Ada Ratusan Kata Bahasa Indonesia Diserap dari Bahasa Belanda

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Interaksi selama berabad-abad antara Indonesia dan Belanda sudah tentu menyediakan ruang tersendiri untuk saling memberi warna pengaruh. Ambil misal saja sejumlah kuliner Indonesia, seperti nasi goreng, satai, dan gado-gado hingga kini masih akrab dengan cecap lidah masyarakat di Negeri Belanda. Gamelan dan tari-tarian Nusantara, pun mereka kenal dan ada sebagian di antaranya yang tertarik untuk mempelajarinya.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kata “gamelan” sudah masuk dalam khazanah kosakata bahasa Belanda. Kita tidak perlu heran, jika suatu kali mendengar ada orang dari Negeri Kincir Angin itu berkata kepada temannya, “Ik hou van de melodieuze geluid van gamelan” (Saya menyukai bunyi gamelan yang terdengar merdu). Di sini tampak, betapa kata “gamelan” telah padu menyatu dengan kata-kata lain dari bahasa Belanda.
Demikian halnya dengan kata “keris” juga telah mendapatkan tempat dalam bahasa Belanda. Kalimat “Het verhaal van de keris die Empu Gandring maakte, is ronduit angstaanjagend” (Kisah keris buatan Empu Gandring itu sungguh mengerikan), tetap memiliki standar gramatikal yang terjaga.
Dan, sebutan untuk nama kuliner asal Indonesia pun agaknya tetap mereka pertahankan. Seperti tertuang dalam lagu keroncong “Geef Mij Maar Nasi Goreng” (Beri Aku Nasi Goreng) ciptaan Wieteke van Dort (1977).
Demikian pula sebaliknya dengan bahasa Indonesia. Ada ratusan kata yang terentang dari abjad A hingga Z yang ternyata merupakan serapan dari bahasa Belanda. Tidak semua asli Belanda memang. Ada yang sebelumnya diserap bahasa itu dari bahasa lain, seperti Spanyol atau Prancis.
Kebanyakan kata-kata serapan dari bahasa Belanda itu mengalami adaptasi atau akomodasi fonetis. Proses ini terjadi ketika kata dari bahasa serapan mengalami penyesuaian ejaan dan/atau lafal sesuai dengan sistem fonologi bahasa penerima.
Dari “Arsitek” hingga “Aula”
Misalnya kata “arsitek”. Ia merupakan hasil adaptasi fonetis dari “architect”. Di sini terjadi penyesuaian fonem /ch/ menjadi /s/ dan fonem /ct/ menjadi /k/. Selanjutnya kata “arsip” yang diserap dari “archief”. Terjadi penyesuaian fonem /cf/ dengan /s/ dan /ie/ dengan /i/ serta perubahan bunyi /f/ dengan /p/.
Kemudian kata “aspal” yang merupakan hasil serapan dari “asfalt”. Pada kasus akomodasi fonetis ini, terjadi perubahan fonem /f/ dengan /p/ dan penghilangan fonem /t/. Lalu kata “asuransi (assurantie)”, ada penyederhanaan fonem dari /ss/ menjadi hanya satu /s/ saja; perubahan fonem /t/ menjadi /s/; serta penyesuaian fonem /ie/ menjadi /i/.
Selain itu ada sejumlah kata yang mengalami proses adopsi. Bahasa penerima (Indonesia) melakukan penyerapan secara persis sesuai dengan versi penulisan bahasa asalnya (Belanda).
Contohnya “aula” (De aula van de school is mooi ingericht [Aula sekolah itu tertata dengan indah]); “asbak” (Waar is de asbak? [Di mana asbak itu?]); “alias” (De verdachte, alias de man met de hoed, werd voor de rechter gebracht [Tersangka, alias orang yang mengenakan topi, dibawa ke pengadilan]).
Dari “Buncis” hingga “Breidel”
Kata “buncis” yang merupakan hasil serapan dari “boontjes” mengalami adaptasi fonetis, yaitu pengubahan fonem vokal /oo/ menjadi /u/, peringkasan fonem /tj/ menjadi /c/, dan pengubahan fonem vokal /e/ menjadi /i/. Penyederhanaan fonem vokal pun tampak pada kata “butik” (boetiek), yaitu /oe/ menjadi /u/ dan /ie/ menjadi /i/.
