seperti Uni Eropa, Australia, Kanada, dan Brasil. Setelah AS menyatakan mendukung TRIPS waiver di era Presiden Joe Biden. Dalam perkembangannya beberapa negara mulai menunjukkan perubahan sikap. APEC, di mana anggotanya antara lain Australia dan Kanada, menyerukan perundingan terkait teks proposal kesepakatan TRIPS waiver. Sedangkan negara-negara BRICS, termasuk Brasil, menyatakan dukungan atas diskusi terkait TRIPS waiver untuk atasi pandemi COVID-19. Meskipun perubahan sikap beberapa penolak awal tersebut belum mengindikasikan disepakatinya TRIPS waiver. Tentu negosiasi membutuhkan proses yang tidak sebentar mengingat sebagian penolak adalah basis perusahaan farmasi yang memproduksi vaksin COVID-19.
ADVERTISEMENT
Indonesia sendiri secara konsisten menyuarakan pentingnya kesetaraan akses vaksin. Presiden RI menyampaikan hal tersebut dalam berbagai forum seperti Sidang Umum PBB, G20, dan Global Health Summit. Bulan Januari 2021 Menlu RI terpilih dengan suara terbanyak sebagai salah satu dari dua Co-Chair yang mewakili 92 negara yang berhak mendapat distribusi vaksin dari COVAX. Menlu berulang kali menyuarakan pentingnya kesetaraan akses vaksin pada saat memimpin pertemuan COVAX engagement group dan menyambut kedatangan vaksin Astrazeneca beberapa waktu yang lalu.
Selain menyuarakan akses terhadap vaksin dan obat-obatan yang lebih adil serta mendukung TRIPS waiver, RI bersama ASEAN juga mendorong pembentukan ASEAN Regional Center on Public Health Emergencies And Emerging Diseases dengan dukungan Jepang. RI bahkan menyatakan kesiapan menjadi host bagi lembaga tersebut.
ADVERTISEMENT
Saat ini adalah saat di mana dunia harus menerapkan ungkapan bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Solidaritas global dapat mempercepat selesainya pandemi. Tetapi solidaritas ini tidak jatuh dari langit, ia tetap perlu diperjuangkan guna menjaga asa segera berakhirnya pandemi.