Konten dari Pengguna

Bapak Pers Nasional Itu Bernama Lahir R.M. Djokomono

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Raden Mas (R.M.) Djokomono. Kali pertama mendengar nama yang sangat mirip dengan nama saya itu, sekitar 42 tahun lalu ketika mengikuti mata kuliah Sejarah Sastra Indonesia di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (D-3) IKIP Negeri Semarang.

Buku pegangan kami saat itu, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, yang disusun oleh sastrawan dan budayawan Ajip Rosidi (31 Januari 1938 - 29 Juli 2020). Cetakan pertama tahun 1969 dengan Penerbit Binacipta Bandung. Setelah beberapa kali naik cetak, sejak 1970-an hingga 1980-an, hak penerbitannya beralih ke Penerbit Pustaka Jaya Jakarta.

Buku yang pernah saya pakai pada waktu itu masih terbitan Binacipta Bandung. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, di tangan Pustaka Jaya, buku ini menjadi rujukan utama mahasiswa sastra dan telah menemukan realisasi cetak ulang berkali-kali secara berkala. Guna memenuhi kebutuhan akademis dan pencinta sastra.

Untunglah Bu Narti (Dra. Soenarti), dosen pengampu mata kuliah kala itu, memberitahu kepada kami (teman-teman dan saya), telah terjadi sedikit kesalahan cetak pada bab awal yang mengetengahkan pemaparan fakta sejarah periodisasi atau perintisan awal Sastra Indonesia Modern sebelum Balai Pustaka.

Pada bagian ini ada penyebutan tokoh pers dan Sastra Indonesia Modern R.M. Djokomono. Hanya terjadi sedikit kesalahan ketik pada buku pegangan kami pada waktu itu. Di situ tertulis Djokonomo. Terjadi pembalikan nama dari seharusnya “mono” menjadi “nomo.” Dan, Bu Narti pun segera memastikan, nama yang benar adalah Djokomono.

Ketika nama itu sudah pasti Djokomono. Persis dengan nama belakang saya, seorang kawan yang duduk di sebelah buru-buru menepuk-nepuk pundak saya. Sambil berbisik, "Selamat ya. Namamu persis pendiri koran Medan Prijaji".

Dan, ketika dahulu saya bekerja di Harian Suara Merdeka Semarang, seorang kawan berkata dengan nada bergurau, bahwa dengan pemberian nama itu, orang tua saya seolah sudah mengetahui pada saat dewasa nanti akan menjadi insan pers.

Trah Bangsawan Jawa

Ilistrasi kreasi Gemini AI.

R.M. Djokomono lahir di Cepu, Blora, Jawa Tengah pada 20 Juli 1880 dan wafai di Batavia pada 7 Desember 1918. Salah seorang tokoh paling revolusioner dalam sejarah Indonesia. Lahir dari keluarga priyayi tinggi atau trah bangsawan Jawa baik dari garis ayah maupun ibu.

Dari garis kakek pihak ayah, R.M. Djokomono merupakan cucu Raden Mas Tumenggung (R.M.T.) Tirtonoto II yang menjabat Bupati Bojonegoro pada 1878 - 1888. Kakeknya ini penerima penghargaan bintang sipil tertinggi Kerajaan Belanda, yaitu Ridder in de Orde van de Nederlansche Leeuw Kesatria dalam Ordo Singa Belanda).

Pada masa pemerintahannya, fokus pada pembangunan infrastruktur, seperti jalan perdesaan, irigasi pertanian, dan merintis sekolah untuk bumiputra (inlandsche school) pertama di Bojonegoro.

Bupati Bojonegoro R.M.T. Tirtonoto II merupakan cucu dari Raden Adipati Tirtonoto I yang memerintah pada 1844 - 1878. R.M.T. Tirtonegoro II adalah putra R.M. Tirtorejo (anak R.M.T. Tirtonegoro I).

Dengan demikian R.M. Djokomono merupakan cucu canggah dari beliau. Selama 34 tahun memerintah, beliau terkenal sebagai pemimpin yang adil dan taat dalam beragama.

Adapun ayah R.M. Djokomono adalah Raden Ngabehi (R.Ng.) Hadji Moehammad Chan Tirtodipoero, merupakan bagian dari elite birokrasi yang memiliki mobilitas karier yang relatif dinamis. Pernah menjadi pegawai Kantor Pajak Pemerintah Hindia Belanda. Cerminan karakter priyayi zaman kolonial yang patuh terhadap jalur resmi birokrasi pemerintahan.

