Konten dari Pengguna

Beda Ucapan "Semoga Allah Menyembuhkan” Anda dan Beliau dalam Bahasa Arab

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang kakak perempuan sedang menjenguk adikl lelakinya, Amir, yang sedang terbaring di ranjang pasien sebuah rumah sakit. Sebebelum pulang, Zaenab, demikian nama kakak perempuan itu, berkata, "Syafakallah, Amir." (Sumber: Meta AI)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang kakak perempuan sedang menjenguk adikl lelakinya, Amir, yang sedang terbaring di ranjang pasien sebuah rumah sakit. Sebebelum pulang, Zaenab, demikian nama kakak perempuan itu, berkata, "Syafakallah, Amir." (Sumber: Meta AI)

Di kalangan umat Islam Indonesia, sudah menjadi kebiasaan jika mengucapkan sesuatu dalam jalinan muamalah (interaksi sosial) terutama dengan saudara seiman, acapkali ada tambahan ucapan dalam bahasa Arab. Saat Hari Raya Fitri, kita dapat mendengar atau membaca ucapan gado-gado dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab.

Contohnya “Selamat Idulfitri. Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima ibadah kita. Mohon maaf lahir dan batin”. Contoh lain, “Selamat Idulfitri untuk Anda dan keluarga. Eid Mubarak lakum wa li-’a’ilatakum. Semoga hari raya ini penuh dengan kebahagiaan”. Contoh lain lagi, “Ja’ala Allah ayyamukum mali’ah bis-sa’adah wak-khair. Semoga Allah melimpahkan berkah kepada kita di Hari Fitri ini”.

Demikian pula tatkala momentum Maulid Nabi. Kalimat gado-gado pun hadir sebagai ucapan yang kita dengar dan tulisan yang kita baca. Misalnya “Mawlid an-nabiyyil nuurun wa hudan lil mu'minin. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mengikuti sunnah beliau”. Atau, “Mawlidu an-nabiyyi nuurun liman ta’ammala fihi wa ahabba Rasulallah. Maulid Nabi adalah cahaya bagi siapa pun yang merenungkan dan mencintai Rasulullah”.

Lalu saat Hari Raya Kurban, kalimat gado-gado juga tidak ketinggalan menghiasi sebagai warna ucapan. Seperti “Eid Mubarak. Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Iduladha ini membawa kedamaian dan keberkahan bagi kita semua”. Atau “Selamat Iduladha. Kullu 'am wa antum bikhair. Semoga Allah mengembalikan hari raya ini kepada Anda semua dengan kebaikan, keberuntungan, dan keberkahan”.

Penggunaan bahasa gado-gado, Indonesia dan Arab ini, ada dua kemungkinan. Pertama, bila diungkapkan dalam bahasa Arab seutuhnya maka bisa jadi akan tidak dipahami dengan mudah oleh banyak pihak. Ucapan itu sering berupa penjajaran kalima bahasa Arab dengan terjemahan bahasa Indonesianya. Kedua, penyisipan bahasa Arab itu bisa jadi untuk mengaksentuasikan identitas keagamaan atau memberi suasana keislaman yang lebih kuat.

Doa Lekas Sembuh

Kalimat gado-gado pun sering tidak jarang hadir pada saat kita mendoakan kesembuhan orang lain atau keluarga sendiri yang tengah menderita sakit. Hal utama yang perlu menjadi perhatian adalah jenis kelamin dari orang yang menderita sakit itu. Sebab, dalam bahasa Arab dikenal kata muzakkar yang ditujukan untuk lelaki dan kata muannas yang ditujukan untuk wanita.

Seorang wanita, namanya Anisa, membesuk sahabat karibnya yang tengah terbaring lemah di hospital bed. Pada kesempatan itu, Anisa mengucapkan, "Syafakillah, Fatimah." (Sumber:: Mera AI)

Bila ada saudara seiman yang tengah sakit, maka ucapan penghibur berupa doa agar segera sembuh dan dapat menjalani kembali aktivitas sehari-hari pun terucap atau tertulis lewat komunikasi langsung. Bisa disampaikan langsung kepada orang yang kita hormati, rekan yang relatif sebaya. Kalaupun ada selisih perbedaan tidak lebih dari kisaran dua atau tiga tahun di atas atau di bawah kita. Bisa pula melalui pesan WhatsApp via jaringan pribadi (japri).

