Konten dari Pengguna

"Boenga Roos dari Tjikembang”, Lantunan Asmara dari Masa Lalu

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 9 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bunga mawar acapkali menjadi simbol kecantikan dalam karya sastra. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Bunga mawar acapkali menjadi simbol kecantikan dalam karya sastra. (Sumber: Shutterstock)

Kisah para nyai di masa lampau, terkadang menjadi santapan karya sastra ataupun karya sinema. Nyai dalam konteks ini adalah sebutan untuk perempuan asli Nusantara yang menjadi istri tanpa melalui jalur hukum yang formal. Sebut saja Nyai Dasima yang terkenal itu. Kecantikannya menyebabkan banyak lelaki pada masa itu terpincut kepadanya.

Pada mulanya Gijsbert Francis menulis novel Tjerita Njai Dasima (terbit 1896) berdasarkan kisah nyata seorang gadis asal Desa Kuripan, Bogor, Jawa Barat. Dia merupakan istri tanpa melalui jalur hukum yang formal dari pria berkebangsaan Britania Raya, Edward William. Namanya Nyai Dasima. Kemudian pindah ke Batavia mengikuti sang suami.

Nyai Dasima sebenarnya hidup sangat berkecukupan bahkan boleh terbilang berbalut kemewahan bersama Edward William. Mereka pun telah menerima karunia keturunan anak perempuan bernama Nancy. Akan tetapi Nyai Dasima tidak merasa bahagia. Dia pun kemudian memutuskan untuk meninggalkan keluarganya guna menikah dengan pria yang sudah beristri, Samiun.

Hayati, istri pertama Samiun, tersulut rasa cemburu dan iri hati kepada Nyai Dasima. Puncaknya dia menyuruh seorang jawara yang sudah sering mendapat order melenyapkan kehidupan orang, yaitu Bang Puasa. Jasad tak bernyawa Nyai Dasima akhirnya ditemukan di Kali Ciliwung. Para pelaku pembunuhan akhirnya dapat ditangkap oleh polisi Hindia Belanda.

Cerita Nyai Dasima yang berlatar tempat di sekitar Tangerang dan Batavia serta berlatar waktu 1813-1820-an itu, pertama kali menjadi karya sinema pada 1929. Di bawah arahan sutradara Lie Tek Swie dan diproduksi Tan’s Film. Ini merupakan film bisu. Adapun versi film bicaranya yang pertama diproduksi pada 1932, masih oleh Tan’s Film, dan arahan sutradara Bachtiar Effendi.

Dan, sudah pasti tidak boleh dilupakan Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia (Hasta Mitra, 1980). Pramoedya Ananta Toer, sang novelis, mendeskripsikan sosok nyai dari pengusaha Belanda, Herman Mellema, ini sebagai wanita cerdas, kuat, pemberani, dan berpikiran maju.

Nyai Ontosoroh berjuang begitu hebat guna mempertahankan hak-hak dirinya dan anak-anaknya di tengah status dirinya sebagai istri tanpa melalui jalur hukum yang formal. Pada akhirnya dia memang kehilangan hak asuh atas putrinya, Annelies, sepeninggal Herman Mellema.

Perjuangan lewat jalur pengadilan telah ditempuhnya. Akan tetapi, memang hukum terkadang lebih melek pada bukti-bukti formal dan aturan-aturan yang menjadi kesepakatan yuridis sebelumnya. Bukan pada pertimbangan hati nurani. Dan, ketika Minke bilang bahwa akhirnya mereka kalah, Nyai Ontosoroh pun menyahut, “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Di bawah olah penyutradaraan Hanung Bramantyo, kisah tentang kegigihan Nyai Ontosoroh yang telah berani melawan hukum kolonial dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya itu, memperoleh wadah sebagai karya sinema dengan titimangsa perilisan pada 2019.

Nyai Marsiti

Demikian pula dengan novel Boenga Roos dari Tjikembang (1927) karya Kwee Tek Hoay (13 Juli 1886 - 4 Juli 1951), menempatkan Nyai Marsiti pada wilayah narasi substansial. Dia memberi warna kuat dalam keseluruhan mozaik sekuen-sekuen yang membangun perjalanan hidup para karakter yang berada di dunia naratif novel ini.

Adalah seorang administrateur di Rubber Onderneming Goenoeng Moelia, namanya Oh Aij Tjeng. Dia mempunyai istri tanpa melalui jalur hukum yang formal, yaitu Nyai Marsiti. Perempuan Sunda ini begitu mencintai putra dari Oud-Kapitein Oh Pin Lo tersebut. Demikian pula sebaliknya.

Ilustrasi perkebunan karet. (Sumber: Shutterstock)

Keduanya pun saling menjalin kasih dalam gelimang madu kebahagiaan. Hingga pada suatu ketika, pemilik perkebunan karet itu, Liok Keng Djim, meminta Oh Aij Tjeng menikahi putrinya, Liok Gwat Nio. Di sinilah, terjadi peristiwa cerita yang betul-betul mengaduk-aduk perasaan. Kepergian Nyai Marsiti menjadi persyaratan yang mesti terpenuhi.

Dengan bahasa Melayu yang biasa menjadi sarana komunikasi orang-orang keturunan Tionghoa dengan kelompok-kelompok etnis di Nusantara dalam ajang perdagangan, novel Boenga Roos dari Tjikembang ini menemukan wahana ekspresi. Dalam dunia kesusastraan di Tanah Air, dikenal sebagai bagian dari Sastra Indonesia Tionghoa (Nio Joe Lan, 1962) atau Sastra Cina Peranakan (Caudine Salmon, 1985).

Dengan demikian, pertemuan langsung dengan teks, apalagi dengan ejaan awalnya, tentu cukup menguras energi pemahaman. Mari kita simak bersama, bagaimana Kwee Tek Hoay, menceritakan saat Oh Aij Tjeng menggandeng tangan Marsiti, berjalan berdua di tengah kebun karet.

Kwee Tek Hoay mendeskripsikan wajah Oh Aij Tjeng dan Nyai Marsiti tampak sedih. Mereka sadar, perpisahan keduanya pastilah bakal terjadi. Betapa berat hati Oh Aij Tjeng harus melepas kepergian Nyai Marsiti. Dan, betapa berat pula hati Nyai Marsiti kalau terpaksa harus meninggalkan Oh Aij Tjeng.

Kwee Tek Hoay pun menceritakan, “Ia berdoea djalan bergandeng tangan dengen roepa jang sedih, kerna itoe pemisahan jang bakal dateng membikin pampat hatinja.”

Di kebun karet tempat keduanya berjalan-jalan itu, terdengar kicauan burung citancuing. Bisa jadi yang dimaksud burung cungcuing dalam bahasa Sunda. Atau, yang juga dikenal sebagai kedasih. Kicaunya dalam tangkupan mitos pertanda buruk akan terjadi musibah. Perpisahan itu bagi keduanya adalah musibah.

Tulis Kwee Tek Hoay, “Soearanja boeroeng tjitantjoeing jang tida brentinja berboenji di tenga-tenga kebon karet jang lebet membikin Aij Tjeng djadi semingkin sedih hingga dirasaken hatinja ampir meledak, (...)”. Kata “semingkin” mengingatkan saya pada kata “semangkin”. Dan, kini pilihan pengucapan yang baku adalah “semakin”. Bisa jadi ini variasi dialeknya.

Untuk mencairkan suasana yang begitu beku akan kesedihan itu, Oh Aij Tjeng pun “bersuit” (mungkin maksudnya “bersiul”) irama lagu “Tipperary”. Lengkapnya “It’s a Long Way to Tipperary” yang memiliki ritme ceria kendati liriknya mengisahkan kerinduan pada kampung halaman atau orang tercinta.

Siulan Oh Aij Tjeng juga menyentuh lagu “The Stars Spangled Banner”. Lagu kebangsaan Amerika Serikat. Liriknya dari puisi “Defense of Fort McHenry” karya Francis Scott Key, yang mengisahkan upaya serangan Inggris terhadap Benteng McHenry di Baltimore pada Perang 1812. Lagu ini diciptakan pada 14 September 1814.

Menurut Kwee Tek Hoay, ritme lagu ini terdengar ceria. Oleh karena itu, dia pun melengkapi kalimat di atas, guna menciptakan suasana pertemuan yang lebih cair dan ceria, Oh Aij Tjeng menyiulkan kedua lagu itu dan sejumlah lagu berirama gembira lainnya. Namun, dia gagal menghilangkan kesedihan yang telanjur menghimpit dirinya dan Nyai Marsiti.

Kwee Tek Hoay melengkapi kalimat sebelumnya dengan, “(...) maka ia tjoba bikin goembira dengen bersoeit lagoe Tipperary, Stars Spangled Banner, dan laen-laen lagoe kagirangan, tapi semoea gagal.

Merasa dirinya gagal keluar dari suasana kesedihan hati, Oh Aij Tjeng pun meminta Nyai Marsiti untuk bernyanyi lagu yang dapat menghibur hati. Tapi, wanita itu justru menyanyi lagu Sunda yang sedih.

Achirnja ia berkata :

“Tjobalah Marsiti, kaoe menjanji aken hiboerken hati.”

Marsiti jang blon perna tampik perminta’an atawa prentahnja

Aij Tjeng, laloe menjanji dengen soeara aloes dan perlahan satoe lagoe Soenda jang sedih, dengen ini sairan:

Demikian syair lagu Sunda itu: //Soesoekan djalan tjileuntjang,/ Dipengkong make kamalir;/Isoekan koering rek leumpang,/Pageto ngan bati watir.// //Tjileuntjang tjai tjileuntjang/Tjileuntjang dipake ngarih;//Isoekan koering rek leumpang,/Pageto moal papanggih.// //Tjileuntjang tjai tjileuntjang,/Tiwoean di ka Kopo-keun;/Di mana koering geus leumpang,/Patjoean rek mopohokeun.//

Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka kira-kira beginilah maknanya: //Jalan setapak Cileuncang,/Terlilit tali;/Besok aku akan berjalan,/Tapi hanya memiliki sedikit air.// //Cileuncang air Cileuncang/Cileuncang dulu memikat;/Besok aku akan berjalan,/Tak akan kutemui lagi.// //Cileuncang air Cileuncang,/Tiwuan berada di Kopo-keun;/Ke mana pun aku melangkah,/Aku kan melupakan jalan setapak itu.//

Belum selesai lagu Sunda yang sedih itu terlantun. Isyarat kuat Nyai Marsiti mengikhlaskan diri untuk pergi, demi kebahagiaan Oh Aij Tjeng. Di sisi lain, dari Oh Aij Tjeng timbul niatan untuk menolak perjodohan dengan Liok Gwat Nio. Dia tidak ingin berpisah dengan Nyai Marsiti.

Kwee Tek Hoay menuturkan:

Aij Tjeng banting kaki, tarik tangannja Marsiti, sambil berkata :

“Soedah, Marsiti, djangan menjanji lebih djaoe, kerna kaoe poenja sairan membikin hatikoe djadi seperti tertoesoek piso. Sekarang akoe dapet pikiran, lebih baek oeroengkan sadja itoe niatan aken menikah, kerna akoe merasa tida sanggoep tanggoeng ini kasedihan lantaran moesti berpisah dari kaoe.”

Akan tetapi niatan Oh Aij Tjeng itu mendapat ganjalan batu penghalang yang dia tidak mampu melewatinya. Dia tidak kuasa menolak perintah Liok Keng Djim, sang pemilik perkebunan karet, untuk menikahi putrinya, Liok Gwat Nio. Tambahan lagi, ayahandanya, Oh Pin Lo, juga turut memaksa agar dirinya bersedia menerima perjodohan itu. Bahkan Oh Pin Lo dengan Liok Keng Djim yang berinisiatif mengusir Nyai Marsiti dari perkebunan karet.

Dua Rahasia Terbuka

Kemiripan sifat dan performa fisik menguak rahasia mada lalu novel Boenga Roos dari Tjikembang. (Sumber: Shutterstock)

Oh Aij Tjeng tak kuasa menahan derita setelah kepergian Nyai Marsiti. Dia pun mengutus pelayannya yang bernama Tirta untuk mencari tahu keberadaan sang pujaan hati. Tetapi, pencarian itu tidak membuahkan hasil sesuai dengan target harapan. Tirta bahkan tidak kembali kepada majikannya itu. Dia pun ikut menghilang.

Dalam keputusasaan karena tidak menemukan Nyai Marsiti, pada akhirnya Oh Aij Tjeng pasrah saja ketika harus bersanding di pelaminan bersama Liok Gwat Nio. Pada mulanya dia memang hanya menjalani demi menjalankan xiào (孝). Nilai moral penting dalam masyarakat Tionghoa, yaitu berbakti kepada orang tua.

Akan tetapi, perkembangan cerita bergerak di luar perkiraan. Oh Aij Tjeng benar-benar merasakan kehadiran sosok Nyai Marsiti pada diri istrinya, Liok Gwat Nio. Sifat-sifatnya begitu mirip, bahkan lebih lembut dalam berperilaku dan bertutur kata. Lambat laun cintanya pun menghampiri sang istri.

Kemiripan sifat antara Nyai Marsiti dan Liok Gwat Nio, kemudian membuka satu rahasia yang terjadi di masa lampau. Menjelang meninggal, Liok Keng Djim memanggil putri dan anak menantunya. Dia mengisahkan, saat masih muda, memiliki hubungan asmara dengan seorang nyai. Baru-baru ini, dia mengetahui, telah mempunyai seorang putri dengan nyai tersebut. Tak dinyana putrinya itu adalah Nyai Marsiti. Nah, kemiripan sifat itu mungkin saja karena Liok Gwat Nio dan Nyai Marsiti adalah saudara satu ayah lain ibu.

