Konten dari Pengguna

Bagaimana Pujangga Keraton Mengakrabi Proses Kreatif?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Kata “pujangga” merupakan serapan dari kata dalam bahasa Sanskerta bhujangga (dalam aksara Dewanagari भुजङ्ग). Makna harfiahnya ular. Dalam tradisi Hindu Kuno, ular merupakan makhluk mitologis yang cerdas, suci, dan penjaga ilmu pengetahuan atau mata air kehidupan.

Ular juga mempunyai kedudukan sakral, sehingga mendapat penghormatan yang tinggi. Ia melambangkan penciptaan, waktu, perlindungan, dan siklus kelahiran kembali. Ia juga kerap kali mendapat pengaitan erat dengan para dewa utama dan menerima pemujaan untuk permohonan memperoleh berkah keselamatan dan kesejahteraan.

Di leher Dewa Siwa melingkar ular kobra. Melambangkan penguasaan atas waktu (kematian) dan energi spiritual (kundalini). Kemudian Dewa Wisnu kerap menerima penggambaran tengah beristirahat di atas gulungan badan ular raksasa bernama Sesha Naga (Anantasesa).

Kepala ular yang berjumlah ribuan itu melingkar di dasar kosmos, menunaikan fungsi menyangga Bumi. Adapun gulungan badan ular itu di samudra kosmos saat periode penciptaan. Yang ini simbol ruang kosmis waktu tanpa batas dan menjadi fondasi bagi seluruh ciptaan.

Ada lagi Dewi Manasa, penguasa ular dalam mitologi Hindu. Dia mendapat pemujaan dari orang-orang yang meyakini dan memujanya, berkat kemurahannya memberi penyembuhan akibat gigitan ular berbisa yang mematikan. Kecuali itu Masana Devi (मनसा देवी), juga mereka percayai memberi tuah kesuburan.

Ular memang sungguh substansial keberadaannya dalam khazanah keyakinan umat Hindu. Mereka merayakan Festival Nag Panchami pada hari kelima bulan Shravan dalam kalender lunar Hindu. Biasanya di kisaran Juli - Agustus dalam kalender Masehi. Dalam festival ini, mereka mempersembahkan susu, doa, dan penghormatan kepada ular demi limpahan berkah bagi keselamatan keluarga.

Di Indonesia, terutama masyarakat di Bali yang mayoritas beragama Hindu, ular pun mendapat penyikapan yang terhormat. Contoh yang mengemuka, seperti adanya kepercayaan masyarakat mengenai ular suci di Pura Tanah Lot. Sesuai dengan kepercayaan mereka, ular tersebut dapat menjaga kesucian kawasan itu.

Pergeseran Semantis

Dari makna harfiah ular tersebut, kemudian dalam perkembangan pemakaian selanjutnya berlangsunglah suatu pergeseran makna (semantis) dari kata bhujangga yang secara etimologi merupakan bentuk asal (etimon) dari kata “pujangga”.

Terdapat pergeseran semantis menjadi sosok pendeta atau cendekiawan. Terutama berangkat dari konsep artian ular sebagai makhluk mitologis cerdas sebagai penjaga ilmu pengetahuan dan mata air kehidupan.

Kemudian bhujangga menempati fungsi menjadi sebutan bagi para pendeta (dalam agama Hindu), ahli agama, petapa, bisa pula cendekiawan. Pada era Kerajaan Hindu - Buddha di Nusantara, golongan masyarakat ini bertugas memperdalam kitab suci Weda atau Tripitaka, sastra, dan ilmu pengetahuan.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Selanjutnya pergeseran semantis pun bergerak secara evolutif, merapat pada keahlian mereka yang secara khusus terkait dengan kemampuan menguasai seni merangkai kata.

Dalam kesusastraan lama bahasa Melayu, kata “bujangga” lebih lazim muncul. Sementata itu, dalam perkembangan bahasa dan sastra Jawa (kuno, pertengahan, modern), kata tersebut mengalami pergeseran fonetis menjadi “pujangga”.

Dewasa ini, baik “bujangga” maupun “pujangga” sudah resmi menjadi lema baku yang terdapat di Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan. Lema “bu.jang.ga” (bentuk tidak baku: bujanggi) bisa bermakna pendeta, petapa; orang cerdik pandai. Bisa pula merujuk pada pengarang syair (sajak), ahli sastra, pujangga.

Atau, kalau dari serapan bahasa daerah Aceh, “bujangga” bermakna pemuda pembawa perisai. Gambaran sosok kesatria yang berdiri di garda terdepan. Membawa perisai untuk melindungi diri, rekan seperjuangan, dan para pemimpin dari marabahaya. Dalam hikayat lama, merujuk pada deskripsi pemuda pemberani, siap berkorban demi kejayaan negeri.

Sementara itu, lema “pujangga” sudah pula secara resmi masuk ke Kamus Besar. Entitas maknawinya kian mengerucut pada sebutan untuk mereka memiliki keterlibatan intens dengan dunia sastra. Bisa mengacu pada pengarang puisi atau prosa. Bisa pula merujuk pada ahli sastra.

Dewasa ini, frekuensi pemakaian kata “pujangga” dalam kehidupan berbahasa sehari-hari memang menunjukkan tingkat keseringan pemakaian yang berkurang secara signifikan. Kata ini secara perlahan telah beringsut menjadi bentuk morfologis yang terasa impresi kearkaisannya. Lebih sering berada dalam buku sejarah sastra, teks sastra klasik, atau Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah.

Pada zaman kerajaan di Nusantara kala lampau, sebutan pujangga berada pada kedudukan terhormat sebagai penulis karya sastra istana dan terkadang merangkap sebagai penasihat raja.

Tatkala era modern kian merambah waktu, sebutan pujangga mulai menyentuh sisi yang lebih spesifik seperti sastrawan, novelis, penyair (penyajak, pemuisi), cerpenis, novelis, atau esais (penulis yang menaruh perhatian pada masalah sastra).

Dalam konversasi keseharian, masyarakat dewasa ini lebih sering memakai kata yang menunjukkan spesifikasi bidang garapannya. Misalnya sastrawan yang wilayah bidangnya karya sastra, novelis (hasil karyanya novel), cerpenis (hasil karyanya cerpen), penyair (hasil karyanya puisi atau sajak), esais (hasil karyanya esai sastra).

Akan tetapi, “pujangga” mempunyai makna filosofis yang kompleks. Seorang pujangga di masa lalu tidak hanya merupakan penulis. Selain itu, juga pemikir yang mempersembahkan pencerahan kepada khalayak pembacanya.

Bisa jadi, pujangga itu gabungan kemampuan pada diri seseorang sebagai sastrawan dengan esais. Tampaknya, pujangga telah mengalami peringsutan fungsi dari bahasa sehari-hari menjadi bahasa puitis, dan bernilai sejarah.

Dan, kalaupun dewasa ini kata “pujangga” sesekali muncul, lebih sering terasosiasikan dengan momentum sastra tertentu, seperti Angkatan Pujangga Baru.

Gerakan Sastra Indonesia (1933 - 1942) di bawah inisiasi kepeloporan Sutan Takdir Alisjahbana (11 Februari 1908 - 17 Juli 1994), Armijn Pane (18 Agustus 1908 - 16 Februari 1970), dan Amir Hamzah (28 Februari 1911 - 20 Maret 1946).

Gerakan Sastra Indonesia ini mendapat penamaan sesuai dengan nama majalah hasil inisiasi penerbitan dari tiga sastrawan tersebut, yakni Poedjangga Baroe, yang terbit pertama kali pada Juli 1933. Usungan tema yang hadir di dalamnya mencakup nasionalisme, emansipasi, dan kehidupan modern perkotaan.

Harus mendapat pengakuan secara legawa, pemunculan kata “pujangga” dewasa ini, di luar naungan konteks sejarah sastra termaksud, realisasi pemakaiannya boleh terbilang tidak sedemikian relevan dengan dinamika perkembangan bahasa dewasa ini.

Kendati begitu, kata “pujangga” tetap perlu menerima sentuhan pelestarian pada kapasitas fungsinya sebagai bagian dari khazanah kekayaan literasi.

Pujangga Keraton

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Eksistensi pujangga di wilayah kebudayaan keraton adalah sebagai pemasok warisan intelektual dan spiritual. Para pujangga keraton itu menunaikan tugas melestarikan budaya, menulis karya sastra, dan mengolah konsep-konsep filosofi.

Di Jawa, mereka bukan hanya penghasil manuskrip-manuskrip estetis, melainkan juga pemandu nilai moral dan ajaran keagamaan.

Kepujanggaan yang mengalir sebagai tradisi tersebut merupakan pilar yang begitu penting dalam sejarah kerajaan Jawa.

Pujangga keraton atau istana bersahabat karib dengan tugas-tugasnya guna merawat keagungan sastra, mencatat kemegahan sejarah, dan mengucurkan legitimasi bagi raja sang penguasa.

Begitulah adanya para pujangga keraton itu. Karya sastra, seperti genre babad, yang mereka tulis, tidak jarang menjadi semacam alat legitimasi bagi kekuasaan raja dan merawat budaya keraton. Kadang menjadi pedoman hidup, moral, dan spiritual baik di lingkungan istana maupun para kawula kerajaan.

Dengan demikian ada masanya, mempunyai pujangga bagi sebuah kerajaan adalah hal vital. Sebagai, sarana kebutuhan keraton untuk menjadi pusat kebudayaan.

Pujangga keraton sudah ada pada abad ke-14. Adalah Pujangga Mpu Prapanca yang aktif berkarya pada masa Raja Hayam Wuruk yang bergelar Paduka Śri Tiktawilwanāgareśwāra Śrī Rājasanāgara yang memerintah Kerajaan Majapahit pada 1350 - 1389. Karya monumentalnya, Kakawin Nāgarakṛtâgama, rampung dari proses kreatifnya pada 1365.

Kakawin ini bukan sekadar karya sastra, melainkan juga memuat catatan sejarah dan tata pemerintahan. Hal yang menarik, terdapat deskripsi ibu kota kerajaan sebagai wilayah metropolitan yang sedemikian terencana, lengkap dengan gerbang bata merah, taman bunga, kanal air, dan tempat ibadah.

Kemudian ada catatan Geografi Nusantara. Menyebutkan secara lengkap wilayah di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit dengan batas-batas kerajaan-kerajaan sahabat. Mirip dengan peta wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dewasa ini.

Kakawin ini juga merekam bukti, nilai spiritualitas dan kerukunan umat beragama (Hindu dan Buddha) menemukan praktik dalam realitas kehidupan pada masa itu.

Ada kisah pilu yang mengiringi penciptaan Kakawin Nāgarakṛtâgama tersebut. Hal itu terjadi ketika Mpu Prapanca, nama pena Dhang Acarya Nadendra, mengalami pengucilan dan pengusiran dari Istana Kerajaan Majapahit akibat fitnah sejumlah bangsawan.

Dia mengalami pencopotan dari jabatan Dharmadyaksa Kasogatan (pejabat tinggi urusan agama Buddha). Sebagai hukuman, dia menjalani pengasingan di sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Kamalasana (Gunung Penanggungan).

Kendati hidup di tempat pengasingan, loyalitasnya terhadap Raja Hayam Wuruk tidak pernah pudar. Dia menulis Kakawin Nāgarakṛtâgama untuk mengembarakan kerinduannya pada Istana. Dan, terbentuklah sebuah ensiklopedi sosial-politik Kerajaan Majapahit yang sangat terinci.

Pada masa yang sama, ada lagi pujangga keraton Kerajaan Majapahit lainnya, yaitu Mpu Tantular. Karya monumentalnya Kakawin Sutasoma (1369).

Pupuh 139 pada (bait) kelima menunjukkan proses perenungan filosofisnya terkait dengan toleransi masyarakat beragama Hindu dan Buddha:

// Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa,/ Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,/ Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,/ Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.//

Terjemahan harfiahnya: //Konon Buddha dan Siwa disebut dua zat yang berbeda./ Mereka memang berbeda, tetapi bagaimana bisa dipisahkan/ Karena kebenaran Buddha dan kebenaran Siwa adalah tunggal (sama)./ Berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada kebenaran yang mendua//

Dari larik keempat terdapat frasa bhinnêka tunggal ika yang kita ketahui bersama, telah menjadi semboyan nasional kita sebagaimana tertulis pada pita putih yang berada dalam cengkeraman kedua kaki burung Garuda Pancasila yang menjadi lambang negara.

Mpu Tantular menulis karya sastra tidak hanya untuk mengagungkan Raja Hayam Wuruk. Akan tetapi, ada celah bagi dirinya juga untuk melontarkan kritik dengan ekspresi yang menunjukkan keagungan spiritual.

Seperti keprihatinannya terhadap konsep pendekatan Patih Gajah Mada yang militeristis dan eksklusif. Solusinya, dia mengangsurkan tawaran pendekatan kultural dan welas asih.

Selama 19 tahun keberadaan Kerajaan Pajang yang berdiri pada tahun 1568 dan berakhir pada 1587, pujangga keraton yang paling menonjol adalah Ki Ageng Karanggayam. Juga dikenal sebagai Pangeran Karanggayam. Nama aslinya Raden Tumenggung Sujanapura.

Karya terkenal sosok yang seorang pujangga keraton, juga penasihat agung dan negarawan Kerajaan Pajang itu, adalah Serat Nitisruti. Rampung ditulis pada 1581. Sebuah kitab yang menggelar ajaran filosofis tingkat tinggi mengenai tata krama, etika, dan kepemimpinan masyarakat Jawa. Karya ini bahkan menjadi rujukan penting pada masanya.

Tradisi kapujanggan pada era Kerajaan Mataram Islam hingga membagi diri menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, berlanjut ke “dinasti” pujangga keraton, yaitu Raden Ngabehi Yasadipura I (1729 - 1803) yang tersohor dengan karyanya: Serat Rama, Serat Bima Suci, dan Serat Dewaruci.

Serat Rama mengadaptasi kisah epik Ramayana ke dalam tembang macapat berbahasa Jawa Baru. Lalu Serat Bima Suci dan Serat Dewaruci, karya sastra tasawuf Jawa, kisah perjalanan spiritual Bima mencari air kehidupan dan bertemu dengan Dewa Ruci. Ada pengadaptasian dengan memadukan ajaran filsafat Jawa, Hindu, dan Islam.

Dan sang putra, Raden Ngabehi Yasadipura II (1760 - 1844). tersohor dengan Serat Sasana Sunu (1819) dan Serat Wicara Keras. Yang tersebut terdahulu memuat ajaran moral, budi pekerti, dan pedoman hidup islami serta petunjuk mendidik anak yang baik.

Sementara itu, yang tersebut belakangan merupakan karya yang memuat banyak kritik sosial dan politik kepada para pemimpin yang sepak terjang akhlaknya kurang terpuji, melakukan penyalahgunaan kekuasaan pada masa itu, serta menerjang etika pemerintahan yang lurus.

Pujangga Pamungkas

Cicit dari Raden Ngabehi Yasadipura II atau canggah dari Raden Ngabehi Yasadipura I, yaitu Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802 - 1873) menerima pengangkatan resmi sebagai pujangga keraton Kasunanan Surakarta dari Sri Susuhunan Pakubuwono VII pada tahun 1845.

Raden Ngabehi Ranggawarsita merupakan pujangga besar keraton pamungkas dalam sastra klasik Jawa. Sebab, dia merupakan sastrawan besar terakhir Kasunanan Surakarta. Pembaruan zaman dan pengaruh kolonialisme memotong tradisi penulisan karya sastra klasik secara penuh di lingkungan istana Jawa.

Predikat pujangga keraton pamungkas melekat pada Raden Ngabehi Ranggawarsita bukan hanya karena masa kehidupannya berada pada akhir masa keemasan istana di Jawa, melainkan juga karena sejumlah faktor utama.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Karya-karyanya menunjukkan puncak estetika dan kedalaman filosofi. Seperti Serat Kalatidha (1860) yang memuat refleksi zaman edan sebagai wujud kegelisahan moral.

Juga Serat Paramayoga (1884, terbit secara anumerta), yang mendapat pengakuan mempunyai kedalaman ilmu spiritual, tata bahasa Jawa yang tertata dengan baik, serta suguhan mitologi yang tidak dapat tertandingi para sastrawan Jawa setelahnya.

Faktor utama lain, mengapa Raden Ngabehi Ranggawarsita mendapat predikat pujangga keraton pamungkas, karena dia hidup di persimpangan antara tradisi mistis-feodal keraton dan modernitas kolonial Belanda. Karyanya tidak hanya estetik, tapi juga menjadi wahana kritik sosial yang visioner dan tajam.

Termasuk pula sebagai faktor utama, yaitu perubahan politik dan budaya seiring dengan perjalanan waktu, mengakibatkan peran lembaga pujangga keraton atau istana perlahan memudar dan menghilang. Sepeninggal Raden Ngabehi Ranggawarsita, tidak ada lagi figur birokrat sastrawan keraton dengan kaliber dan derajat kepiawaian yang setara.

Proses Kreatif

Pujangga keraton pada zaman kerajaan dahulu, ketika menjalani proses kreatif suatu karya sastra tidak sekadar menulis. Tetapi, juga menjalani tindakan sakral berupa paduan laku spiritual, ritual penyucian diri, dan berlangsung dengan tingkat kekhusyukan sedemikian kuat.

Sebelum menulis, pujangga keraton, seperti Mpu Prapanca (Kerajaan Majapahit) dan Raden Ngabehi Ranggawarsita (Kasunanan Surakarta), kerap menyepi (tapa brata) di gua, permakaman keramat, atau tepi pantai. Di tempat itu, mereka berpuasa dalam waktu tertentu (3 hingga 40 hari) untuk menjernihkan pikiran, menajamkan batin, memohon ilham dari Tuhan.

Hal itu mereka lakukan, karena karya sastra yang mereka ciptakan bukan sekadar untuk hiburan, melainkan juga mengemban fungsi sebagai legitimasi kekuasaan, ramalan, dan ajaran moral. Terkadang hal itu dapat terkondisi lewat tapa brata, suatu laku relasi mistis manusia dengan alam semesta.

Sebelum menggoreskan aksara di atas daun lontar atau kertas daluang (kulit kayu pohon saeh), para pujangga keraton pada zaman dahulu kala, menunaikan puasa dan meditasi serta mandi suci plus keramas dengan air kembang setaman. Tujuannya agar pikiran mereka jernih dan mudah memperoleh ilham.

Selanjutnya, penentuan hari baik ketika akan memulai proses penulisan. Caranya dengan menghitung hari baik. Pujangga memadukan siklus hari, pasaran, dan wuku untuk memilih waktu yang menurut keyakinan mereka membawa keselamatan, keberuntungan, serta menghindari pantangan (waktu nahas).

Sudah tentu mereka juga perlu menyiapkan daun lontar atau kertas daluang lewat perendaman, penjemuran, dan pengeringan yang tidak sebentar. Setelah media tulisan siap dan jatuh pada hari baik, mereka pun mulai menulis dengan pisau pengukir khusus (pangrupak). Sudah itu, melumuri goresan aksara dengan campuran kemiri bakar agar aksara itu tampak jelas.

Naskah kuno pujangga keraton biasanya ada kelengkapan kolofon sebagai bentuk rasa syukur telah dapat mengawali atau mengakhiri suatu karya. Pada umumnya berupa tembang macapat yang memuat informasi nama pujangga atau juru tulis yang menyalin naskah.

Kemudian waktu penyelesaian yang terdiri atas hari (Radite/Minggu, Soma/Senin, Anggara/Selasa, Budha/Rabu, Respati/Kamis, Sukra/Jumat, Tumpak/Sabtu), pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).

Tidak ketinggalan wuku (siklus penanggalan tradisional Jawa dan Bali), mangsa (sistem penanggalan tradisional petani dan nelayan untuk membaca tanda-tanda alam), dengan sertaan tahun Saka atau Kurup (tahun kalender Jawa).

Kolofon itu pun memuat informasi bahwa penulisan naskah merupakan perintah dari raja yang tengah bertakhta. Selebihnya terdapat pula informasi yang menegaskan kembali judul serat atau babad yang telah selesai proses penulisannya tersebut.

Dengan demikian kolofon menunaikan fungsinya sebagai bukti autentik terkait dengan penentuan usia naskah (filologi). Dan, sekaligus merupakan tanda legitimasi kekuasaan pujangga keraton pada zamannya.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Proses kreatif para pujangga keraton sering membentuk impresi momen sakral. Mereka memperoleh sasmita atau isyarat. Ada keyakinan bait-bait yang berisikan untaian kata-kata nan indah itu, hadir berkat meditasi yang syahdu.

Latihan mental murni tanpa gerakan fisik, fokus pada pelatihan pikiran dan kesadaran. Bisa pula, dengan yoga, latihan fisik untuk menyelaraskan gerakan tubuh (asana) dengan pernapasan (pranayama).

Bisa jadi proses kreatif Mpu Kanwa ketika menciptakan Kakawin Arjunawiwaha (1030) manakala Raja Airlangga memerintah Kerajaan Medang - Kahuripan (1019 - 1042), melewati jalan ini.

Dia memetaforakan perjuangan Raja Airlangga yang berhasil memulihkan stabilitas kerajaannya setelah mengalami keadaan tidak baik-baik saja melalui bungkusan kisah tapa brata Arjuna.

Konon, menulis puisi Jawa Kuno (kakawin) sungguh sedemikian rumit. Dan, hal itu menuntut derajat ketelitian sebagaimana layaknya “menggubah” kode-kode matematika yang indah. Bagaimana tidak?

Pujangga harus menguasai guru lagu, pengaturan panjang pendek vokal dalam setiap silabel. Serta, penguasaan wilamatra, aturan ketat tentang jumlah silabel dalam tiap baris.

Nah, Mpu Kanwa dapat mencapai kemampuan tersebut berkat proses kreatifnya yang mengandalkan pendekatan Gandarwa Weda, seni yang sakral. Menurut pandangannya, hal itu merupakan bagian dari yoga atau Purwa Karma, kerja menulis demi mencapai keluhuran budi. ***