Konten dari Pengguna

Diponegoro, Puisi yang Harus dibaca Kids Zaman Now

Moh Fajri

Moh Fajriverified-green

Editor kumparanBisnis

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moh Fajri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diponegoro merupakan salah satu puisi yang termuat dalam buku “Aku Ini Binatang Jalang” karya Chairil Anwar. Meskipun termuat sejak 1943, Diponegoro menjadi puisi yang masih relevan dan layak dibaca oleh siapapun, khususnya Kids Zaman Now.

Chairil Anwar sebagai pengarang ingin menumbuhkan jiwa kepahlawanan bangsa Indonesia, karena itu beliau memilih Diponegoro sebagai judul dalam puisinya. Sebelum memutuskan memilih judul tersebut, tentu Chairil Anwar sudah mempelajari sejarah hidup Pangeran Diponegoro dengan baik.

Seperti yang kita ketahui sebelumnya, Pangeran Diponegoro pernah membuat pasukan Belanda kocar-kacir pada saat Perang Diponegoro berlangsung. Berbagai cara diupayakan oleh Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro, termasuk melakukan sayembara penangkapan. Hingga akhirnya, Pangeran Diponegoro harus disergap secara licik oleh pasukan Belanda.

Semangat pantang menyerah dari Pangeran Diponegoro yang pernah menggerakkan rakyat pada masa itu sepertinya ingin selalu dihidupkan kembali oleh Chairil Anwar. Hal tersebut sangat penting supaya generasi zaman now tetap ingat bahwa Indonesia merdeka bukan karena sosial media. Tetapi ada pahlawan yang rela berkorban nyawa.

Dalam puisi Diponegoro sendiri terdiri dari dari dua puluh tiga baris yang terbagi dalam sebelas bait. Dalam setiap bait menggunakan rima akhir yang sama sehingga membuat puisi ini enak untuk dibaca dan didengar.

Kata benda dalam puisi ini berjumlah lima belas. Terdapat juga dua puluh kata kerja, dan delapan kata sifat, serta tiga konjungsi. Secara keseluruhan jumlah kata dalam puisi Diponegoro adalah tujuh puluh empat kata.

Pemilihan kata dalam puisi ini juga cukup sederhana. Namun meskipun sederhana, diksi tersebut merupakan diksi yang tegas. Ketegasan tersebut semakin terasa apabila puisi ini dideklamasikan.

Berikut ini adalah puisi Diponegoro karya Chairil Anwar.

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu

Sekali berarti

Sudah itu mati

MAJU

Bagimu negeri

Menyediakan api

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditinda

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai

Maju,

Serbu,

Serang,

Terjang.

Nah, itu tadi puisi Diponegoro karya Chairil Anwar yang sayang untuk tidak dibaca.