Konten dari Pengguna

Cerita tentang Anggota Grup WhatsApp yang Terus Berkurang

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 12 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tangkapan layar ikon Grup WhatsApp Bastrasia IKIP Semarang. (Foto: Mohamad Jokomono)
zoom-in-whitePerbesar
Tangkapan layar ikon Grup WhatsApp Bastrasia IKIP Semarang. (Foto: Mohamad Jokomono)

Kamis (7/5/2026) selepas waktu asar. Saya baru buka Grup WhatsApp Bastrasia IKIP Semarang. Bastrasia merupakan akronim dari Bahasa dan Sastra Indonesia. Itu nomenklatur program studi (dahulu namanya jurusan) yang didahului dengan kata “Pendidikan”, karena yang kami pelajari memang bukan ilmu murni melainkan ilmu terapan di bidang keguruan. Implikasi perubahan jurusan menjadi program studi, bila dahulu ada himpunan mahasiswa jurusan (HMJ), maka kini ada himpunan mahasiswa program studi (HMPS).

Adapun IKIP Semarang, biasanya di tengahnya ada kata “Negeri”, merupakan singkatan yang memiliki kepanjangan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Kemudian berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 124 Tahun 1999 bertanggal 7 Oktober 1999 tentang Jenjang Program Pendidikan Tinggi, telah berubah menjadi Universitas Negeri Semarang. Lazim diakronimkan dengan Unnes.

Grup WhatsApp Bastrasia IKIP Semarang beranggotakan mahasiswa dan mahasiswi (yang wanita jumlahnya lebih dominan) dari kelas Angkatan 1984. Mereka pada umumnya lulusan SMA, ada empat teman dari SPG (Sekolah Pendidikan Guru), dan satu orang dari SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas). Ada seorang yang mengaku sempat menunda melanjutkan studi selama setahun, tetapi mereka kebanyakan lulusan Tahun Ajaran 1983/1984.

Para anggota Grup WhatsApp Bastrasia IKIP Semarang kelahiran tahun 1963, 1964, 1965, dan 1966. Mereka menempuh Program Diploma 3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Negeri Semarang pada Tahun Akademik 1984/1985 - 1986/1987. Sebagian besar menjadi tenaga pengajar di seantero Jawa Tengah. Ada juga yang memilih menjadi pegawai Kantor Pos. Ada pula yang menjadi penulis lepas dan kemudian bekerja di sebuah koran terbitan Semarang.

Mayoritas dari mereka, kini sudah memasuki masa pensiun. Sudah pada merampungkan S-1 dan beberapa S-2. Demikian sedikit paparan introduktif seputar identitas Grup WhatsApp Bastrasia IKIP Semarang. Setelah terjeda, saya akan kembali bercerita apa yang terjadi pada hari, tanggal, dan kisaran waktu yang telah tersebut pada awal tulisan ini. Kamis (7/5/2026) selepas waktu asar. Saya agak terlambat membukanya pada hari itu. Meskipun demikian, saya selalu menyediakan waktu untuk bersilaturahmi secara online tiap hari dengan sahabat-sahabat di masa muda itu.

Berita Duka

Kesedihan bercampur aduk dengan keterkejutan menyelinap di hati ini. Betapa tidak? Begitu saya buka Grup WhatsApp Bastrasia, telah banyak ucapan belasungkawa yang berdatangan. Pada hari itu, telah berpulang ke rahmatullah sahabat kami, H. Sudibyo, S.Pd. yang bersama keluarganya kini berdomisili di Desa Depokrejo, Kecamatan/Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Dia purnatugas pada 2024 lalu.

Kepergian yang begitu mendadak. Selama ini dia tampak baik-baik saja. Setelah pensiun, dia pernah mengunggah keterlibatannya sebagai pemandu dari sebuah biro umrah di Grup WhatsApp. Dia tampak begitu bersemangat. Dan, kondisi kesehatannya baik-baik saja. Oleh karena itu, kabar kepergiannya sungguh seperti sambaran petir di siang hari bolong. Sangat tidak terduga.

