Konten dari Pengguna

Bahasa Gaul Lagi, Kali Ini Khusus Generasi Alpha

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 15 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generasi Alpha yang merupakan generasi pertama abad ke-21. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Generasi Alpha yang merupakan generasi pertama abad ke-21. (Sumber: Shutterstock)

Kelompok demografis berdasarkan rentang tahun kelahiran dari awal 2010-an hingga medio 2020-an, mendapat naungan terminologi sebagai Generasi Alpha. Merekalah generasi pertama abad ke-21. Mereka adalah juga penduduk asli digital (digital native). Sebab, tumbuh berkembang dengan teknologi yang telah berada di ujung jari begitu kemampuan bernalar mereka mulai membuka tarikh kebermulaannya.

Generasi Alpha dengan kondisi yang demikian sangat memerlukan konsep pendidikan yang fokus pada sains, teknologi (apa [prinsip dan alatnya]), teknik (bagaimana cara melakukannya), serta seni dan matematika. Bekal ini dapat menjadikan mereka lebih mudah beradaptasi dengan tantangan zaman mendatang. Dan, menempatkan mereka sebagai penyintas dalam pencarian solusi masalah kompleks yang menghendaki tenaga dukung pemikiran kreatif dan inovatif. Ini skill yang seharusnya berada dalam genggam tangan mereka dan merupakan kebutuhan jangka panjang.

Generasi Alpha memang merupakan kelompok demografis pertama yang sepenuhnya tumbuh berkembang di dunia yang terintegrasi sebegitu mesra dengan teknologi digital. Generasi Alpha juga mendapat sebutan screenagers, lantaran mereka menerima paparan dari layar serta media digital sedari usia sangat dini. Berbeda dari Generasi Z (kelahiran 1997 - 2012) yang mesti beradaptasi terlebjh dahulu dengan teknologi, Generasi Alpha begitu lahir sudah berada dunia dengan persuaan yang demikian karib dengan smartphone atau tablet.

Kehidupan sehari-hari mereka yang terkoneksi secara global lewat media sosial dan platform gaming, turut membentuk cara mereka dalam menjalin komunikasi dan sosialisasi serta mengonsumsi informasi. Ada kecenderungan mereka lebih menikmati metode pembelajaran secara visual dan interaktif. Hal ini merupakan pengaruh dari kebiasaan mereka mengonsumsi konten digital seperti acara animasi di layanan streaming dan video online.

Generasi Alpha yang begitu lahir sudah bersanding dengan smartphone atau tablet. (Sumber: Shutterstock)

Dengan adanya akses yang relatif mudah ke pelbagai sumber informasi, Generasi Alpha cenderung mandiri dalam memenuhi kuriositas mereka yang tinggi serta mencari solusi dari suatu permasalahan. Mereka pun mampu menyamankan diri dengan tren terkini dan memiliki kemampuan yang gesit dan dinamis untuk menjalin adaptasi dengan lingkungannya. Mereka lebih enjoy dengan kecepatan dan kemudahan dalam berinteraksi dan berperilaku ketika mengonsumsi segala sesuatu.

Dengan keunggulan literasi digital, Generasi Alpha berada dalam kutub proyeksi sebagai generasi yang kelak pada kemudian hari bakal menjadi sosok generasi yang lebih terdidik dan melek teknologi serta heterogen secara global. Hal ini kelak bakal menginjeksikan pengaruh signifikan ketika pada gilirannya kelak mereka mengambil kontribusi peran bagi masa depan sosial dan ekonomi bangsa Indonesia ke depan.

Terdengar Unik

Kata “skibidi” memiliki beberapa varian makna dalam bahasa gaul Generasi Alpa. (Sumber: Shutterstock)

Generasi Alpha merajut komunikasi dengan teman sebaya dengan bahasa gaul yang terdengar unik. Banyak menerima angsuran pengaruh dari tren media sosial dan internet. Sejumlah kata tidak mempunyai arti harfiah. Tidak terdapat di kamus dengan batasan makna standar. Atau, tidak merujuk pada objek, tindakan, atau konsep spesifik.