Dalam pengakuan tersebut, sebelum meninggal Liok Keng Djim juga mengabarkan bahwa Nyai Marsiti telah pergi untuk selama-lamanya. Dia sebenarnya juga mengisyaratkan untuk membuka rahasia satu lagi. Tapi terkunci, lantaran dia keburu menghembuskan napas terakhir. Lalu Oh Aij Tjeng mencari ayahnya, Oh Pin Lo, untuk mencari tahu rahasia itu. Sayang, Oh Tua ditemukan dalam keadaan telah tutup usia.

Delapan belas tahun berlalu. Oh Aij Tjeng dan Liok Gwat Nio mempunyai putri bernama Lily. Gadis ini telah bertunangan dengan Sim Bian Koen dari keluarga terpandang. Sayang sekali, oleh karena suatu sebab, Lily meninggal. Betapa sedih pemuda itu menghadapi kenyataan ini.

Hampir setahun Sim Bian Koen berupaya menyembuhkan luka yang sangat menyayat hatinya. Namun, tak kunjung pulih juga. Hingga suatu hari, ketika dia dalam suatu perjalanan melewati Desa Cikembang. Kalau sekarang masuk Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Di desa itu, Sim Bian Koen mendapati permakaman yang begitu terpelihara. Betapa terkejut dia, ketika di sana bertemu dengan seorang gadis yang mempunyai performa fisik dan paras kecantikan yang tiada ubahnya seperti Lily kekasihnya yang telah meninggal kira-kira setahun sebelumnya.

Secara spontan, Sim Bian Koen menghampiri gadis yang mirip Lily itu. Lalu mencoba memeluknya. Namun, gadis itu dengan tegas menolaknya. Gadis itu pun berlari menghindar. Sim Bian Koen reflek mengejarnya. Dalam proses pengejaran itu, dia terpeleset jatuh dan tak sadarkan diri. Pingsan.

Manakala siuman, Sim Bian Koen telah berada di tempat tidur rumahnya sendiri. Pemuda itu lalu menginformasikan kepada orang tuanya tentang kejadian di Desa Cikembang. Tentang pertemuannya dengan seorang gadis yang dalam segala hal sangat mirip dengan Lily.

Keluarga Sim Bian Koen pun mencari tahu siapa sebenarnya gadis yang mirip Lily itu. Mereka pun menemukan fakta, bahwa gadis itu ternyata putri Oh Aij Tjeng dengan Nyai Marsiti. Namanya Roosminah. Dia diasuh dan dibesarkan secara diam-diam oleh Tirta. Pelayan Oh Aij Tjeng yang dahulu pernah atas permintaan sang majikan mencari tahu keberadaan Nyai Marsiti dan belakangan justru ikut menghilang. Saat itu, sebelum pergi karena diusir dari lingkungan perkebunan karet, Nyai Marsiti sudah mengandung putri Oh Aij Tjeng.

Di sini motif cerita kemiripan performa fisik dan paras kecantikan Lily dengan Roosminah membuka lagi rahasia yang lain di masa lalu. Ternyata keduanya adalah dua gadis bersaudara, satu ayah beda ibu. Dan, Roosminah dengan kecantikannya mendapat julukan dari orang-orang di lingkungannya: Bunga Roos dari Cikembang. Kata roos di sini agaknya diambil dari bahasa Belanda, yang artinya mawar.

Keluarga Sim Bian Koen kemudian memberitahu hasil temuan mereka kepada keluarga Oh Aij Tjeng. Setelah mengetahui identitas Roosminah, keluarga ini menjemputnya dan memberi pengakuan status sebagai putri mereka. Singkat kata, pernikahan mewah Sim Bian Koen dan Roosminah pun dihadiri ribuan undangan. Dia bukan lagi nyai seperti ibundanya, melainkan istri sah yang dinikahi sesuai dengan jalur hukum perkawinan yang formal. Diakui oleh hukum negara.

Novel Boenga Roos dari Tjikembang semula merupakan cerita bersambung di Majalah Panorama edisi Maret sampai September 1927. Pada akhir tahun itu juga disusun sebagai buku dan diterbitkan Hoa Siang In Kiok. Kemudian diangkat sebagai karya sinema dengan judul yang sama oleh The Teng Chun padan 1931. Lalu di bawah judul Bunga Roos (1975) digarap Fred Young.

Novel Boenga Roos dari Tjikembang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan Inggris. Pada 2007 diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dengan judul De roos uit Tjikembang oleh Sutedja-Liem dan diterbitkan oleh Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV). Selanjutnya Yayasan Lontar pada 2013 menerbitkan versi terjemahan bahasa Inggris dari George A. Fowler di bawah tajuk The Rose of Cikembang. ***