Gelar keagamaan “hadji” yang turut melekat pada nama ayah R.M. Djokomono menunjukkan dirinya muslim taat dan telah mengunjungi Baitullah. Suatu pencapaian spiritual yang begitu terpandang serta status sosial yang mendapat tempat terhormat bagi masyarakat Jawa pada abad ke-19.

Selanjutnya keberadaan nama Chan, menurut pembacaan sejarawan, merupakan arsip biologis atau kultural. Bisa merujuk pada pengaruh Tionghoa muslim atau variasi fonetik lokal. Dalam rumpun bahasa China, konon Chan merupakan romantisasi dialek Kantonis yang banyak menjadi sarana komunikasi di Hongkong, Makau, dan komunitas Tionghoa perantauan (termasuk di Nusantara) untuk marga Chen (陈/陳).

Ada pula yang melafalkan Chan dengan Khan. Nama ini lazim menerima asosiasi dengan keturunan Asia Tengah, Persia, atau India. Misalnya kaum muslim dari Gujarat, Parsi, atau Pathan/Afgan yang bermigrasi ke Nusantara.

Nama Chan (atau Khan) boleh tergolong tidak lazim bagi priyayi Jawa pada masa itu. Sangat tidak biasa dalam penamaan kaum ningrat atau bangsawan/priyayi Jawa. Ada beberapa alternatif penafsiran, seperti indikasi adanya pengaruh serapan budaya. Atau, membawa corak tersendiri dalam identitas keluarga.

Hal ini terjadi, karena ayah R.M. Djokomono memang tidak hidup secara steril dari sapaan interaksi luar. Dia justru menjadi bagian jaringan masyarakat kosmopolitan, yang terdiri atas pesisiran, Arab-Nusantara, India-Nusantara, atau Tionghoa - Muslim, yang melebur ke dalam strata priyayi.

Meskipun demikian, dengan menempatkan nama Tirtodipoero di bagian paling belakang, menunjukkan penghormatan terhadap tanda identifikasi silsilah atau afiliasi budaya Jawa yang begitu kental.

Dan, Raden Ngabehi Hadji Moehammad Chan Tirtodipoero, sebagaimana pada umumnya orang tua kelas penguasa, memastikan anak-anaknya yang berjumlah 11 orang (R.M. Djokomono adalah anak nomor ke-9) mendapatkan pendidikan dengan kualitas paling baik.

Beberapa kakak kandung R.M. Djokomono menempati posisi penting dan sering sejarah mencatatnya dengan saksama. Satu di antaranya R.M. Tirto Adi Koesoemo. Fakta historis menunjukkan, kakak tertua tersebut meniti karier di birokrasi hukum Pemerintah Belanda. Pernah menjabat sebagai Jaksa Kepala (Hoofd Djaksa) Rembang pada kisaran 1896 hingga medio 1890-an. Terkenal tegas dalam pemberantasan penyelundupan candu.

Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925 - 30 April 2006) dalam buku Sang Pemula (Hasta Mitra Jakarta, 1985) menuturkan narasi biografis, ketika R.M. Tirto Adi Koesoema menyandang jabatan itu, sang adik, R.M. Djokomono tinggal bersamanya dan menempuh pembelajaran Europeesche Lagere School (ELS). Sekolah dasar elite dengan bahasa pengantar Belanda ini sudah ada pada 1817.

Dan, baru pada 1903, mulai mengizinkan dalam bentuk akses terbatas bagi anak-anak dari kalangan bangsawan (priyayi) bumiputra. Sementara itu, Hollandsch-Inlandsche School (HIS) baru hadir pada 1914. Dampak dari Politik Etis. Para muridnya anak-anak bangsawan dan tokoh terkemuka bumiputra.

ELS sesungguhnya mengutamakan anak-anak keturunan Eropa. Kalaupun ada anak-anak bumiputra berkesempatan mengenyam pendidikan di situ, mereka dari keluarga bangsawan atau orang kebanyakan yang terpilih karena tingkat kecerdasan di atas rata-rata. R.M. Djokomono berpindah-pindah kota saat di ELS karena mengikuti penugasan kakak sulungnya itu di Bojonegoro, Madiun, dan Rembang hingga lulus pada 1894.

Seusai merampungkan pendidikan dasarnya di Rembang, R.M. Djokomono pindah ke Batavia, melanjutkan ke Hogere Burgerschool (HBS) dan lulus pada kisaran 1897. Setelah itu menempuh kuliah di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter Bumiputera.

