Danantara Dukung Rencana KAI Kembali Impor KRL Bekas Jepang

Danantara mendukung rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI bisa kembali mengimpor gerbong (trainset) KRL bekas dari Jepang.
Chief of Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengaku belum membahas kebijakan tersebut dengan Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin. Namun, ia mendukung wacana tersebut.
“Pada dasarnya tentu kita mendukung apapun yang dibutuhkan dalam langkah percepatan transportasi kita. Karena memang kereta api kan menjadi salah satu transportasi publik yang diharapkan oleh pemerintah itu bisa menurunkan banyak hal,” ujar Dony kepada wartawan di Hotel Kempinski Jakarta, Kamis (8/10).
Dony menjelaskan jika sistem transportasi publik berjalan dengan baik, maka akan berdampak positif kepada penurunan polusi dan konsumsi bahan bakar, hingga percepatan pembangunan perkotaan baru. Sehingga kepadatan di Jakarta bisa menurun.
“Nah ini makanya pada dasarnya kami tentu sangat mendukung, tinggal nanti kita bisa dengan Dirut KAI, berapa banyak yang dibutuhkan oleh KAI untuk memenuhi kebutuhan daripada masyarakat kita," ungkap Dony.
Meski begitu, Dony menilai industri perkeretaapian dalam negeri juga perlu diperkuat, terutama melalui PT INKA (Persero). Menurutnya, entitas tersebut harus bertransformasi sehingga ketergantungan impor trainset semakin berkurang.
"Kita harus juga melihat bahwa tadi dalam rangka menuju industrialisasi, INKA juga harus bertransformasi, enggak bisa dengan kualitas yang tidak baik, tidak bisa juga," tegas Dony.
Dony mengaku telah memanggil jajaran direksi PT INKA supaya tidak berpuas diri pada kualitas dan kuantitas produksi yang ada saat ini supaya bisnisnya berkelanjutan.
"Berkaitan dengan apa yang sedang dijajaki oleh KAI, kami mendukung selama itu apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Tinggal nanti saya mungkin minggu depan akan berdiskusi dengan Dirut KAI," tutur Dony.
Sebelumnya, VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, mengatakan pengadaan KRL bekas diharapkan menjadi solusi sementara untuk memenuhi kebutuhan sarana, sekaligus menjaga kecukupan kapasitas angkut.
"Diharapkan dengan pembelian KRL bukan baru ini menjadi solusi bridging pemenuhan kebutuhan sarana demi menjaga kecukupan kapasitas angkut hingga 10 tahun ke depan," kata Karina dalam keterangan tertulis kepada kumparan, Rabu (7/10).
Karina menjelaskan pihaknya masih membahas biaya pengadaan dan berkoordinasi dengan operator KRL di Jepang. Ia menegaskan KRL yang diusulkan bukan kereta scrap, melainkan rangkaian yang saat ini masih beroperasi di Jepang. Sehingga skema yang diusulkan adalah pembelian.
"KRL bukan baru yang diusulkan dalam RDP (Rapat Dengar Pendapat) lalu merupakan KRL bukan baru, bukan merupakan KRL scrap. KRL bukan baru tersebut adalah KRL yang saat ini masih dioperasikan di Jepang sehingga usulan skema adalah bersifat pembelian KRL bukan baru," jelas Karina.
Karina menuturkan KRL bekas itu akan menggantikan sejumlah rangkaian yang telah mencapai umur teknis dan dikonservasi bertahap mulai 2026-2027. Selain itu sejak 2024, KAI Commuter juga telah mengadakan KRL baru, baik produksi dalam negeri maupun impor. Saat ini 18 trainset KRL baru telah beroperasi di wilayah Jabodetabek.