Dalam konteks situasional ini, berarti sang pemberi ucapan semoga lekas sembuh mengarahkan aktivitas verbalnya itu kepada pihak yang menderita sakit. Dengan demikian, orang yang sakit itu dalam proses komunikasi ini bertindak sebagai orang kedua.

Istilah untuk kata ganti orang kedua dalam bahasa Arab adalah Dhamir Mukhatab (ضمير مخطب). Adapun pronomina persona (kata ganti orang) si penderita sakit (kedua tunggal) jika diindonesiakan bisa Anda, kamu, atau bisa dengan penyebutan nama atau diawali dengan kata sapaan santun, seperti Bapak, Ibu, Mas, Mbak.

Nah, sekarang tinggal memastikan jenis kelamin orang 4 sedang sakit. Jika yang sedang sakit dan diberi ucapan semoga Allah menyembuhkan Anda, kamu, atau penyeb3utan nama (baik tidak maupun dengan menggunakan kata sapaan santun) adalah lelaki, pilihan kata muzakkar yang tepat, yaitu Syafakallah (شَفَاكَ اللهُ).

Misalnya, ketika seorang karyawan suatu perusahaan saat membesuk kepala divisi produksi yang berjenis kelamin lelaki dan tengah tergolek di ranjang rumah sakit, ketika bertemu dan sedikit berbincang ringan dengan atasannya itu, saat hendak memohon diri mengatakan, “Syafakallah Pak Andi. Semoga Allah segera mengaruniai kesembuhan kepada Bapak.”

Misal yang lain, ada seorang pemuda bernama Fahmi. Dia menengok teman lelakinya yang sedang sakit, sebut saja Hermansyah, di rumahnya. Sebetulnya telah beberapa hari Hermansyah menjalani perawatan di rumah sakit. Pada waktu yang bersamaan, Fahmi berada di luar kota untuk suatu keperluan penting yang menyebabkan dirinya tidak dapat membesuk di rumah sakit.

Oleh karena itu, begitu Fahmi selesai dengan keperluannya di luar kota, dia pun bermaksud menengok Hermansyah, sahabat karibnya sejak sekolah dasar itu. Kebetulan Hermansyah sudah diizinkan pulang oleh dokter. Setiba Fahmi di rumah Hermansyah. Pintu dibukakan oleh Saskia, istri sahabatnya itu, ditemani Sania, putri kecil mereka.

Fahmi mendapati Hermansyah belum mampu menjalani aktivitas kesehariannya secara optimal. Masih lebih banyak duduk-duduk dan belum masuk kantor. Kali ini Hermansyah sedang duduk santai di ruang keluarga. Saat bertemu, Fahmi pun berkata, “Sori Man, aku tak sempat besuk kamu di rumah sakit. Baru saja pulang dari Mamuju, kemarin. Syafakallah Man.” Keduanya lalu saling beradu kepalan tangan. Senyum lebar tampak pada wajah mereka.

Ucapan serupa, bila ditujukan untuk wanita, maka yang digunakan adalah bentuk muannas-nya. Kata yang relevan ditujukan ketika pihak yang sakit wanita, yaitu Syafakillah (شَفَاكِ اللهُ). Ambil misal, seorang gadis bernama Habibah membesuk teman karibnya sedari taman kanak-kanak yang sedang dirawat di rumah sakit, seorang gadis juga, Zahra namanya. Ketika bertemu, setelah mengobrol ke sana-kemari, sebelum pulang Habibah pun berkata, “Syafakillah Zahra. Cepat sembuh ya. Kita nanti ngaji bareng yuk.”