Sementara itu dari garis ibu, R.M. Djokomono mempunyai tautan pertalian darah dengan Pangeran Sambernyowo (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya/K.G.P.A.A. Mangkunegoro I dari Keraton Surakarta. Dan, keturunan Bupati Blora Raden Mas Adipati Aria/R.M.A.A.Tjokronegoro I. Adapun R.M. Djokomono merupakan cicit beliau.

Pergeseran Minat

Ilustrasi hasil kreasi Gemini AI.

Di STOVIA, R.M. Djokomono menempuh studi hingga 1900. Belum sampai menyelesaikan pendidikan. Bukan lantaran persoalan kemampuan intelektualnya, melainkan karena pergeseran minanya. Selama menimba ilmu di STOVIA, fokus perhatiannya justru tercurah ke dunia jurnalistik.

R.M. Djokomono lebih banyak menghabiskan waktu, energi, dan pikirannya untuk memenuhi hasrat keinginannya menulis. Dia aktif mengirimkan tulisan dan menjadi redaktur di sejumlah surat kabar terkemuka pada masa itu, seperti Pembrita Betawi, Bintang Betawi, dan Chabar Hindia Olanda. Antusiasme dan kesibukannya yang begitu luar biasa menyebabkan studinya terbengkalai.

Pada akhirnya R.M. Djokomono dikeluarkan dari STOVIA pada 1900. Ada sentuhan kasus pelanggaran disiplin yang menjadi pemicu alasan utama, mengapa sanksi pemberhentian tetap alias drop out itu berlaku baginya. Dia ketahuan membuat dan memberikan resep obat ilegal dalam upaya membantu sahabatnya, seorang Tionghoa miskin dan sedang sakit.

Padahal statusnya masih mahasiswa yang belum mempunyai izin resmi untuk melakukan hal tersebut. Tindakan demikian dilarang keras oleh otoritas STOVIA. Sebab, R.M. Djokomono masih mahasiswa dan belum mempunyai izin resmi guna mempraktikkan ilmu kedokteran atau mengeluarkan resep.

STOVIA menerapkan sistem pendidikan sangat ketat, mengingkat, dan semimiliter. Berada di dalam ranah rancangan guna mencetak kepatuhan penuh terhadap Pemerintah Kolonial. R.M. Djokomono yang berjiwa pemberontak dan kritis terhadap ketidakadilan sosial serta diskriminasi rasial di lingkungan institusi kolonial merasakan ketidakcocokan dengan sistem pendidikan tersebut.

Kapasitas intelektual R.M. Djokomono justru terbukti luar biasa di luar bidang kedokteran. Setelah meninggalkan bangku kuliah di STOVIA, dia mendirikan surat kabar berbahasa Melayu, Soenda Berita, yang terbit kali pertama pada 7 Februari 1903.

Mingguan dengan kertas ukuran 12 x 20 sentimeter (format majalah) itu terdiri atas 16 halaman (1 - 13 berisi bermacam ragam tulisan dan tiga halaman terakhir berisi iklan).

Sayang, surat kabar yang berkantor di sebuah desa yang berada di wilayah Cianjur, Jawa Barat itu terpaksa tutup pada 1906 karena mengalami kesulitan finansial dan kerugian modal.

Meski demikian, sejarah persuratkabaran Indonesia mencatat, Soenda Berita merupakan media mingguan pertama berbahasa Melayu dengan modal, pengelolaan, dan pengisian kontennya dari tenaga kaum bumiputra.

R.M. Djokomono tidak patah arang. Beberapa waktu kemudian, dia mendirikan Surat Kabar Medan Prijaji di Bandung dan melakukan penerbitan perdana pada 1 Januari 1907.

Dalam tiga tahun pertama, Medan Prijaji hadir ke khalayak pembaca tiap hari Sabtu dengan frekuensi terbit mingguan. Ukuran kertasnya 12,5 x 19,5 sentimeter. Menyerupai bentuk buku atau jurnal mungil. Tulisan di dalamnya kebanyakan tercetak dalam format satu kolom saja. Mirip tata letak buku. Atau, sesekali ada pendesainan dalam dua kolom untuk artikel panjang.

Mulai 5 Oktober 1910, Medan Prijaji bertransformasi menjadi surat kabar harian. Dengan ukuran kertas yang tetap, pernah terjadi upaya pengubahan format kecilnya menjadi lebih besar. Tujuannya, agar dapat memuat lebih banyak berita dan iklan. Formatnya tetap relatif ringkas. Pembagian kolom lebih dominan satu atau dua per halaman. Tujuannya, demi kenyamanan pembaca.

