Konten dari Pengguna

"Benyai”, Salah Satu Unsur Serapan dari Bahasa Melayu

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Ketika bertemu dengan dua kalimat ujaran bahasa Melayu dialek Melaka (Sumatera) yang bakal tersaji sebagai kutipan pada paragraf di bawah ini, saya merasa berada pada posisi yang lebih ngeh saat hendak mencari cara memahami kata “benyai” dengan lebih mudah. Imajinasi saya tentang sebuah kata yang berada dalam konteks penuturan di lingkungan dialek bahasa aslinya menjadi lebih hidup. Terlebih lagi kalimat itu datang dari kemungkinan konversasi sehari-hari yang cenderung ringkas dan simpel.

Kalimat ujaran yang saya janjikan pengutipannya, yaitu (1) “Aduh, benyai badan aku hari ni. Tak larat nak buat kerja” (Aduh, lelah sekali badan saya hari ini. Tidak cukup kuat untuk bekerja). Serta, kalimat ujaran (2) “Kuih ni dah benyai sangat. Tak sedap makan” (Kue ini sudah lembek sekali. Tidak enak lagi untuk dimakan). Dengan dua kalimat ini, izinkanlah saya menjadikannya sebagai noktah pijak guna membuka pintu pembicaraan dalam esai ini.

Makna Kiasan

Ilustrasi dari Gemini AI.

Dari kalimat “Aduh, benyai badan aku hari ni. Tak larat nak buat kerja”, saya menangkap makna kiasan (perbandingan) dari kata “benyai” pada konteks ini. Ia berfungsi untuk menginformasikan kondisi tubuh si penutur dalam keadaan kurang fit untuk berangkat ke suatu tempat kerja. Bisa jadi karena dirinya sakit atau mengalami keletihan yang amat sangat sehingga memutuskan untuk teroaksa minta izin tidak masuk kerja.

Masih mengusung makna kiasan adalah kalimat "Aku kerja cam ni benyai" (Saya bekerja seperti ini sangat capai). Kali ini rasa letih yang luar biasa itu bisa jadi karena jenis pekerjaan yang si penutur jalani memang lebih mengandalkan kekuatan fisik. Akan tetapi, bisa juga kelelahan ekstrem itu terjadi karena jenis pekerjaan itu lebih melibatkan pikirannya. Keduanya jika berlebihan akan menimbulkan “benyai” atau kelelahan yang luar biasa pula.

Kalau pekerjaan itu lebih memberikan keleluasaan bagi si penutur untuk tidak harus berangkat ke suatu tempat untuk bekerja dengan orang lain atau pemerintah. Akan tetapi, yang bersangkutan bekerja untuk dirinya sendiri, seperti berdagang suatu barang atau bertani dengan konsep pengertian tradisional. Pilihan yang pas saat benyai adalah kekuasaan untuk meliburkan diri sendiri. Tidak akan ada teguran, apalagi surat peringatan.

Kata “benyai” juga mungkin bisa mengacu pada kelelahan perasaan. Seperti dalam kalimat ujaran “Hati saya benyai apabila dengar berita Pasukan Kebangsaan B-17 tewas berturut-turut kepada Zambia dan Brazil dalam Piala Dunia. Tapi agak terhibur dengan keunggulan 2 - 1 mereka kepada Honduras". Membaca berita tentang kekalahan demi kekalahan tim jagoan tentu bisa menyebabkan perasaan seseorang menjadi lebih. Dan, berita kemenangan yang muncul kemudian, setidaknya bisa mengurangi atau meminimalisasi rasa benyai itu.

Kalimat ujaran itu muncul dari mulut seorang pencinta Tim Nasional (Timnas) U(nder) - 17 (Years Old) Indonesia yang kini berlaga di ajang Piala Dunia U-17 Tahun 2025 di Qatar. Setelah dua kali menelan kekalahan, yaitu 1 - 3 atas Zambia pada laga pertama di Grup H kala Selasa malam WIB, 4 November 2025 dan 0 - 4 atas Brazil pada laga kedua, Jumat malam WIB, 7 November 2025, hatinya betul-betul sayu atau benyai.

Oleh karena itu, memiliki nilai catatan tersendiri realitas kemenangan Timnas U-17 lewat gol hasil tendangan penalti Evandra Florasta pada menit ke-52 dan gol penentu kemenangan melalui Fadly Alberto pada menit ke-72. Sebelumnya pada menit ke-54, Honduras menceploskan si kulit bundar lewat tendangan penalti Luis Suazo. Adapun nilai catatan tersendiri, bahkan bersejarah itu, dalam rengkuh perspektif minimalis, sekurangnya Timas U-17 tidak selalu kalah di Piala Dunia U-17 Qatar 2025.

Meskipun peluang Timnas U-17 lolos ke babak 32 besar via jalur peringkat ketiga terbaik sangat tipis, paling tidak hasil laga pada Senin (10/11/2025) malam WIB itu menjadi hiburan yang dapat mengurangi rasa benyai hati para pencinta sepak bola Tanah Air. Keletihan perasaan mereka pun sedikitnya bisa dikurangi dengan realitas adanya kemenangan itu. Situasi benyai perasaan itu bisa didamaikan dengan kenyataan timnas kita pernah menang di ajang sepak bola paling bergengsi sedunia tersebut

Kembali, saya ambil contoh kata “benyai” yang masih berkaitan dengan makna kiasan. Efek keterseretan perasaan yang letih karena sedih tampak menonjol dan itu berpengaruh pada tubuh sehingga menjadi serasa tidak bertenaga. Mari kita simak bersama kalimat: “Selepas dengar berita buruk tu, sekujur badannya benyai” (Setelah dia mendengar kabar yang kurang menggembirakan itu, seluruh tubuhnya serasa lemah tidak berdaya). Di konteks ini, efek kabar kurang menggembirakan itu atau bahkan mungkin merisaukan itu mengakibatkan kondisi tubuh seseorang menjadi lemas atau lemah.

Di samping berangkat dari pengaruh perasaan pilu, sehingga tubuh seseorang menjadi benyai atau serasa tidak bertenaga. Sebaliknya ada pula suatu kondisi, seseorang setelah melakukan kegiatan fisik sehingga pada akhirnya yang bersangkutan mengalami keletihan di luar takaran wajar. Dan hal itu menyebabkan pikirannya tidak fokus misalnya ketika menerima pertanyaan (walaupun mungkin simpel saja) dari istri atau anaknya. Yang terjadi biasanya jawaban yang tidak sinkron dengan pertanyaannya.

Kondisi demikian, pada hemat saya juga bisa disebut “benyai”. Kalimat “Fikiran Pakcik jadi benyai, seharian penuh tadi habis kerja keras” (Pikiran Paman menjadi tidak fokus lagi, akibat kelelahan tubuhnya setelah seharian penuh tadi bekerja keras) dapat mewadahi ilustrasi kejadian dimaksud. Tubuh yang keletihan setelah seseorang mengerahkan banyak tenaga untuk suatu aktivitas fisik, sangat mungkin menimbulkan akibat ketidakfokusan pikirannya tatkala merespons suatu kejadian yang lain. Terutama manakala tubuh sudah tidak dapat menoleransi lagi dan memang membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Makna Harfiah

Ilustrasi dari Gemini AI

Kata “benyai” tak pelak lagi juga memiliki makna harfiah. Makna kata per kata Bahkan, seharusnya bagian inilah yang mendapat kesempatan terlebih dahulu berada di ruang pembahasan esai ini. Saya sengaja melakukannya untuk sekadar memberikan warna pembeda semata. Sesekali kita memang perlu melakukannya tanpa mendestruksi substansi pembicaraan yang sudah menjadi ancangan gagasan sebelumnya.

Dari kalimat ujaran bahasa Melayu dialek Melaka “Kuih ni dah benyai sangat. Tak sedap makan”, saya menemukan fakta bahwa kata “benyai” juga bisa mengekspansikan makna harfiah dengan sentuhan objek berupa kue. Bisa jadi kata “benyai” ini relatif klop jika didekatkan dengan realitas sisa kue yang sudah sekian hari tidak sempat dikonsumsi dan kebetulan lupa dimasukkan ke dalam kulkas. Akibatnya sisa kue itu basi. Pada kue basah tradisional dari bahan santan, gula, dan tepung beras, biasanya bisa terjadi kondisi benyai, lembek dan berair.

Tidak selalu kata “benyai” itu berpadanan dengan basi. Pada nasi misalnya. Manakala dalam proses pemasakan dari beras dan dilakukan pemberiaan air yang terlalu banyak. Lalu terjadilah hasil nasi yang lembek. Tidak kemrotog, kata orang Jawa. Oleh karena itu, kemudian dapat dibentuk kalimat “Nasi di piring pada meja dekat tingkap tu terlalu benyai. Kebanyakan air agaknya” (Nasi di piring yang terletak di meja dekat jendela itu terlalu lembek. Terlalu banyak air saat memasaknya).

Terkait dengan selera yang subjektif. Ada sebagian orang yang oke-oke saja saat menikmati nasi yang benyai. Malah mereka dapat dengan nyaman mengunyah dan kemudian menelannya. Akan tetapi sebaliknya, sebagian lainnya ada yang merasa lebih sreg mengonsumsi nasi yang kemrotog. Mereka yang tersebut akhir ini bisa jadi yang akan merespons suguhan misalnya dalam suatu pesta pernikahan misalnya dengan komentar, “Lauk-pauknya memang sedap. Sayang nasinya benyai” (Lauk-pauknya memang enak. Tetapi, nasinya terlalu lembek).

Buah-buahan yang mulai melampaui tingkat kematangan normalnya pun dapat menerima sebutan benyai. Misalnya tampak pada kutipan kalimat "Semangka tu dah kelewat matang. Terasa benyai saat pegang" (Daging buah semangka itu sudah terlalu matang. Terasa lembek saat dipegang). Atau, “Buah sawo ni dah benyai. Aku lupa semaknya dalam simpanan tunggu masak” (Sawo itu terlalu matang. Saya lupa memeriksanya saat dalam penyimpanan untuk menunggu masak).

Demikian konstruksi pemahaman saya tentang kata “benyai”. Khazanah kosakata yang teridentifikasi sebagai bahasa Melayu. Sebagai unsur serapan, kini sudah menjadi bagian lema dari Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan. Semoga bermanfaat. ***