Asyik Deh, Menyimak Metatesis dalam “Boso Walikan” (Osob Kiwalan)

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 12 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya menemukan istilah “metatesis” itu pada waktu yang lebih kemudian. Setelah saya sempat terlongong-longong alias terbengong-bengong selama beberapa saat manakaka pandangan saya bertemu dengan kata “i.si.lop”.
Kejadian itu bermula, tatkala saya sedang mencari gagasan
untuk menyusun tulisan dan mengirimkannya ke Kumparan.com. Untuk memancing pemunculan gagasan, salah satu cara yang saya tempuh selama ini adalah bermain gim tebak kata. Prosesnya santai, relaks tapi hasilnya sering tak terduga.
Begitulah hal itu saya lakukan pada suatu ketika. Hasil tebakan yang muncul ternyata merupakan kata yang tidak begitu familier dalam pengenalan saya. Berikut ini kata yang saya temukan.
Saya pun penasaran untuk mengeceknya di Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan. Namun, sebelum saya menuju ke entri atau lema “lom.bar” untuk melihat lebih jauh berapa kemungkinan makna (biasanya satu lema bisa terdiri atas lebih dari satu makna) berdasarkan konteks masing-masing, pandangan saya tiba-tiba terhenti di Beranda kamus online tersebut.
Pandangan saya terutama tertuju pada Rubrik “Kata Hari Ini” yang terletak di bagian bawah Beranda. Ada semacam introduksi lema, yaitu “i.si.lop”. Merupakan ragam cakapan. Keterangan yang menyertai adalah “po.li.si”. Kemudian ada dua tanda kurung yang mengapit penjelasan “biasanya digunakan di dunia maya baik untuk hal yang positif maupun negatif”.
Hingga di sini saya cukup lama mempertanyakan ada hubungan apakah antara “i.si.lop” dan “po.li.si”. Jika dilihat jenis huruf konsonan (p, l, s) dan vokal (i dan o) serta jumlah hurufnya (enam huruf) boleh dikatakan sama.
Setelah agak lama berpikir, timbullah kesadaran saya. Oalah, saya menepuk pelan jidat sendiri. Rupanya itu semacam pembalikan huruf. Bila “i.si.lop” dibaca seperti aksara Arab dari kanan ke kiri, maka akan terbaca “po.li.si” juga.
Kata “i.si.lop” merupakan khazanah bahasa gaul (slang) yang sering hadir di jagat maya Indonesia. Ia secara linguistik menunjukkan adanya fenomena pembalikan huruf (lambang bunyi). Para ahli bahasa mewadahinya dengan istilah metatesis. Sifatnya cair, dapat bernada positif (apresiasi atau bercanda) dapat pula kurang positif (kritik atau sinisme).
Pemakaian kata “i.si.lop” dalam konteks positif atau sedikitnya netral bisa memperoleh realisasi penerapan dengan mengapresiasi kinerja aparat atau sebagai sapaan dalam situasi santai.
Ketika polisi melakukan tindakan terpuji, warganet misalnya menyorongkan cuitan, “Mantap isilop, sigap banget nanganin social unrest itu”. Pemakaiannya agar terdengar sebagai sapaan lebih akrab dan mengikuti tren bahasa gaul.
Dalam konteks yang kurang begitu positif, kata slang atau metatesis “i.si.lop” yang paling lazim, terutama di media sosial, seperti Twitter (X) dan TikTok, misalnya “Kasus kayak gini sih biasanya ujung-ujungnya hilang, khas isilop emang”, untuk menyentil penanganan kasus tipe tertentu yang hampir selalu tidak pernah tuntas penyelesaiannya.
Nah, sebelum kita melanjutkan obrolan mengenai metatesis lebih jauh lagi, sebagai intermeso ada baiknya saya mengajak pembaca untuk mencermati makna “lom.bar” hasil dari bermain tebak kata yang tadi sempat tertunda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan, lema ini memiliki beberapa makna.
