Antara “Jeding” Bahasa Jawa dan “Jeding” Bahasa Sunda, Beda Jauh Maknanya

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menarik sekali, mencermati penyerapan kata bahasa daerah yang tercantum sebagai lema di Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (KBBI VI Daring). Urutan struktur hurufnya sama. Bahkan pengucapannya yang dapat dilihat di transkripsi fonetisnya yang ditulis di dalam dua tanda garis miring pun sama.
Akan tetapi, perbedaan maknanya terentang begitu jauh. Nah, itulah yang dapat diperhatikan pada lema “jeding”. Ada dua sumber penyerapan yang dicantumkan secara eksplisit. Dua kata “jeding” yang transkripsi fonetisnya sama-sama dituliskan /jêding/ itu, yang satu diserap dari bahasa Jawa. Sementara itu, yang lain diserap dari bahasa Sunda.
Serapan Bahasa Jawa
Di lingkungan masyarakat Jawa. Terutama di wilayah perdesaan, kata “jeding” acapkali muncul dalam percakapan manakala seseorang hendak mandi atau melakukan sesuatu yang bertalian dengan tempat yang disebut kamar mandi dan juga sekaligus kakus atau jamban untuk membuang hajad besar atau kecil.
Dahulu, ada pula yang memisahkan antara kamar khusus untuk mandi dan tempat membuang hajat besar atau kecil. Sekalipun pemisahan itu hanya dalam wujud dua ruang, yang satu lebih luas sedangkan yang lain lebih sempit, dan masih bersebelahan. Namun, dengan sekat tembok atau papan kayu yang tegas.
Nah, di kamar mandi itulah terdapat bak mandi. Ada yang dibangun dengan batu bata, lalu direkati dengan adonan pasir dan semen serta seluruh bagiannya dikeramik. Ada yang berupa ember besar atau tong bekas aspal yang diletakkan di pojok ruangan. Pendek kata, fungsinya untuk tempat menampung air guna membersihkan diri. Inilah yang disebut “jeding” dalam bahasa Jawa. Dan, sudah diserap di KBBI VI Daring.
Dewasa ini, di kalangan penutur bahasa Jawa, kata “jeding” sudah relatif tidak terlalu sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Dahulu kakek saya (saat saya usia SD hingga SMA), sering menyebut “jeding” untuk bak air di kamar mandi. Terkadang pula, kakek menyebur “kulah”. Nah, kata ini sudah diserap dalam KBBI VI Daring. Salah satu artinya, yang diserap dari bahasa Jawa, adalah kamar mandi.
Dahulu, di depan rumah kakek di sebuah desa di Jawa Tengah ada bangunan langgar (musala) dengan arsitektur rumah panggung dari kayu jati yang sederhana. Di sebelahnya, ada tempat menjorok ke bawah. Untuk mencapainya, harus menuruni undak-undakan plesteran.
Di bagian bawah itu ada tempat air yang sumbernya dari aliran air sungai kecil yang warnanya kecokelat-cokelatan. Kakek juga menyebutnya “jeding” untuk kolam penampungan air berukuran 2 x 1 meter dengan kedalaman sekitar 50 sentimeter itu. Dan, lokasi tempat mandi yang terbuka serta sekaligus tempat cuci pakaian itu sebagai “kulah”.
Serapan Bahasa Sunda
Lain maknanya dengan “jeding” hasil serapan dari bahasa Sunda. KBBI VI Daring mengaitkan dengan penyebutan bentuk bibir yang “melentik ke atas”. Melengkung sedikit pada ujung bibir. Dan, arah lengkungannya ke atas. Sumber lain menambahkan, bibir yang berisi. Sering menjadi alamat untuk penyebutan bibir sensual.
Dalam bahasa Sunda, selain bentuk bibir “jeding”, ada bibir “jejeret” (belum diserap KBBI VI Daring). Artinya, bentuk bibir yang menjorok ke depan. Ada pula bibir “jebleh” (belum diserap KBBI VI Daring). Bentuk bibir yang sangat tebal.
Nah, memang begitulah uniknya antara bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Ada kata yang sama, tapi maknanya beda. Tidak hanya kata “jeding” yang berbeda jauh maknanya. Ada kata “gedang” yang dalam bahasa Jawa berarti “pisang”. Tapi, dalam bahasa Sunda mereferen pada buah pepaya.
Terdapat pula kata “urang”, yang dalam bahasa Jawa merujuk pada hewan “udang”. Sementara itu, dalam bahasa Sunda bisa merupakan pronomina orang pertama tunggal “saya/aku”, seperi dalam kalimat “Urang hoyong ka pasar” (Saya ingin ke pasar).
Kata “urang” dalam bahasa Sunda dapat pula berarti pronomina orang pertama jamak “kita/kami” sebagaimana dalam kalimat “Urang sadaya kudu silih tulungan” (Kita semua harua saling menolong). Bisa juga untuk merujuk orang Sunda secara umum. “Seuseueurna urang Sunda mah bageur” (Kebanyakan orang Sunda baik hati).
Selain itu, ada kata “amis”. Dalam bahasa Jawa, artinya sama dengan di KBBI VI Daring, yaitu “anyir (seperti bau ikan)”. Adapun dalam bahasa Sunda berarti “manis”. ***