Makna yang terkandung dalam kata terkadang teramat berbasis pada konteks, siapa yang mengucapkan dan dalam situasi bagaimana. Sifat maknanya lebih pada perasaan daripada kejelasannya. Pemakaiannya untuk mengekspresikan emosi, reaksi, atau suasana hati yang spontan, seperti kaget, senang, aneh, atau lucu. Juga untuk humor internal atau menunjukkan identitas tren dan budaya Generasi Alpha. Terkadang humor itu bisa datang dari ketidakjelasan makna suatu kata atau cara pengucapan kata itu.

Dalam bahasa gaul Generasi Alpha muncul kata “skibidi”. Kata ini dicuplik dari lagu “Dom Dom Yes Yes” yang dinyanyikan oleh Biser King dan serial YouTube bertajuk Skibidi Toilet. Lalu popularitasnya menanjak lewat tarian di TikTok serta serial animasi YouTube yang memperformasikan toilet berkepala manusia.

Pada 18 Agustus 2025, kata “skibidi” bersama kata “delulu” (delusi atau khayalan) dan “tradwife” (traditional wife) resmi masuk Kamus Cambridge. Ia merupakan bagian dari penambahan 6.000 kata dari hasil rekapopularitas Generasi Z dan Alpha. Kata “skibidi” bisa bermakna buruk seperti pada kalimat “Tugas sekolah hari ini skibidi banget, nggak jelas maunya apa”.

Bisa pula bermakna bermakna keren sebagaimana tertuang dalam kalimat “Liat deh outfit-nya, skibidi abis”. Maksudnya, cara berbusana seseorang itu serasi sekali performanya. Jadi, semacam pujian. Bisa juga untuk menyatakan hal yang lucu: “Pas lihat ekspresi temenku kaget. Beneran skibidi banget mukanya. Bikin ngakak”.

Kemudian ada kata “sigma”. Merupakan bahasa gaul internet. Untuk mendeskripsikan lelaki yang memiliki pribadi mandiri, penuh percaya diri. Sosok “serigala penyendiri” (lone wolf) yang lebih suka bekerja sendiri, tidak terlalu ambil peduli pandangan orang lain terhadap dirinya. Tidak pula terlalu ambil peduli popularitas di kalangannya.

Sigma male berbeda dari Alpha male. Tidak mencari dan mendominasi hierarki sosial, tetapi beroperasi di luar hierarki tersebut. Lebih mantap dengan kemandirian, tidak mencari validasi sosial. Cenderung introvert, kalem, memimpin dengan contoh tanpa mesti menjadi pusat perhatian.

Kata “sigma” dalam bahasa gaul Generasi Alpha dapat bermakna keren atau sangat baik. Misalnya seperti terdapat dalam kalimat “Dia mah tipe sigma, kerjaannya baca buku di pojokan tapi tetap kelihatan elegan. Dengan martabat dan kualitas diri yang tinggi". Atau, “Jangan ganggu. Dia lagi fokus jalanin grindset (obsesi kerja keras) sigma-nya”. Atau lagi, “Hidup ini pilihan. Mending jadi sigma yang mandiri daripada ikut-ikutan doang”.

Lalu ada kata “rizz”. Konon merupakan kependekan dari “karisma”. Bisa jadi yang ditinggalkan adalah silabel “ris”. Bila mengacu kata Inggrisnya charisma yang pelafalannya /kəˈrizmə/, maka sangat bisa jadi bunyi /riz/ yang menjadi acuan. Lalu dilakukan penambahan fonem “z” satu lagi. Jadilah bentukan “rizz”. Kata ini pernah dinobatkan sebagai Word of the Year 2023 oleh Oxford University Press.

Kata “ rizz” mengusung makna kemampuan seseorang memikat, menggoda, atau merengkuh minat romantis dari seseorang yang lain melalui persona komunikasi verbal atau gaya. Kalimat “Gila, cowok itu rizz-nya parah banget, semua cewek langsung pada nengok”, sangat relevan dengan sinyal makna ini. Demikian pula dengan kalimat, “Dia punya rizz yang bikin banyak orang terpesona”. Uluran makna hampir senada juga terdapat dalam kalimat “Rizz-ku hari ini level minus. Gagal total ngobrol sama crush". Rujukan makna kata crush di sini adalah seseorang yang sedang disukai atau ditaksir.