Dari serapan bahasa Minangkabau, lema “lom.bar” dan setelah mendapat prefiks (awalan) “me-” kemudian terbentuklah sublema “me.lom.bar” (mengulur tali) sebagaimana tampak pada kalimat “Nelayan itu terpaksa melombar tali jaring agar tidak putus terkena karang”.
Dan, sebagai makna kiasan ia merujuk pada tindakan “menurutkan kehendak anak”. Kira-kira ia bisa hadir dalam kalimat “Untuk urusan penerimaan lamaran itu, Sang Mamak melombar kepada kemenakan perempuannya”.
Kemudian ada pula, kata “lom.bar” dari hasil penyerapan bahasa Melayu Ambon, yang mempunyai makna berlainan. Ia bisa mengacu pada pelepah pinang atau pelepah sagu. Contoh kalimat “Pada zaman pendudukan Jepang, sudah menjadi pemandangan biasa, warga Ambon menggunakan lombar sebagai tempat makan sehari-hari”.
Metatesis dalam Linguistik
Nah sekarang, kita kembali mengobrolkan metatesis dalam linguistik. Merujuk pada pergantian letak bunyi (fonem/huruf) dalam suatu kata tanpa mengubah makna dari kata bersangkutan. Dengan perkataan lain yang lebih sederhana, metatesis merupakan pergantian posisi huruf dalam suatu kata yang menimbulkan perubahan bentuk tetapi maknanya tetap sama.
Adapun contoh metatesis dalam bahasa Indonesia, antara lain “aksara ~ arkasa”, “berantas ~ barentas”, “bisa ~ sabi”, “copot ~ pocot”, “dapur ~ rupad”, “jalur ~ lajur”, “kelar ~ keral”, “kerikil ~ kelikir”, “ronda ~ drona”, “rontal ~ lontar”, “royal ~ loyar”.
Sebagai catatan, dalam studi fonologi (cabang linguistik), metatesis merupakan salah satu jenis perubahan fonem. Jenis lainnya, yaitu kontraksi atau penyingkatan (seperti pelihara ~ piara, tetapi ~ tapi) dan adisi atau penambahan (contoh utang ~ hutang, putra ~ putera).
Fenomena metatesis agaknya dapat dilacak keberadaannya dalam Boso Walikan (Bahasa Kebalikan) ~ Osob Kiwalan (istilah ini akan saya gunakan untuk uraian selanjutnya pada tulisan ini). Salah satu dialek slang dari Malang, Jawa Timur.
Sesuai dengan namanya, ciri khas dominan dari bahasa gaul ini adalah pembalikan, bisa berupa huruf dan bisa pula berupa suku kata dari tidak saja kata-kata dalam bahasa Jawa. Tetapi, juga kata-kata dari bahasa Indonesia serta bahasa lainnya yang telah mengalami penyerapan dan telah mewujud sebagai identitas budaya lokal yang tegar.
Osob Kiwalan awalnya muncul di dalam kelompok Geriljawan Rakjat Kota (GRK) di Malang. Kelahiran bahasa gaul atau slang tersebut terjadi pada kisaran masa Agresi Militer Belanda II.
Menurut catatan sejarah, pada 19 - 20 Desember 1948, Belanda mengebom Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta untuk melumpuhkan pusat pemerintahan Republik Indonesia dan menangkap Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Setelah agresi tersebut terjadi lonjakan perlawanan dalam bentuk perang gerilya secara masif di seluruh Tanah Air, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera.
Dan, salah satunya adalah Geriljawan Rakjat Kota (GRK) di Malang di bawah komando Mayor Hamid Rusdi (1911 - 1949). Beliau gugur pada 8 Maret 1949 dalam pertempuran di Wonokerto, Bantur, Malang. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati.
Berkat inisiasi beberapa pejuang seperti Sujudi Raharno dan Warsito, terciptalah Osob Kiwalan sebagai sandi perang pada kisaran awal 1949.