Kata Ganti Orang Ketiga

Lukman membesuk kakek Usman yang menjalani perawatan di rumah sakit. Sesampai di sana, lelaki kanjut usia sedang tidur pulas. Yang menunggui sang cucu, Zakiah. Dan, Lukman pun berkata kepada Zakiah setelah beberaoa waktu berada di kamar perawatan, "Senoga Allah menyembuhkan kakekmu. Syafahullah." (Sumber: Meta AI)3

Kata ganti orang (pronomina) ketiga, dalam bahasa Arab disebut Dhamir Ghaib (ضمير غايب). Jika diindonesiakan bisa beliau (lebih santun) atau dia. Terkait dengan ucapan yang bermakna “semoga Allah menyembuhkan beliau/dia”, juga dibedakan antara kata muzakkar yang ditujukan untuk laki-laki dan kata muannas yang ditujukan untuk perempuan. Untuk muzzakar, digunakan Syafahullah (شَفَاهُ اللهُ). Sementara itu, untuk muannas, digunakan Syafahallah (شَفَاهَا اللهُ).

Sebagai ilustrasi cerita untuk lebih memudahkan pemahaman, dapat saya tampilkan contoh sebagai berikut. Tersebutlah seorang pemuda bernama Lukman. Begitu mendengar Kakek Usman, yang merupakan sahabat dekat almarhum kakeknya sendiri, yaitu Kakek Ali, menjalani perawatan di rumah sakit, dia pun membesuknya pada suatu sore saat tiba waktu untuk mengunjungi pasien.

Ketika tiba di ruang tempat Kakek Usman, ternyata beliau tampak tengah tidur lelap. Mungkin akibat obat yang diinjeksikan lewat selang infus. Di situ ada seorang gadis muda yang menunggui. Zakiah, salah seorang cucu Kakek Usman. Teman kuliah sealmamater Lukman, tapi beda program studi. Begitulah dengan suara lirih, tak ingin mengganggu kelelapan tidur sang Kakek, keduanya bertegur sapa. Hingga giliran saat hendak pulang, Lukman berkata, “Syafahullah. Semoga Allah menyembuhkan beliau, Zakiah.”

Berlainan pilihan katanya, jika pasien yang sakit itu berjenis kelamin wanita. Nah, ini kisah seorang pemuda bernama Hanif. Saat mendengar Nenek Khairunnisa, nenek dari temannya, Rania menjalani opname di sebuah rumah sakit, dia pun bergegas membesuk. Keluarga Hanif dan keluarga Rania memang sudah menjalin silaturahim selama beberapa generasi.

Begitulah saat Hanif tiba di ruang perawatan Nenek Khairunnisa, perempuan tua yang sedang sakit itu tengah tidur nyenyak sekali. Suara dengkuran lirih terdengar dengan ritme yang begitu teratur. Di situ, ada Rania. Keduanya yang sudah saling mengenal sejak kecil. Sudah mirip kakak beradik saja. Keduanya pun berbincang dengan suara pelan. Hampir berbisik. Hingga waktu besuk habis, sang Nenek masih tampak pulas. Saat berpamitan, Hanif pun berkata pelan kepada Rania, “Syafahallah. Semoga Allah mengaruniai kesembuhan kepada nenekmu, Rania.”

Rania menunggui neneknya, Khairunnisa, yang tengah opname di rumah sakit. Tatkala Hanif datang membesuk, sang nenek masih tertidur lelap. Hanif berkata kepada Rania, “Syafahallah. Semoga Allah mengaruniai kesembuhan kepada nenekmu.” (Sumber: Meta AI)

Untuk ucapan semoga lekas sembuh lewat pesan WhatsApp, intinya jika melalui jaringan pribadi (japri) yang ditujukan langsung kepada orang yang sakit (pronomina persona kedua tunggal), kita dapat menggunakan Syafakallah (شَفَاكَ اللهُ) untuk lelaki dan Syafakillah (شَفَاكِ اللهُ) untuk wanita. Sementara itu, untuk pronomina persona ketiga, dalam artian ucapan itu via orang lain, pilihannya Syafahullah (شَفَاهُ اللهُ) untuk lelaki dan Syafahallah (شَفَاهَا اللهُ) untuk wanita. ***