Ada pula proses kreasi dalam dinamika penyerapan ini, meskipun masih tampak tersisa rujukan bentukan morfologisnya dari bahasa serapan ke bahasa penerima. Misalnya kata “buku” yang diserap dari kata “boek”. Selain ada proses penyederhanaan fonem vokal /oe/ menjadi /u/, juga terjadi penambahan vokal /u/ di belakang. Ini bisa disebut sebagai kreasi fonetis juga.
Proses adopsi, penyerapan sesuai dengan struktur huruf yang sama persis, tampak pada kata “beton” dan “bon”. Misalnya tampak distribusi peran kata itu dalam kalimat “De vloer is van gewapend beton” yang berarti “Lantainya terbuat dari beton bertulang”. Atau misal lain, “Ik wil de bon graag bewaren” yang berarti “Saya ingin menyimpan bonnya”.
“Cantik”, “Gubernur”, “Jangkar”
Tidak bisa dikatakan lain sebagai wujud kreativitas fonetis yang luar biasa di balik realitas penyerapan kata “cantik” (berbaur dengan menggemaskan) yang berasal dari “schattiq” seperti dalam kalimat “Mijn nichtje is zo schattig met haar nieuwe jurk” (Kemenakan perempuanku begitu cantik menggemaskan dengan gaun barunya).
Demikian pula dengan kata “dongkrak” yang berasal dari “dommekracht” tentu ada peran kreasi fonetis untuk memudahkan penutur bahasa Indonesia saat melafalkannya. Kemudian dari kata “emmer” (tempat air yang berbentuk silinder) yang mengalami penghilangan fonem /m/ yang kedua dan menggantinya dengan fonem /b/ sehingga terbentuklah kata “ember”. Ini juga merupakan proses kreasi, walau dalam bentuk yang lebih sederhana.
Tidak kurang tuntutan kreativitas modifikasi fonetis yang jitu untuk menentukan kata “forsir” yang rujukan serapannya adalah “forceren”. Juga kata “gubernur” yang semula dari bahasa Belanda “gouverneur”. Termasuk dengan kata “handuk” yang semula “handdoek”. Dan, kata “identitas” yang diserap dari “identiteit”. Serta, kata jangkar yang dikreasikan dari “het anker”.
Deretan Contoh Lain
Akomodasi fonetis juga tampak terkanalisasi dalam khazanah kosakata bahasa Indonesia, lewat kata “korsleting” yang asal bahasa serapannya, Belanda, “kortsluiting”; juga “listrik” dari “elektriciteit”; “maskapai” dari “maatschappij”.
Kemudian “nomor” dari “nummer”. Bisa jadi, kata “nomer”, di luar pilihan kebijakan kebahasaan kita tentang kata baku, merupakan wujud tarik-menarik dengan pengaruh dari pelafalan bahasa asal serapannya. Bisa jadi.
Selanjutnya ada kata “ordonansi” yang terbentuk dari penyederhanaan dan penyesuaian ejaan serta struktur fonetis dari “ordonnantie”. Lalu “preman” dari sentuhan kreasi pelafalan dari orang Indonesia untuk “vrijman”. Sudah itu, “ransum” yang telah mengalami adaptasi fonologis dari “rantsoen”.
Kita juga dapat melihat bentuk proses kreasi dalam akomodasi fonetis kata “sekongkol” dari “gekonkel”. Simplifikasi kata “teknis” dari “technische” serta perubahan berikut penghilangan fonem pada kata “ventilasi” dari sumber serapan “ventilatie”. Juga penggantian dan penghilangan fonem dalam kasus penyerapan “yuridis” dari “juridisch”.
Dua contoh terakhir mewakili proses adopsi, yaitu bahasa penerima mempertahankan struktur huruf dari bahasa serapan. Kata “wortel” tetap pada bentuknya, baik ketika hadir sebagai bagian kalimat bahasa Belanda “Wortel is goed voor je ogen” maupun kalimat bahasa Indonesia “Wortel baik untuk matamu”).
Demikian juga dengan kata “zebra” yang diadopsi tanpa perubahan, penghilangan, penambahan, atau penyederhanaan fonem. Kita dapat mencermatinya dari kontribusi kata ini dalam kalimat bahasa Belanda, yaitu “De zebra is een dier uit Afrika”. Dan bandingkan dengan kalimat bahasa Indonesia “Zebra adalah hewan dari Afrika”. Tidak ada perbedaan dalam penulisan kata “zebra”, bukan? ***
