Konten dari Pengguna

Cerita Hantu, Bagian dari Kekayaan Budaya yang Unik

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tentang hantu lokal Indonesia. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tentang hantu lokal Indonesia. (Sumber: Shutterstock)

Cerita rakyat yang mengetengahkan tentang hantu merupakan warisan kekayaan budaya dari tradisi lisan yang unik. Dan, menjadi jejak peninggalan saat animisme bersama dinamisme menjadi pusaka anutan kepercayaan masyarakat di Nusantara. Cerita-cerita itu agaknya pada mulanya diproduksi masyarakat tatkala agama-agama besar dunia belum masuk untuk menorehkan warna pengaruh religiosias masing-masing.

Animisme dipahami sebagai kepercayaan, bahwa segala sesuatu di dalam alam, bahkan termasuk benda mati, terdapat roh atau jiwa. Sementara itu, dinamisme dapat dibaca tentang adanya kekuatan gaib pada benda-benda tertentu, seperti keris, cincin batu akik, tombak.

Hantu, menurut kepercayaan sebagian masyarakat, merupakan roh orang yang telah meninggal dunia. Akan tetapi, mungkin karena perbuatannya selama hidup kurang memenuhi etika kebajikan dan kelayakan baik secara horizontal dengan Tuhan maupun secara vertikal dengan sesama manusia dan alam sekitar, pada akhirnya mereka tidak dapat beristirahat dengan semestinya di alam kubur.

Karena itu, mereka masih belum mampu meninggalkan seutuhnya dunia manusia. Mereka berkelana ke sana kemari di dunia manusia. Tidak keruan arah tujuannya. Dalam imajinasi masyarakat, ada yang tampil menjadi sosok yang mengerikan. Ada pula yang muncul dengan perwujudan aneh. Mereka akan marah dan melakukan tindakan yang kurang terpuji jika merasa terganggu atau tidak mendapatkan penghormatan semestinya seperti pemberian sesaji yang komplet.

Interaksi dengan Manusia

Kepercayaan animisme dan dinamisme ini menjadi titik pijak pemahaman terhadap cerita rakyat tentang hantu itu. Adalah pagutan keyakinan, bahwa roh orang yang telah meninggal dunia atau roh yang terdapat dalam benda-benda yang memiliki kekuatan gaib, dapat berinteraksi dengan manusia baik secara tidak kasat mata maupun dengan penampakan. Interaksi itu bisa jadi hanya sekadar mengganggu, menakuti-nakuti hingga tindakan yang membahayakan jiwa manusia.

Kuyang, hantu perempuan yang melegenda di Kalimantan. (Sumber: Shutterstock)

Di Kalimantan, Kuyang adalah hantu yang menjadi legenda masyarakat. Dalam imajinasi masyarakat di sana, performanya berwujud kepala perempuan dengan gigi tajam dan taring panjang menyeramkan. Organ tubuh, seperti jantung, hati, usus, ginjal yang menjuntai terpisah. Dalam posisi seperti itulah, Kuyang terbang dan mencari darah dengan sasaran korban janin dari ibu-ibu yang hamil atau anak-anak bayi yang baru lahir.

Kuyang juga dikaitkan dengan ilmu gaib yang dimiliki seorang perempuan, agar kecantikannya dapat lebih panjang dari usia yang telah dijalaninya. Perempuan yang memiliki ilmu tersebut, pada siang hari tak ubahnya seperti orang kebanyakan. Bersosialisasi dan berkomunikasi dengan para tetangga di sekitarnya. Namun, kala malam hari berubah bentuk dan mengincar mangsa.

Masyarakat di Kalimantan, terutama yang tinggal di perdesaan, memiliki ritual guna menangkal sepak terjang Kuyang di malam hari, dengan cara menaburkan garam, menempatkan benda tajam, dan meletakkan bawang putih di sekitar rumah yang ada ibu hamil atau bayi yang baru lahir. Ini bisa ditafsiri sebagai simbolisasi yang representatif kekhawatiran masyarakat di sana akan keselamatan ibu dan anak. Terutama di masa lalu, saat akses kesehatan belum memadai seperti sekarang.

Mirip dengan Kuyang, di Minangkabau dikenal hantu Palasik. Dia memangsa bayi baik yang masih berupa janin dalam kandungan sang ibu maupun yang telah lahir. Hantu Palasik menyatroni para makhluk mungil yang tak berdaya itu dengan menghisap darahnya. Bayi yang sudah lahir dan menjadi mangsa Palasik, akan menderita diare parah, suhu badan tinggi, rewel dengan menangis tiada henti, ubun-ubun tampak cekung. Tubuh bayi itu pun menjadi kurus.