Sejarah menyaksikan, Medan Prijaji merupakan surat kabar nasional pertama di Tanah Air. Menggunakan bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia. Seutuhnya dimiliki, dimodali, dan dikelola kaum bumiputra. Tanpa ada intervensi permodalan dari Pemerintah Kolonial atau asing.

Medan Prijaji merupakan perintis jurnalisme advokasi. Aktif membela hak-hak dan kepentingan masyarakat bumiputra. Menyediakan rubrik khusus untuk menampung pengaduan rakyat yang mengalami penindasan pejabat kolonial atau penguasa lokal.

Medan Prijaji memiliki keberanian untuk melancarkan kritik tajam berbagai kebijakan Pemerintah Kolonial. Tulisan yang termuat di dalamnya membentuk opini publik guna menggugah kesadaran nasional.

R.M. Djokomono sering keluar-masuk pengadilan kolonial karena persoalan delik pers (persdelict). Ada kasus yang menonjol pada 1909, tatkala dia membongkar skandal korupsi dan manipulasi pemilihan kepala desa yang melibatkan Wedana Cangkrep, Purwareja, Mas Tjokrosentono dengan Aspiran Kontroleur A. Simon.

Api perseteruan itu tersulut tulisan R.M. Djokomono di Medan Prijaji yang membongkar skandal persekongkolan A. Simon dengan Mas Tjokrosentono dalam pemilihan lurah Desa Bapangan. Mereka merekayasa hasil pemilihan tersebut.

Calon lurah yang memperoleh dukungan penuh mayoritas warga, Mas Soerodimedjo, karena adanya peemainan kongkalikong, tidak mendapat restu pengangkatan dari kedua pejabat itu.

Keduanya justru mengangkat calon lain yang tidak mendapat dukungan warga. Mereka menyingkirkan Mas Soerodimedjo dengan tuduhan telah mengacaukan proses pemilihan. Kemudian memanfaatkan aparat untuk menangkapnya dan melalui Pengadilan Kolonial mendapat hukuman kerja paksa selama 14 hari.

Mas Soerodimedjo yang merasa menerima perlakuan tidak adil mengadukan kasus ini ke R.M. Djokomono (yang sudah memakai nama dewasa R.M. Tirto Adhi Soerjo). Dia pun kemudian menulis investigasi tajam di Medan Prijaji edisi 1909.

Saking geram atas tindakan sewenang-wenang itu, dia mengejek A. Simon dalam artikelnya dengan sebutan dalam bahasa Belanda, snoot-aap. Umpatan ringan untuk orang muda yang belum berpengalaman, namun bersikap seolah sudah mengetahui segalanya.

Kasus ini pun berlanjut ke meja hijau. A. Simon menggugat R.M. Tirto Adhi Soerja dengan dua tuduhan, yaitu melawan kebenaran (fitnah) dan pencemaran nama baik atau penghinaan. Hasil akhir Pengadilan Kolonial, menolak dakwaan fitnah. Hakim menilai, segala hal yang telah R.M. Tirto Adhi Soerjo sampaikan dan tulis bukan kebohongan atau mengada-ada melainkan kebenaran.

Akan tetapi, Pengadilan Kolonial memenangkan gugatan pencemaran nama baik. Menurut hukum yang berlaku kala itu, kendati suatu informasi mengandung kebenaran perlu terbungkus dengan pernyataan yang tidak mengandung anggapan merendahkan, menghina, atau merusak reputasi pejabat atau orang Belanda. Bila aturan ini terlanggar, maka itu adalah suatu pelanggaran hukum.

Hasil akhir ini menunjukkan dengan tegas, walaupun R.M. Tirto Adhi Soerjo tetap menerima vonis bersalah karena pencemaran nama baik, yaitu hukuman pengasingan ke Telukbetung, Lampung selama dua bulan (18 Maret - 19 Mei 1910). Dan, bukan karena kasus tersebut adalah fitnah. Kasus tersebut merupakan kebenaran tentang tindakan manipulatif yang mengalami pembiaran dari hukum kolonial.

R.M. Tirto Adhi Soerjo memang tidak mendapatkan keuntungan dari proses Pengadilan Kolonial itu. Akan tetapi, keberaniannya membongkar skandal persekongkolan pemilihan lurah di Desa Bapangan, Purworejo itu, sejarah mencatatnya dengan saksama sebagai salah satu tonggak awal perlawanan pers bumiputra menghadapi kesewenangan pejabat kolonial dan feodal.