Realisasi pemakaiannya sebagai kode rahasia dan taktik pertahanan lewat bentuk komunikasi yang berada jauh dari rengkuh pemahaman tentara Belanda serta mata-matanya yang terdiri atas bangsa sendiri sehingga tentu saja memahami bahasa Jawa atau Indonesia dengan versi tuturan biasa.
Kedua pencetus Osob Kiwalan tersebut kini sudah beristirahat dengan damai di Taman Makam Pahlawan Suropati Malang. Di masa perang dahulu, Osob Kiwalan merupakan cara untuk mempermudah mengenali identitas kawan atau sebaliknya, lawan, dalam memperjuangkan dan mempertahankan daulat wilayah.
Kalimat sandi Osob Kiwalan yang sebagian besar kata-kata pembentuknya mengalami metatesis, misalnya “Sam, ayas ladub uklam-uklam nang Suhat, onok ijen ndelok kodhew”. Dalam bahasa Jawa biasa, kalimat ini berbunyi “Mas, saya budal mlaku-mlaku nang Soehat (Soekarno - Hatta), onok ijen ndelok wedhok”.
Kira-kira makna dalam bahasa Indonesia “Mas, saya jalan dahulu ke Soekarno - Hatta, ada teman melihat perempuan (mata-mata)”. Kalimat sandi ini dalam konteks, penutur mengabarkan adanya pergerakan anggota yang sedang memantau seorang perempuan mata-mata Belanda di lokasi strategis.
Contoh lain kalimat sandi Osob Kiwalan, yaitu “Kera-kera ojir gae nakam nang oskab”. Bahasa Jawa dialek Malang yang biasa “Arek-arek rijo age makan nang bakso”. Dalam bahasa Indonesia kira-kira makna yang dapat tersaji “Para pejuang membutuhkan uang untuk makan bakso”. Konteksnya sebagai kode untuk pengadaan logistik makanan atau pendanaan perjuangan, dengan menyamar sebagai warga biasa.
Selanjutnya pernyataan, “Ewok aro helo idew, ijen gopoh! Ongis nade!”. Versi bahasa Jawa biasa, “Kowe ora oleh wedi, ijen gopoh! Singo Edan”. Bahasa Indonesianya, “Kamu tidak boleh takut, jika berada dalam keadaan sendirian dan terkepung bahaya! Ingatlah kamu adalah Singa Pemberani”. Ungkapan motivasi antarpejuang Geriljawan Rakjat Kota (GRK) manakala berada dalam situasi terdesak.
Sementara itu, perintah untuk menindak tegas pengkhianat atau intel Belanda, seperti “Ayo ladub, nawak-nawak. Nakam suhik mripat Londo”. Bahasa Jawa biasa “Ayo budal, kawan-kawan. Makan suhik mripat Londo”. Bahasa Indonesia bebasnya “Ayo, kawan-kawan seperjuangan. Mari kita habisi pengkhianat dan mata-mata Belanda itu”.
Sementara itu, untuk menginformasikan situasi sedang aman dan persediaan logistik berada dalam keadaan cukup, kalimat sandi Osob Kiwalannya adalah “Uklam-uklam dhisik, ojir kipa ilakes”. Dalam bahasa Jawa biasa, “Mlaku-mlaku dhisik, rijo apik sekali”. Terjemahan bahasa Indonesia secara bebas, “Tenang-tenang dahulu. Kondisi dana perjuangan dan persediaan logistik dalam kondisi mencukupi”.
Cara Kerja dan Karakteristik
Cara kerja dan karakteristik Osob Kiwalan, seperti metatesis, yang paling dominan adalah pembalikan huruf dalam kata dari belakang ke depan, seperti “Malang ~ Ngalam” atau “makan ~ nakam”. Pengucapannya dengan logat Malang yang egaliter dan santai. Tidak semua kata dibalik. Biasanya yang dibalik adalah kata-kata kunci dalam konversasi keseharian.