Dari Mewing ke Big L

Mewing, teknik untuk memperoleh garis rahang yang lebih tegas. (Sumber: Shutterstock)

Kata “mewing” juga ada dalam bahasa gaul Generasi Alpha. Pada mulanya, merupakan teknik menempatkan lidah di langit-langit mulut. Dengan bibir terkatup rapat dan gigi bersentuhan ringan. Diinisiasi oleh dokter gigi spesialis ortodentis asal Britania Raya, John Mew. Kemudian dipopulerkan putranya yang juga seorang dokter gigi, Mike Mew. Antara lain untuk memperbaiki struktur rahang dan gigi pada anak-anak. Hanya belum ada klaim pembenaran secara ilmiah.

Dalam bahasa gaul, “mewing” lebih mewadahi makna dari upaya seseorang memperbaiki penampilan wajah. Seperti pada kalimat “Jangan ganggu. Gue lagi fokus mewing biar rahang tirus”. Bentuk rahang lebih ramping dan lancip. Terkait dengan V-face. Dapat pula terungkap sebagai pujian terhadap penampilan seseorang, pada kalimat “Eh, liat deh jawline (garis rahang) dia. Pasti gara-gara rajin mewing”.

Kata “gyatt” mengantarkan makna untuk mengungkapkan rasa terkejut, seperti dalam kalimat “Gyatt, harga tiket konsernya mahal banget!". Bisa juga untuk kepsen video guna memuji penampilan seseorang: “Dia punya #GYATT”. Kata ini populer di lingkungan gamer online dan streamer Twitch, sebelum menghijrahkan pengaruh ke TikTok.

Gabungan kata “brainrot” merujuk pada penurunan kognitif, bisa pula berupa kelelahan mental akibat mengonsumsi secara berlebihan konten media sosial yang secara kualitas kurang bergizi, hanya berupa pengulangan, dan tidak kreatif. Brainrot yang pernah menjadi Kata Oxford 2024 ini, dalam realisasi pemaknaan pada bahasa gaul, lazim berada dalam konteks humor tatkala seseorang merasa terlalu lama menyediakan waktu untuk menonton video TikTok absurd atau konten meme yang tidak berdamai dengan akal sehat.

Kalimat seperti “Scroll TikTok dari tadi isinya brainrot semua, mendingan tidur” merepresentasikan uluran pemaknaan di atas. Begitupun dengan kalimat, “Teman-temanku di kelas bahasanya brainrot. Isinya cuma meme sama konten nggak jelas” (Terlalu lama mendengar topik pembicaraan yang kurang berkualitas). Atau, “Aku udah nonton seri itu lima kali. Rasanya aku udah brainrot banget” (Rasa jenuh yang menghampiri karena kelewat sering menontonnya).

Selanjutnya ada “big L”. Sertaan huruf “L” menyisakan pertanyaan, apakah kepanjangannya. Ternyata, sesuai dengan pasangannya yang dapat teridentifikasi sebagai kata bahasa Inggris, demikian pula dengan kepanjangan huruf “L”. Ia adalah kependekan dari loss. Jadi, “big loss” secara harfiah bermakna kekalahan, kerugian, atau kegagalan dalam skala besar.

Sejalan dengan makna harfiah tersebut, “big L” atau “big Loss” pun dalam bahasa gaul Generasi Alpha penggunaannya tidak terlalu jauh dari kisaran semantik itu. Ia juga menjadi kode verbal yang mewadahi ekspresi kekecewaan, kegagalan memalukan, atau mengalami kerugian yang menohok. Atau, bisa pula dalam konteks pembicara atau seseorang yang mengalami kejadian memalukan, menyedihkan, atau mengecewakan.

Misalnya kita dapat menyimak dari kalimat “Big L banget deh. Udah dua jam nungguin bus, ternyata salah halte” (Mengalami kejadian memalukan). Lalu kalimat “Dia kalah taruhan Rp500 juta. That’s a big L man” (Menderita kerugian relatif besar). Kemudian kalimat “Tim sepak bola favorit gue kalah 5 - 0. Big L banget sih” (Ungkapan kekecewaan).