Masyarakat Minangkabau sebelum kedatangan Islam, memiliki sejumlah cara untuk menangkal kedatangan hantu Palasik. Antara lain dengan cara mengenakan gelang besi, pakaian dengan posisi terbalik, dan gulungan kain berisi bawang putih. Antisipasi selanjutnya, dengan meminta bantuan orang yang mengetahui cara jitu untuk menghalau hantu tersebut.

Hantu Leak

Imajinasi masyarakat Bali tentang hantu Leak. (Sumber: Shutterstock)

Di Bali, dikenal hantu Leak. Mempunyai kepiawaian mengubah wujud dirinya menjadi binatang seperti babi atau kera. Bisa pula berubah wujud menjadi bola api. Menurut imajinasi masyarakat setempat, Leak merupakan makhluk menakutkan dengan mata besar, gigi tajam, lidah panjang, dan bersayap.

Leak, menurut narasi legenda yang beredar di Pulau Dewata, merupakan jelmaan dari perempuan bernama Calonarang. Dia merupakan seorang penyihir dan memiliki ilmu gaib yang luar biasa sakti mandraguna. Dia diperkirakan hidup pada abad 11 Masehi.

Calonarang hidup di Desa Girah, masuk wilayah Kerajaan Daha (Kediri). Mempunyai putri bernama Ratna Manggali yang berparas rupawan. Namun, tidak ada seorang pemuda pun yang berani menikahinya karena takut kepada sang ibunda. Melihat hal ini, Calonarang pun meradang. Lalu menyebarkan wabah penyakit kepada para penduduk sekitar.

Mpu Baradhah, atas perintah Raja Kahuripan Airlangga, mengutus muridnya, Mpu Bahula untuk menikahi Ratna Manggali. Dengan misi tambahan, mengamankan kitab ilmu hitam sang ibu mertua. Tujuannya guna menghilangkan wabah penyakit akibat sihir Calonarang. Setelah kitab sukses diamankan dan Calonarang ditamatkan riwayatnya oleh Mpu Baradhah, perguliran cerita pun masih belum usai.

Ada salah seorang murid Calonarang yang dapat melarikan diri ke Bali. Di sana, dia dengan penguasaan ilmu sihir hasil ajaran sang ibunda guru, dapat menghadirkan roh Calonarang yang sudah meninggal itu untuk menjelma menjadi hantu Leak. Makhluk menakutkan yang senantiasa haus darah bayi yang masih berada di kandungan ibunya ataupun yang sudah lahir.

Di samping itu, hantu Leak lebih sering muncul pada malam hari, teristimewa di wilayah permakaman atau tempat-tempat yang jauh dari sentuhan keramaian. Dia juga gemar mencari organ tubuh manusia untuk menambah kesaktian ramuan sihirnya. Adapun ritual untuk menolak Leak di Bali, antara lain dengan ritual penyediaan sesaji, pembacaan mantra, dan pembakaran dupa serta kemenyan.

Hantu Suanggi

Imajinasi penampakan hantu Suanggi di Maluku dan Papua. (Sumber: RRI.com)

Di Maluku dan Papua, dikenal hantu Suanggi. Diimajinasikan oleh masyarakat di wilayah tersebut, dengan sosok yang seram dan pada dirinya ada penguasaan ilmu sihir yang ditujukan untuk kekurangbaikan terhadap sesama. Sosok itu dihadirkan atau dijelmakan dari dukun dengan kekuatan gaib.

Kendati gambaran umum performasi hantu Suanggi di Maluku dan Papua ada kemiripan, ternyata terdapat narasi yang berlainan pada cerita rakyat di kedua daerah itu. Beberapa wilayah di Maluku, Suanggi merupakan perempuan dengan kemampuan ilmu gaibnya mencari mangsa lelaki guna memenuhi syahwatnya. Dan, secara kanibal perempuan Suanggi itu kemudian memakan penis lelaki yang menjadi mangsanya itu.

Sementara itu di Papua, hantu Suanggi lebih dekat dengan sosok menyeramkan yang memangsa daging manusia. Dengan demikian, pelakunya bisa perempuan dan bisa pula lelaki dengan kepemilikan akan ilmu gaib. Di samping itu, disebutkan pula dalam langkah eksekusi terhadap mangsanya, dilakukan dari jarak jauh dengan perantara dukungan mantra-mantra.