Seorang sahabatnya di Kebumen menuturkan, dirinya masih melihat almarhum membuat status di WhatsApp pada pukul 06.00 pada Kamis (7/5/2026) itu. Sementara itu, seorang teman di Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah menyatakan dirinya merasa merinding, karena pada pagi itu dia juga melihat almarhum masih tampak membaca dan me-like statusnya di FaceBook.

Proses pemberangkatan jenazah H. Sudibyo, S.Pd., dari rumah duka di Desa Depokrejo, Kecamatan/Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Kamis (7/5/2026) sore. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Sementara itu, seorang teman dari Kabupaten Banyumas, mengungkapkan kisah tentang kontak terakhirnya dengan almarhum. Katanya, pada Sabtu (2/5/2026), pernah chat via WhatsApp jaringan pribadi dengan almarhum, untuk menanyakan jalan yang paling mulus menuju ke Yogyakarta dari Kebumen. Saat pulang dari Yogyakarta, dia yang bermobil dengan keluarganya lewat Terminal Kebumen. Tapi, tidak sempat mampir ke rumah almarhum, karena hari sudah terlalu sore.

Berdasarkan keterangan sahabat almarhum di Kebumen, sebagai pencinta berat bulu tangkis sejak muda, almarhum pada Kamis (7/5/2026) pagi itu tengah mencari keringat dengan bermain olahraga tersebut bersama komunitasnya. Dahulu, saya melihat sendiri saat sama-sama indekos di kawasan Jalan Tumpang 1 Kelurahan Bendan Ngisor, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, keterampilan almarhum dalam memainkan shuttlecock memang sungguh di atas rata-rata.

Masih dari kesaksian sahabatnya di Kebumen tersebut, ketika almarhum bermain baru berlangsung setengah set, tiba-tiba jatuh tergeletak. Ketika teman-teman sekomunitas mendekati dan memeriksa keadaan almarhum, ternyata mereka mendapatinya dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Selanjutnya almarhum dibawa RSU Permata di Jalan Indrakila Nomor 17 Kebumen untuk dilakukan pengambilan visum et repertum. Barangkali memang ada sedikit persoalan pada kondisi jantungnya.

Seorang teman dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah mengirimkan doa yang syahdu untuk almarhum di Grup WhatsApp Bastrasia IKIP Negeri Semarang. Demikian kutipannya:

إِنَّا لِلَٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali."

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِوَعَذَابِ النَّارِ.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'aafihi wa'fu 'anhu wa akrim nuzulahu wa wassi' madkhalahu waghsilhu bil maa-i wats tsalji wal baradi wa naqqihi minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadha minad danas. Wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi wa adkhilhul jannata wa a'idzhu min 'adzaabil qabri wa 'adzaabin naar.

"Ya Allah, ampunilah dia. Berilah rahmat kepadanya. Selamatkanlah dia. Maafkanlah dia. Muliakanlah tempat singgahnya. Luaskanlah kuburnya. Bersihkanlah dia dengan air, es, dan air yang dingin. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan pakaian putih dari kotoran. Gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik (di akhirat). Masukkanlah dia ke dalam surga dan lindungilah dia dari siksa kubur serta siksa neraka."

آمين يا مجيب السآئلين

Aamiin yaa mujibas saa-iliin.

"Kabulkanlah wahai Tuhan yang mengabulkan doa orang-orang yang meminta."

Ada teman kami, purnatugas penilik sekolah, yang menulis di Grup WhatsApp Bastrasia IKIP Semarang, “Ya Allah, saya bersaksi, saudara saya H. Sudibyo orang baik. Ampuni segala dosa dan khilafnya ya Allah. Terimalah segala amal baiknya ya Allah. Tempatkanlah di tempat terindah di sisi-Mu. Selamat jalan Kang Dib. Doa terbaik mengiringi kepulanganmu.” (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Penggagas Reuni

Almarhum merupakan salah seorang yang mencetuskan gagasan untuk menyelenggarakan reuni bagi kami yang mulai kuliah tahun akademik 1984/1985 hingga 1986/1987 pada Program Diploma 3 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Indonesia. Beberapa waktu menjelang 2016, almarhum pernah menyampaikan ide tersebut lewat FaceBook. Kala itu, saya menyambut dengan hangat. Akan tetapi, kesinambungan pembicaraan tentang reuni itu sempat tertumpuki dengan aktivitas keseharian kami.