Kendati tidak menang di pengadilan kolonial, kasus Desa Bapangan menggerakkan gelombang solidaritas yang begitu besar. Sebanyak 236 warga desa tersebut menandatangani surat dukungan dan menyatakan siap berpatungan membayar denda untuk membela R.M. Tirto Adhi Soerjo. Ini salah satu tonggak sejarah awal manakala semangat perlawanan rakyat bumiputra berbasis hukum dan pers menunjukkan pemunculannya pada era Kebangkitan Nasional.

Demikianlah R.M. Djokomono yang memiliki nama dewasa R.M. Tirto Adhi Soerjo bersama Medan Prijaji tetap konsisten dengan sikap kritis dan perlawanan terhadap perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial. Perbenturan demi perbenturan pun mewujud sebagai realitas yang sering terjadi.

Surat kabar ini pada wekasannya menyudahi penerbitannnya pada Januari 1912. Tekanan politik dari Pemerintah Hindia Belanda terjadi silih berganti seolah tiada henti. Dan, pemberedelan pun berada di noktah klimaks, setelah sang pendiri menerima vonis hukuman pengasingan.

Nama Dewasa

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

R.M. Djokomono sudah mulai menggunakan nama dewasa R.M. Tirto Adhi Soerjo sebagai nama pena dan bahkan panggilan dalam dunia jurnalistik dan pergerakan. Teristimewa seiring dengan kiprah aktivitasnya dalam merintis pers bumiputra dan mendirikan Surat Kabar Soenda Berita pada tahun 1903.

Penggantian nama lahir menjadi nama dewasa merupakan tradisi dalam kebudayaan bangsawan Jawa. Pada abad ke-19, anak keluarga bangsawan lazim memiliki nama lahir. Kemudian tatkala mereka berangkat dewasa atau telah menikah, nama lahir itu mereka ganti dengan nama dewasa. Menjadi simbol kematangan usia, kedewasaan berpikir, dan kesiapan menerima tanggung jawab sosial yang baru.

Nama Tirto, dia ambil dari garis keturunan keluarganya, yaitu ayahnya R.Ng. Muhammad Chan Tirtodipuro. Juga dari kakeknya, Bupati Bojonegoro R.M.T. Tirtonoto II. Serta, kakek buyut R.M. R.M. Tirtorejo. Berikut kakek canggahnya Bupati Bojonegoro R.M.T. Tirtonoto I.

Pemilihan unsur “Tirto” yang bermakna air, merupakan bentuk penghormatan dan pelestarian identitas ayah dan para kakeknya. Kemudian “Adhi” bermakna mulia atau utama. Dan “Soerjo” (Surya) bermakna matahari.

Nama dewasa ini mengusung harapan agar dirinya menjadi sosok pribadi yang mampu mempersembahkan kesejukan seperti air. Dengan dukungan amunisi sikap yang mulia dan berpihak pada kaum tertindas. Serta, memberikan kehangatan, pencerahan, sebagaimana layaknya matahari.

Nama dewasa inilah yang kemudian tercatat sebagai pelopor jurnalisme modern di Tanah Air, perintis pers nasional bumiputra. Surat Keputusan Dewan Pers Republik Indonesia Nomor 69/XI/1973 mengukuhkan R.M. Tirto Adhi Soerjo sebagai Bapak Pers Nasional.

Surat pengukuhan tersebut ditandatangani oleh Menteri Penerangan sekaligus Ketua Dewan Pers saat itu, Mashuri Saleh (19 Juli 1925 - 1 April 2001), pada 31 Maret 1973.

Tiga puluh tiga tahun kemudian, Pemerintah menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada R.M. Tirto Adhi Soerjo melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 85/TK/2006 tanggal 3 November 2006.

Penghargaan yang sepadan dengan beban pengorbaban R.M. Tirto Adhi Soerjo yang memilukan. Sepulang dari hukuman pengasingannya, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengisolasi dia dari dunia pergerakan. Sejumlah rekan seperjuangan menjauhinya karena takut dengan intimidasi pihak penguasa. Bisnis medianya dibuat tidak dapat dioperasikan.

R.M. Tirto Adhi Soerjo menderita depresi hebat dan menderita sakit-sakitan. Dalam usia relatif muda, baru 38 tahun, pada 7 Desember 1918 di Batavia, dia menghadap ke rahmatullah. Ketika pemakamannya, tak ada iring-iringan pentakziah yang mengantar. Apalagi pidato perpisahan dari orang-orang penting.

R.M. Tirto Adhi Soerjo dikebumikan seperti orang biasa yang akan segera dilupakan oleh zamannya. Hingga pada saat yang tepat, puluhan tahun kemudian, sejarah dengan bijak membaca ulang dan menemukan ada butir-butir mutiara jasa berharga yang membangkitkannya menjadi pahlawan besar.