Dari Bop ke Ohio

Seterusnya ada kata “bop” yang merupakan onomatope (tiruan bunyi) suara hentakan kaki, ketukan jari tangan, atau goyangan/anggukan kepala mengikuti irama musik. Untuk menyebut lagu yang terdengar bagus baik lirik maupun aransemen musiknya. Bisa juga untuk menyebut tarian yang catchy (menarik) dan energik.

Dalam konteks lagu, misalnya tampak pada kalimat “Album terbaru Taylor Swift bop semua, gak ada yang skip” (Semua lagunya bagus, tidak ada satu pun yang bisa dilewatkan). Atau, “Menurut gue, lagu-lagu K-Pop tuh kebanyakan bop” (Ekspresi opini pribadi tentang lagu-lagu K-Pop yang rata-rata bagus). Atau lagi, “Lagu ‘Cinderella’ dari Maliq & D’Essentials itu bop klasik” (Klasifikasi lagu bagus di masa silam).

Dalam konteks tarian, meskipun tidak sesering untuk lagu, kata “bop” juga digunakan. Misalnya dalam kalimat “Lihat deh. Pas dance cover itu, gerakannya bop banget. Energik” (Gerakannya saat meniru tarian koreografi artis idolanya persis dan bagus sekali). Lalu kalimat, “Koreografi lagu itu bop parah. Pasti seru kalau dicoba” (Ekspresi keinginan untuk meniru gerakan koreografi sangat bagus yang menjadi latar sebuah lagu).

Selanjutnya ada kata “bassin”. Merupakan variasi ejaan dari kata bahasa gaul Inggris bussin. Yang ditulis dalam bahasa Indonesia adalah versi pengucapannya. Bisa untuk mendeskripsikan makanan yang enak, seperti “Mi ayam di sana bassin parah. Wajib coba”. Bisa pula untuk memuji kemampuan seseorang. Maknanya sekitar sangat bagus atau luar biasa. Misalnya pada kalimat “Presentasi kamu saat pelajaran tadi bassin”.

Gabungan kata “no cap” (tidak bohong) dalam bahasa gaul Generasi Alpha. (Sumber: Shutterstock)

Kata “cap” merupakan penyingkatan dari capping. Adjektiva (kata sifat) yang mengacu pada lying (berbohong) atau exaggerating (melebih-lebihkan). Asal-usul kata “cap” dari African American Vernacular English (AAVE). Dialek Inggris Amerika yang dituturkan oleh warga Amerika Serikat keturunan Afrika. Mereka memiliki tata bahasa sendiri, juga pengucapan dan khazanah kosakata sendiri yang boleh terkatakan unik.

Kata “cap” juga berasal dari budaya hip-hop. Suatu gerakan budaya yang diinisiasi komunitas Afro-Amerika dan Latin di New York pada 1970-an. Ada empat elemen utama, yaitu DJng (disk jockeying), MCing (rapping), B-boying (breakdance), graffiti (visual art). Kemudian menyebar luas lewat media sosial dan platform streaming.

Contoh kalimat dengan kata “cap” (bohong): “Dia bilang bisa renang dari satu ujung kolam ke ujung yang lain. Tapi pas kuminta dia lakukan, kok diam saja. Cap banget tuh”. Atau, “Cerita dia semalam kayaknya banyak cap-nya deh. Masak iya dia bisa makan seporsi besar sendirian”.

Sementara itu, contoh kalimat dengan gabungan kata “no cap” (tidak bohong alias jujur atau serius), yaitu “Film semalam keren banget. No cap”. Demikian pula dengan kalimat “No cap. Gue dapat tiket konser boy band K-Pop BTS (Bangtan Sonyeondan)”. Atau kalimat, “Makanan di warung itu enak banget. No cap. Wajib coba” dan “Dia itu orang terpintar di kelas. No cap”.

Lebih lanjut ada kata “glow up” (bersinar atau berkembang). Bagian dari bahasa gaul yang populer untuk menunjukkan transformasi positif. Pada mulanya sering berada dalam gapaian pemanfaatan dalam tautan semantik terkait dengan perubahan penampilan fisik. Seperti terdapat dalam kalimat “Lihat dong foto dia yang dulu! Sekarang glow up banget!" atau “Gila sih, lihat dia sekarang. Beneran glow up parah dari pas SD dulu”.