Untunglah kemudian hadir WhatsApp. Pada tahun 2015 merupakan pijakan bagi penguatan eksistensinya, manakala masyarakat Indonesia pada saat itu mulai beramai-ramai memindahkan perhatiannya dari BlackBerry Messenger (BBM) ke WhatsApp. Hal itu merupakan konsekuensi logis dari perubahan teknologi berikut tuntutan kebutuhan komunikasi yang lebih praktis.

Terdapat sejumlah alasan, mengapa WhatsApp mengalami masifikasi pemakaian pada kala itu. Pada 2014 - 2015, pengguna telepon seluler BlackBerry menunjukkan pengurangan signifikan. Mereka ramai-ramai pindah ke Android atau iPhone. Sebab, WhatsApp lebih “ringan” dan lebih terintegrasikan di sistem baru jika berada dalam tataran komparatif dengan BlackBerry Messenger.

Selain itu, pertimbangan kepraktisan yang lebih menonjol. Berlainan dengan BlackBerry Messenger yang membutuhkan Personal Identification Number (PIN) yang relatif rumit, WhatsApp langsung terkoneksi dengan nomor telepon seluler. Hal ini memberikan akses kemudahan bagi orang tua ataupun yang kurang begitu melek teknologi untuk mengoperasikannya.

Dan, ini yang paling terkait dengan peran WhatsApp sebagai pembuka jalan bagi kami, sehingga dapat merealisasikan reuni. Tidak sering memang, tetapi minimal pernah terealisasi. Dari tahun 2016 hingga sebelum Covid-19, pernah ada dua momen. Setelah itu belum kesampaian. Reuni itu bisa terjadi berkat adanya fitur WhatsApp Group yang menuai popularitas. Sebab, melempangkan kemudahan koordinasi teman-teman sealmamater yang posisi domisilinya tersebar di seantero wilayah Jawa Tengah.

Serta, last but not least, disebut terakhir tetapi tidak kalah penting, pertimbangan efisiensi data. WhatsApp yang akrab dengan keterkenalan dirinya lebih hemat kuota. Tidak menyebabkan telepon seluler panas. Pada saat itu, hal tersebutlah yang memberi jarak perbedaannya dengan aplikasi chatting yang lain.

Berkat WhatsApp, kami pada akhirnya bisa berkomunikasi dan mencapai kesepakatan bersama untuk mengadakan reuni. Saya yang pada saat itu (2016) masih bekerja sebagai Redaktur Daerah di Harian Suara Merdeka Semarang, mendapat kehormatan untuk meliput reuni itu. Pertemuan kembali setelah sekitar dua puluh sembilan tahun terpisah.

Kliping guntingan koran yang memuat feature tentang reuni pertama alumni Bastrasia Angkatan 1984 IKIP Semarang. (Foto: Mohamad Jokomkno)

Feature yang saya tulis itu berjudul “Sukses Kumpulkan Alumni berkat WhatsApp: Reuni Bastrasia Angkatan 1984”. Dimuat di halaman 21 Fokus Jateng Harian Suara Merdeka, terbitan Selasa, 20 Desember 2016. Berikut kutipan enam paragraf awal:

Kampung Laut di kawasan PRPP Semarang, Minggu (18/5) pukul 11.00 - 15.00 menjadi saksi bisu, betapa media sosial (medsos) bernama WhatsApp (WA) itu begitu ampuh memengaruhi kehidupan para urban digital.

Berkat jalinan komunikasi intens di Grup WA selama tiga bulan terakhir Reuni D-3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Bastrasia) Angkatan 1984 IKIP Negeri Semarang (kini Unnes) berjalan sukses.

Puluhan orang guru Bahasa Indonesia di SMP dan SMA/SMK, kepala sekolah, dan penilik sekolah di seantero Jawa Tengah berdatangan menapak tilas masa lalu.

Mereka dari belasan kabupaten/kota, yaitu Jepara, Pati, Kebumen, