Kumparan Logo

Bahlil Buka Opsi Moratorium Smelter Nikel yang Produksi Bahan Setengah Jadi

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Jumat (11/9). Foto: Argya Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Jumat (11/9). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, membuka peluang kembali menerapkan penghentian sementara atau moratorium fasilitas pengolahan atau smelter nikel yang hanya memproduksi produk setengah jadi.

Bahlil mengatakan berkat program hilirisasi mineral, nilai ekspor komoditas nikel melejit dalam hampir satu dekade, dari USD 3,3 miliar pada 2017, menjadi kurang lebih USD 38-40 miliar pada 2026.

Namun, dia menyoroti kalau mayoritas smelter di Indonesia hanya mengolah 50-60 persen bahan baku alias setengah jadi, dan belum sampai kepada produk hilir. Bahan setengah jadi itu kemudian diekspor untuk diolah di luar negeri, lalu diimpor kembali sebagai bahan jadi.

Nantinya, dia akan melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait opsi moratorium smelter nikel yang hanya memproduksi barang setengah jadi.

"Dalam diskusi saya dengan tim, penting untuk kita mulai memilih mana industri yang tetap kita lanjutkan dan mana industri yang perlu kita melakukan moratorium, supaya pengelolaan sumber daya alam kita tidak gila-gilaan," ungkap Bahlil saat Investor Daily Summit 2026, Rabu (7/10).

Ditemui usai acara, Bahlil menekankan pemerintah mengkaji kembali kebijakan tersebut di tengah kondisi kelebihan pasokan (oversupply) yang membuat harga bijih nikel jatuh, yang mayoritasnya disumbang dari Indonesia.

"Kebutuhan dan cadangan sekarang ada 2,5 juta, ini kan oversupply, makanya harganya lagi jatuh. Kita dapat pertimbangkan untuk industri yang setengah jadi ini kita mulai mencoba untuk meminimalisir, bahkan mungkin kita melakukan moratorium, sementara yang kita dorong adalah industri-industri yang produk hilirnya langsung," tutur Bahlil.

Ilustrasi ore nikel. Foto: Potapov Alexander/Shutterstock

Di sisi lain, jumlah produksi bijih nikel tahunan Indonesia yang diperketat otomatis membuat pasokan untuk smelter nikel juga berkurang. Menurutnya, pemerintah tidak bisa terus menerus memenuhi permintaan yang berlebih.

"Sekalipun kebutuhan smelter itu tinggi, tapi kita melihat produk akhirnya terhadap supply and demand global. Kalau kita mengikuti terus permintaan smelter, itu harga kita pasti akan jatuh," tegas Bahlil.

Sehingga, alih-alih memproduksi besar-besaran, pemerintah banting setir untuk memotong kuota produksi tahun ini untuk memulihkan kembali harganya di pasar internasional. Untuk smelter yang tidak bisa beroperasi karena kekurangan pasokan, Bahlil memastikan akan mengatur kembali ketersediaannya.

"Barang kita kan enggak boleh jual murah. Jadi kemungkinan besar, sekalipun kapasitas terpasang contoh katakanlah 10, mungkin yang akan bisa berproduksi selama kita masih terjadi oversupply tidak sampai 10. Itu yang kita akan atur ya," tutur Bahlil.