Kalau ada sentuhan kontekstual dengan peningkatan rasa percaya diri, contohnya termaktub dalam kalimat ujaran “Glow up yang paling kelihatan dari dia adalah kepercayaan dirinya. Dulu pendiam banget. Sekarang berani public speaking di depan banyak orang”. Ada juga yang menaruh titik perhatian pada gaya hidup: “Sejak dia mulai baca buku dan kurangin scrolling TikTok, gaya hidupnya jadi glow up banget. Sekarang lebih terstruktur dan produktif".

Bila yang mengalami transformasi poaitif itu kecerdasannya, maka contoh kalimat yang representatif adalah “Glow up yang paling keren dari dia itu pas dia mulai ngejar beasiswa S-2. Otaknya beneran makin encer dan wawasannya luas banget sekarang”. Begitu pula kalimat, "Gue ngerasa glow up di bidang pelajaran nih. Nilai naik drastis setelah paham cara belajar yang efektif”.

Dalam bahasa gaul Generasi Alpha, terdapat pula kata “salty”. Adopsi dari kata bahasa Inggris yang harfiah bermakna asin. Akan tetapi, dalam bahasa gaul ada pergeseran makna ke arah ekspresi emosi negatif, seperti kesal, tersinggung, ngambek, atau jengkel. Terkadang dipicu oleh faktor penyebab yang remeh atau sepele saja.

Deretan kalimat ujaran berikut relatif dapat memberi gambaran peran kata “salty” dalam bahasa gaul. Misalnya “Jangan salty dong, kan cuma bercanda”; “Dia langsung salty setelah kalah main gim”; “Suporter tim sepak bola sebelah pada salty, gara-gara jagoannya keok”. Misal lain, “Ada yang komen salty di postinganku nih” serta “Capek banget ngelihat dia salty mulu tiap dikasih tahu”.

Selebihnya kata “ohio”. Dalam bahasa gaul Generasi Alpha dan media sosial, kata ini untuk menyebut sesuatu yang aneh, canggung, memalukan, buruk, atau tidak biasa. Kata ini pada awalnya muncul sebagai meme yang populer pada 2016. Mengacu pada fenomena surealis dan acak yang konon berlangsung di Negara Bagian Ohio, Amerika Serikat sehingga muncul frasa seperti Only in Ohio. Pada perjalanan waktu selanjutnya, berevolusi menjadi adjektiva untuk menunjukkan hal-hal yang terasa aneh atau cringe.

Only in Ohio sebagai biang keanehan antara lain diperlihatkan pemberlakuan produk perundang-undangan yang berkesan tidak lazim. Acapkali merupakan peraturan kota (municipal ordinances). Seperti di Cleveland, ilegal wanita mengenakan sepatu kulit paten. Sebab, sangat mengkilap hingga lelaki dapat melihat pantulan pakaian dalam mereka.

Masih di Cleveland, menangkap tikus tanpa izin berburu hukumnya ilegal. Lalu di Paulding, polisi mendapat izin untuk menggigit anjing saat akan menangkapnya. Lalu di Marion, ada larangan berjalan mundur sambil makan donat. Di Ohio (secara umum), membuat ikan mabuk saat hendak menangkapnya adalah tindakan ilegal.

Dewasa ini undang-undang dengan klausul yang aneh-aneh tersebut tidak memperoleh ranah penegakan secara aktif. Lebih menempati fungsi sebagai cerita menarik di negara bagian tersebut. Meskipun demikian, cukup sudah bagi kita untuk meletakkan perspektif kesan tentang hal-hal aneh di Ohio. Only in Ohio.

Kalimat “Baju lu Ohio banget hari ini” atau “Tingkahmu itu Ohio banget sih” dapat untuk menjadi dua contoh awal untuk mempertegas raut pemahaman. Bisa ditambah lagi dengan “Dari semua tugas yang dikasih, ini yang paling Ohio”. Juga “Kamu tuh kadang bikin aku bingung. Ohio banget”. Serta, “Jangan sampai kita ketahuan. Nanti dikira Ohio”.

