Konten dari Pengguna

Aksesori Kalung Coker bagi Wanita Berhijab, Kenapa Tidak?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalung coker yang terpasang melingjar di leher yang tertutup kain hijab menambah keanggunan penampilannya. (Sumber: Gemini AI)
zoom-in-whitePerbesar
Kalung coker yang terpasang melingjar di leher yang tertutup kain hijab menambah keanggunan penampilannya. (Sumber: Gemini AI)

(1)

Kalung coker. Sebetulnya cukup “coker” saja. Sebab, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan, referen makna dari lema “coker” itu sendiri sudah tertuju pada benda berupa kalung. Dengan rincian keterangan “yang dikenakan menempel tepat sesuai dengan leher”.

Bukan maksud saya untuk meredudansi (memubazirkan) kata kalau saya memilih menggunakan “kalung coker”, melainkan karena pertimbangan masih banyak orang belum familier bahwa “coker” itu adalah sejenis kalung. Oleh karena itu, untuk lebih memudahkan pemahaman, dalam tulisan ini saya menerapkan pemakaian gabungan kata “kalung coker”.

Kalung coker melingkar erat, tetapi tentu saja bukan dalam artian menjerat, di leher pengguna. Tetap nyaman dan tidak terasa mengganggu. Bisa juga digunakan wanita berhijab. Pemakaiannya pun di bagian leher yang tertutup kain hijab. Bisa juga kain hijab itu, sebagian terutama ujung bawahnya diikat ke belakang. Dengan demikian, kalung coker itu lebih kelihatan nyata sebagai bagian dari kelengkapan aksesori.

Bahannya bermacam-macam. Ada yang dari beludru atau renda yang bisa memberi sentuhan romantisme. Ada yang dari plastik yang menyiratkan asosiasi anak muda yang akrab dengan budaya populer. Ada yang dari manik-manik, lateks, kulit.

Logam seperti emas, perak, atau platinum pun bisa dijadikan bahan dengan jamahan kesan edgy, kepribadian yang berani, inovatif, dan antiarus utama (antimainstream). Bagi wanita berhijab penting untuk memastikan panjang kalung coker tidak terlalu pendek. Dengan demikian, terasa nyaman dikenakan dengan hijab.

Penting pula bagi wanita berhijab untuk menyelaraskan dengan busana muslimahnya. Gaya chunky dengan aksesori, termasuk kalung coker desain tebal, kokoh, dan menonjol, menghadirkan perfoma edgy. Adapun gaya elegan, dengan kesan rapi, berkelas, dan sophisticated tanpa tampak berbalut kesan over alias berlebihan, yang relevan untuk mendatangi acara formal.

(2)

Kalung coker tampil sebagai mode di kalangan wanita berhijab sekitar tahun 2010-an. Terjadi proses kesinambungan dan mengalami evolusi pada akhir dekade tersebut. Dan, pada awal tahun 2020-an, kembali terseret arus mode nostalgia milenium baru Y2K (Year 2000) yang antara lain diwarnai dengan aksesori ceria.

Fenomena ini sejalan dengan dinamika tren global yang merevitalisasi kepopuleran aksesori ini sehingga dapat mendudukkan diri sebagai penanda gaya kontemporer. Para pengikut tren dalam dunia mode (fashionista) dan selebritas yang memberi pengaruh (influencer), termasuk mereka yang berhijab kemudian mengadopsinya.

Wanita berhijab biasanya berkiblat pada tren fesyen global dengan mengombinasikan kalung coker dengan gaya mereka. Pilihan relevan untuk mereka yang berhijab biasanya jatuh pada kalung coker desain minimalis atau yang berliontin kecil. Serta, memadukannya dengan pakaian yang bagian dadanya tidak banyak detail. Ini bertujuan guna menjaga keseimbangan dan keserasian gaya.

Kalung coker desain sederhana dari bahan perak. (Sumber: Shutterstock)
Kalung coker dari manik-manik kotak deengan liontin. (Sumber: Shutterstock)

Pilihan kalung coker dengan desain minimalis (tipis dan sederhana) atau yang ada kelengkapan liontin kecil cocok untuk wanita berhijab yang ingin berpenampilan kasual dan modern. Suatu gaya berbusana santai, nyaman, sederhana, tetapi tetap mampu mengekspresikan diri secara modern tanpa kungkungan formalitas yang terlalu kaku. Setidaknya berada di tengah-tengah antara kasual dan formal.

(3)

Wanita berhijab turban yang mengenakan kalung coker. (Sumber: Meta AI)

Kalung coker bisa pula menjadi alternatif perhiasan yang elegan bagi wanita yang mengenakan hijab gaya turban. Sentuhan performa yang lebih modern dan stylish (menarik dan unik sehingga hadir dengan gaya pribadi) dapat relatif terbentuk karenanya. Gaya turban merujuk pada hijab yang dibentuk mirip serban. Caranya dengan melilitkan kain di kepala seperti membentuk serban.

Alasan pemilihan gaya hijab turban ini dapat berangkat, seperti untuk menegaskan kepraktisan gaya serta dukungan intimitas budaya. Terdapat banyak variasi sesuai dengan bentuk kain. Bahan lentur tak ubahnya pashmina. Kerudung persegi panjang dari rayon, sifon, atau katun. Kalung coker bisa menjadi alternatif aksesori, selain pin atau anting.

Paduan antara hijab dan kalung coker memantapkan posisi wanita yang mengenakannya sebagai juri damai yang sejati gaya modern dengan gaya tradisional. Hal ini menunjukkan suatu statemen fesyen yang tegas dengan pancaran kepercayaan diri nan penuh. Sekaligus cara menunjukkan kepribadian dalam performa formal atau kasual. Dengan perkataan lain, kalung coker dapat tumbuh menjadi simbol kekuatan atas tubuh dan gaya yang mempribadi bagi wanita berhijab di masa modern. ***