Osob Kiwalan berkembang menjadi bahasa gaul yang dinamis. Terus menunjukkan perkembangannya sesuai dengan kehendak dan selera zaman. Slang yang sedemikian dominan dengan sentuhan metatesis pada kata-kata pendukung kalimat ujaran itu begitu fleksibel dalam penerapannya. Slang ini ber-evolusi menjadi identitas budaya masyarakat Malang hingga dewasa ini.
Osob Kiwalan dari pada mulanya merupakan kode verbal rahasia di tengah kecamuk peperangan, berubah menjadi identitas kultural pemuda-pemuda Malang dan menjadi bahasa gaul mereka sejak dekade 1980-an plus dukungan komunitas suporter sepak bola. Boleh terbilang, ia sangat akrab dengan lingkungan suporter sepak bola Malang (Aremania).
Dewasa ini, Osob Kiwalan berada dalam fungsi dan eksistensi dalam pergaulan sehari-hari para kawula muda dan pelbagai komunitas yang hadir membersamai mereka untuk mengisi hari-hari dengan kegiatan-kegiatan positif.
Pemakaian Osob Kiwalan dalam komunikasi verbal juga menjadi simbol kekompakan dan persaudaraan antarwarga Malang Raya baik di daerah sendiri maupun nun jauh di tanah perantauan.
Dan, tentu saja tidak termungkiri kehadiran Osob Kiwalan sebagai identitas budaya yang memperlainkan masyarakat Malang dari masyarakat dari daerah-daerah yang lain. Lagi pula, Osob Kiwalan tidak hanya sempadan bahasa gaul atau slang.
Akan tetapi juga merupakan warisan sejarah yang sukses membangun evolusi dalam rentang waktu lama sehingga pada gilirannya dapat menegaskan diri menjadi identitas modern masyarakat Malang.
Demikianlah, Osob Kiwalan masih tetap mampu menjaga marwah eksistensinya, relevansinya, dan memposisikan diri sebagai bahasa gaul para kawula muda Malang, bahkan telah berlangsung secara lintas generasi hingga dewasa ini.
Zaman memang terus bergerak menuju perubahan dinamika, spirit, dan tantangan. Osob Kiwalan telah bergeser dari bahasa sandi menuju ke proses transformasi menjadi identitas budaya lokal yang berdiri teguh kukuh di Malang Raya.
Osob Kiwalan pun membangun solidaritas kekompakan di kalangan arek-arek Malang. Tidak hanya sebatas kalangan anak muda, kalangan lanjut usia juga menuturkannya dalam interaksi sosial sehari-hari di komunitasnya, pasar, juga lingkungan pergaulan yang tidak terlalu formal.
Selain itu juga menjadi simbol “mbois”. Istilah setempat untuk menyebut “keren”. Tidak sedikit merek (jenama) dagang, komunitas suporter, dan kalangan pelaku bisnis lokal di Malang memanfaatkan kata-kata dari Osob Kiwalan agar tampak memenuhi kriteria kelebih-unikan, kelebih-mbois-an, dan kelebih-khasan.
Osob Kiwalan terus hadir di dalam wilayah komunikasi verbal masyarakat Malang Raya. Proses pembelajarannya cenderung lebih sering berlangsung secara alami melalui praktik kebahasaan langsung di tengah-tengah pergaulan.
Oleh karena itu, kendatipun bahasa gaul nasional menyentuhkan warna pengaruhnya, Osob Kiwalan tetap memiliki tempat khusus di hati masyarakat Malang Raya. Dan, masih mempersunting warna kecirikhasan yang sangat hidup.
Berikut sejumlah contoh Osob Kiwalan: “Ojob-ku teko Ngalam, Sam”. Bahasa Jawa biasa “Bojoku teko Malang, Mas”. Bahasa Indonesianya “Suamiku (bisa pula bermakna istriku) berasal dari Malang, Mas”. Kemudian “Umak kapan ladub nang Ngalam?” (“Kamu kapan budal nang Malang?/”Kamu kapan berangkat ke Malang?”).