Kental Bahasa Inggris

Bahasa gaul Generasi Alpha begitu kental dengan bahasa Inggris dan kadang bermakna kompleks. Padahal, para penggunanya yang paling tua lahir pada tahun 2010-an. Meskipun demikian, mereka mampu menguasainya dengan baik karena adanya tiga faktor pendukung utama.

Generasi Alpha yang native digital. (Sumber: Shutterstock)

Pertama, Generasi Alpha merupakan penduduk asli digital (native digital) sejati. Dalam usia dini mereka telah mengalami proses eksposur (paparan atau keterbukaan) digital yang intens. Mereka memperoleh paparan konten dari seantero dunia dengan dominasi bahasa Inggris via platform seperti YouTube, TikTok, dan game online. Paparan dengan intensitas frekuensi yang ajek dan lama itu menyebabkan mereka semakin akrab dan mudah mengadopsinya.

Kedua, banyak kata dalam bahasa gaul Generasi Alpha yang mempunyai asal dari meme atau tren tertentu di media sosial. Untuk menggapai pemahaman optimal perlu pemahaman pula konteks budaya internet. Bukan sebatas kemampuan berbahasa Inggris secara formal. Dan, bagi Generasi Alpha yang tumbuh di lingkungan budaya internet, makna kompleks tersebut malahan dapat berada dalam cecap pemahaman mereka secara alami.

Ketiga, kendati secara budaya bermakna kompleks, dalam perspektif linguistik, kata-kata yang mengalir dalam bahasa gaul Generasi Alpha kerap kali sederhana, seperti “rizz”, “bop”, dan “cap”. Kemampuan fundamental berbahasa Inggris yang mereka peroleh di sekolah, dengan imbuhan paparan informal di internet, membuka ruang pemungkinan yang lebar bagi mereka untuk dengan cepat mengadopsi dan menggunakannya dalam aktivitas berbahasa keseharian.

Bahasa gaul Generasi Alpha tidak lagi menjadi dominasi mereka yang tinggal di kota-kota besar saja. Akan tetapi, telah menemukan bentuk penyebarannya ke hampir seluruh wilayah di Indonesia. Tidak terkecuali di wilayah perdesaan serta terpencil. Tentu saja sepanjang akses koneksi internet dapat dijangkau dengan segala kenyamanannya.

Media sosial seperti TikTok, YouTube, dan Instagram menjadi katalisator utama penyebaran yang luas dan cepat. Pengaksesan konten viral dapat diambil siapa pun dengan kepemilikan koneksi internet di lokasi geografis mana saja. Kata-kata atau istilah-istilah baru pun masuk ke dalam memori pemahaman mereka lewat video, challenge, atau meme.

Generasi Alpha meniti pertumbuhan kehidupannya manakala akses internet kian merambah secara merata di seantero Tanah Air. Ponsel pintar dan paket data yang relatif berada dalam rengkuh jangkauan finansial keluarga mereka di berbagai wilayah, sehingga dapat terus terbasuh dengan kekuyupan informasi tentang tren global ataupun lokal.

Tidak sedikit kata atau istilah dalam bahasa gaul Generasi Alpha yang datang sebagai injeksi pengaruh dari komunitas gaming atau influencer dengan deretan follower dari Sabang sampai Merauke. Para follower itu pun mengimitasi bahasa sang idola. Percepatan penyebaran kata atau istilah baru pun menemukan langkah realisasinya.

Belum lagi dukungan kemudahan dalam membagikan ulang (repost), mengunduh, membuat ulang konten juga dapat menyebabkan kata atau istilah baru melesat untuk memenuhi kodrat pendistribusiannya secara luas. Dengan demikian, tidak ada hambatan berarti untuk menjadi bagian dari aktivitas berbahasa keseharian di pelbagai lingkungan sosial.

Kendati mesti perlu mendapat pemakluman, bisa jadi ada sedikit torehan jeda waktu dalam pengadopsian kata atau istilah baru, antara di kota besar dan di wilayah terpencil, akan tetapi perbedaan itu lebih mirip nuansa, hanyalah minimal atau tipis-tipis saja pada era digital ini. Pendek kata, di mana saja tempat yang terdapat koneksi internet dan media sosial, hampir niscaya di tempat itulah bahasa gaul Generasi Alpha akan dapat ditemukan eksistensinya. ***