Kemunculan hantu Suanggi pada malam hari. Terkadang dengan penanda bola api yang melayang-layang. Wujudnya bisa berubah, sehingga leluasa mendekati mangsa. Wujud aslinya adalah sosok menakutkan dengan mata merah menyala, gigi tajam, dan tubuhnya beraroma kurang nyaman bagi hidung kebanyakan orang saat membauinya.

Hantu Lampor

Ilustrasi hantu Lampor, antara lain dengan imajinasi perrwujudan berupa keranda terbang. (Sumber: Sukafakta)

Di Jawa, ada hantu Lampor. Penampakannya bermacam-macam dan yang populer berupa keranda terbang. Salah satu versi yang melatarbelakanginya adalah sepak terjang pasukan gaib Nyi Roro Kidul, Ratu di Kerajaan Laut Selatan. Mereka muncul dengan keranda terbang. Dipercaya akan ada suara gaduh yang ditimbulkan saat ada permukiman yang dilewati.

Performa hantu Lampor bisa juga berupa bola arwah, asap hitam berbentuk manusia tanpa kaki. Ada cerita rakyat, yang mendeskripsikan Lampor sebagai perempuan berambut panjang bergaun putih. Ada juga yang menggambarkannya sebagai kabut merah. Dan, kehadirannya didramatisasi dengan suara gaduh serta angin kencang dari arah Laut Selatan.

Namun satu hal yang banyak disepakati sebagai kepercayaan, yaitu kedatangannya sebagai pembawa malapetaka. Keberadaannya di suatu tempat, terutama pada bulan Sapar menurut Kalender Penanggalan Jawa, acapkali dihubungkan dengan penyebaran wabah penyakit atau pagebluk di tempat bersangkutan.

Selain itu, ada pula cerita rakyat yang menyebutkan bahwa hantu Lampor ini senang menculik orang dewasa, bahkan termasuk anak-anak, yang tengah berada di luar rumah pada malam hari. Mereka yang diculik ada kemungkinan tidak kembali lagi. Dan, kalaupun kembali dalam kondisi linglung. Lupa segala-galanya.

Pesan Moral

Cerita-cerita rakyat tentang hantu di atas ternyata juga merupakan bagian dari tradisi lisan yang memiliki pesan moral dan bagian dari cara mengedukasi masyarakat di masa lampau. Ada upaya untuk menakut-nakuti, terutama terhadap anak-anak, agar mematuhi aturan yang menurut pandangan mereka adalah aturan baik.

Misalnya, agar anak-anak mereka tidak berada di luar rumah pada malam hari, terlebih-lebih hingga dini hari. Masyarakat Jawa memanfaatkan cerita rakyat dari tradisi lisan secara turun-menurun, tentang hantu Lampor yang suka menculik manusia dewasa ataupun anak-anak. Lewat dongeng sebelum tidur, para orang tua dapat mendidik putra-putrinya sehingga dapat meredam keinginan untuk keluar malam.

Ada pula pesan moral untuk memberi perhatian serius atau menjaga keselamatan janin bayi yang masih dalam kandungan. Dan, juga memberikan perhatian yang serius terhadap anak-anak yang baru lahir. Bisa jadi itulah yang hendak digapai sebagai tujuan yang baik di belakang cerita hantu Kuyang di Kalimantan dan Palasik di Minangkabau.

Atau lagi, pesan moral tentang kasih sayang seorang ibu kepada putrinya, seperti kasih sayang Calonarang kepada Ratna Manggali, dengan cara yang kurang pada tempatnya. Lewat cerita tentang hantu Leak, tindakan yang sebetulnya mulia itu, malahan berbuah malapetaka bagi orang banyak. Inilah yang tidak bisa dibenarkan.

Pesan moral untuk menghargai perempuan juga tampak pada cerita hantu Suanggi, menurut versi cerita rakyat tentang hantu tersebut yang menjadi tradisi lisan masyarakat Maluku Utara. Di sini, hantu perempuan Suanggi dideskripsikan dengan kemampuan berubah wujud sebagai gadis rupawan memikat hati para lelaki hidung belang untuk memanjakan hasrat syahwatnya. Lalu berujung pada pemangsaan alat kelamin lelaki yang sebelumnya berasyik masyuk dengannya.

Cara mengedukasi dengan tradisi lisan yang sarat dengan cerita-cerita hantu menyeramkan itu, dewasa ini memang bukan zamannya lagi. Orang-orang atau anak-anak zaman dahulu mungkin dengan logika animisme dan dinamismenya dapat dengan nyaman melewati rute penggiringan, sehingga muncul keinginan dengan seduan ketakutan untuk mematuhi tatanan sosial yang sesuai dengan kehendak zaman di masa itu. ***