Kemudian “Nawak-nawak wes nakam kabeh ta?" (“Kawan-kawan wes makan kabeh to?”/”Kawan-kawan sudah pada makan semua kan?”). Selanjutnya “Ojir-ku ewed, Sam, gawe bayar ojob" (“Rijoku dewe, Mas, gawe bayar bojo”/”Uangku sendiri, Mas, untuk menafkahi istri”).
Juga “Kipa temen nawak iku, seneng lumrang” (“Apik temen kawan itu, seneng lumrang”/”Baik sekali kawan itu, suka menolong”). Demikian pula, "Ayo ladub, selak nadu” (“Ayo budal, selak udan”/”Ayo berangkat, keburu hujan”).
Dalam kalimat ujaran Osob Kiwalan, preposisi “nang” (ke), “teko” (dari); adverba “wes” (sudah) biasanya tidak mengalami metatesis. Sementara itu, verba (budal ~ ladub), pronomina (kamu ~ umak), nomina (arek Malang ~ kera Ngalam), adjektiva (apik ~ kipa) mengalami metatesis sebagaimana tampak contoh yang tertera.
Sementara itu, pemakaian Osob Kiwalan di kalangan suporter sepak bola di Malang, juga mengusung keunikan lain. Mereka yang menyebut diri sebagai Aremania itu memanfaatkan bahasa gaul atau slang tersebut guna menunaikan fungsi sebagai alat pemersatu dan sekaligus penanda identitas budaya lokal serta kebanggaan yang bersandar di bahu kebanggaan mereka.
Para suporter sepak bola Arema (terkadang ada sentuhan metatesis menjadi Amare, walaupun penggunaannya tidak lebih sering) menunjukkan keakraban struktur walikan itu begitu kental di dalam budaya lokal Malang.
Para suporter sepak bola, terutama dari kaum muda, memakai Osob Kiwalan dalam konversasi sehari-hari termasuk dalam unggahan yang mereka komunikasikan melalui platform media sosial.
Pemakaian Osob Kiwalan membangun solidaritas yang tegas antaranggota komunitas suporter sepak bola menghadirkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap kesebelasan kebanggaan bersama itu.
Bila secara historis Osob Kiwalan pada awalnya pernah menjadi sandi konde verbal di masa kecamuk perang, maka kini dalam konteks para suporter sepak bola bisa menjadi bentuk kode verbal unik yang hanya berada di dalam ranah pemahaman di dalam kelompok mereka.
Dengan demikian, Osob Kiwalan menjadi elemen penting yang memberikan lini pembeda yang khas antara para suporter sepak bola Malang dan para pencinta sepak bola asal daerah lain dengan tim favorit asal wilayah masing-masing.
Dan, manakala ada seorang suporter sepak bola berkata kepada teman-temannya di dalam suatu kerumunan, “Ngalup mbois, nribun kipa. Arema sampek matek”. Atau dalam bahasa Jawa biasa, “Pulang mbois, nribun apik. Arema sampek matek.”
Terjemahan bebas bahasa Indonesia “Pulang setelah menonton laga dengan keren (teratur, tertib, dan tanpa onar), setelah menonton di tribune dengan baik (tidak membuat kerusuhan). Itu bukti cinta kalian kepada Arema untuk selama-lamanya”.
Tautan pikiran orang di luar mereka, tentulah akan lebih mudah mampir ke penanda identitas kultural tertentu. Terlebih ketika nama klub sepak bola Arema mereka sebut. Pastilah asosiasi itu tidak tersesat.
Dan, asosiasi orang luar itu masih tetap terawat, manakala ada suporter lain yang tiba-tiba menimpali, “Sam, ayo Ngalam kipa. Edanke Ngalam. Salam satu jiwa”. Versi bahasa Jawa biasa, “Mas, ayo Malang (digawe) apik. Edanke Malang. Salam satu jiwa”.
Terjemahan bebas bahasa Indonesianya, “Mas, ayo kita dukung Malang (dalam hal ini maksudnya klub Arema) selalu tampil apik. Dengan performa permainan unggul. Salam satu jiwa (tagline Aremania”. ***
