Konten dari Pengguna

Babad Tanah Jawi, Adonan Historiografi Tradisional dan Karya Sastra

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pertunjukan tarian di depan Keraton Surakarta Hadiningrat. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pertunjukan tarian di depan Keraton Surakarta Hadiningrat. (Sumber: Shutterstock)

Babad Tanah Jawi, dalam perspektif ilmu sejarah, dapat dimasukkan ke dalam historiografi tradisional. Catatan sejarah yang diinspirasi oleh tradisi lisan dan kepercayaan masyarakat pada saat babad tersebut ditulis. Secara spesifik mengacu pada penulisan sejarah yang berkembang pada zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha dan Islam di wilayah Nusantara.

Sifat yang istanasentris, dengan dominasi fokus pada kehidupan dan kepentingan raja sebagai penguasa monarki absolut, menjadi ciri khas yang menonjol pada historiografi tradisional. Karya-karya historiografi tradisional biasanya ditulis dengan warna sastrawi yang begitu kuat oleh pujangga keraton. Selain babad sebagai salah satu hasilnya, hikayat dan kitab-kitab juga menjadi wujud ekspresi yang lain.

Babad Tanah Jawi juga merupakan karya sastra. Wadah ekspresinya yang pada mulanya terucapkan lewat tembang macapat, menghadirkan unsur-unsur puisi. Adanya guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu yang berkolaborasi sebagai penentu dan pola irama dalam tiap bait yang tertata begitu indah.

Guru gatra mengacu pada jumlah baris dalam tiap bait. Guru wilangan merujuk untuk jumlah suku kata dalam larik. Dan, guru lagu memandu keindahan persamaan bunyi vokal pada tiap larik.

Beberapa Versi

Versi induk Babad Tanah Jawi ditulis dalam bentuk tembang macapat dan dengan aksara Jawa pertama kali oleh Carik Adilangu I. Penulisan ini dilakukan semasa pemerintahan Amangkurat III (Raja Mataram VIII yang memerintah pada 1719-1726) dan Pakubuwana II (Raja Mataram Islam IX 1726-1742 dan Raja Surakarta I pada 1745-1749). Naskah tertuanya ditulis pada tahun 1722.

Kemudian atas perintah Pakubuwana III (1749-1788), Carik Tumenggung Tirtowiguno (Carik Braja) menulis Babad Tanah Jawi dan merampungkan versinya pada 1788. Dari versi tembang macapat (puisi) dan ditulis dengan aksara Jawa versi Carik Braja itu, kemudian disusun dalam bentuk gancaran (prosa) dan ditransliterasi ke huruf latin oleh Ngabehi Kertapraja.

Upaya pengubahan ini diinisiasi Johannes Jacobus Meinsma, seorang ilmuwan Belanda, dan diterbitkan pada 1874. Masih dipertahankan dalam bahasa Jawa. Kemudian, W.L. Olthof, sejarawan Negeri Kincir Angin, mereproduksi Babad Tanah Jawi versi Meinsma itu dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda dan menerbitkannya pada tahun 1941. Pada kedua versi tersebut nama Ngabehi Kertapraja tidak dicantumkan.

Babad Tanah Jawi pernah pula diterbitkan versi terjemahannya dalam bahasa Melayu oleh Balai Pustaka pada kisaran 1939-1941. Kemudian untuk terjemahan bahasa Indonesia hadir pada 2007 jerih alihbahasa H.R. Soemarsono dari versi W.L. Olthof di bawah judul Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647.

Sejarah dan Mitos

Dikisahkan di dalam Babad Tanah Jawi tentang sejarah raja-raja Jawa lengkap dengan silsilah mereka. Kemudian tentang peristiwa-peristiwa penting di tanah Jawa. Dari sebelum hingga setelah masuknya Islam, masa Mataram Islam, berakhir pada masa Kartasura.

Ilustrasi sultan Jawa. (Sumber: tirto.id/Deadnauval)

Sejarah, mitos, dan kepercayaan masyarakat Jawa menyatu dalam Babad Tanah Jawi. Silsilah raja-raja Jawa diceritakan dari Nabi Adam, dewa-dewi agama Hindu, tokoh-tokoh dalam Mahabharata. Kemudian bergulir hingga masa Kerajaan Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, dan Kartasura. Ada gambaran yang menyoroti dinamika politik Jawa, terutama masa akhir Majapahit dan perjalanan awal hingga akhir Mataram Islam.

Babad Tanah Jawi versi prosa dalam bahasa Jawa dapat diakses di Internet Archive. Nama Ngabehi Kertapraja dicantumkan dalam versi digital ini.

(Foto: Dokumentasi Pribadi)

Perkembangan Islam di Jawa juga menjadi rengkuh penceritaan di Babad Tanah Jawi. Kiprah Wali Sanga pun tidak luput dari sorotan narasi ini. Versi yang dibuat tahun 1722, pemaparan tentang Mataram Islam relatif lebih singkat. Sementara itu, versi yang terbit pada tahun 1788 menyediakan pemaparan yang lebih terinci.

Karya sastra klasik Jawa lainnya, juga termasuk jenis historiografi tradisional, yang lebih menyoroti perkembangan terakhir Mataram Islam adalah Babad Giyanti buah tulisan Raden Ngabehi Yasadipura I. Dalam bentuk tembang macapat, dikisahkan oleh babad ini tentang Perjanjian di Desa Giyanti yang ditandatangani pada 13 Februari 1755.

Lokasi perjanjian itu sekarang disebut Dukuh Kerten, Desa Jantiharjo, Kecamatan/Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Perjanjian ini membagi wilayah Mataram Islam menjadi dua kerajaan, yaitu Surakarta di bawah kekuasaan Susuhunan Pakubuwana III dan Yogyakarta di bawah kekuasaan Sultan Hamengku Buwono I (Pangeran Mangkubumi). ***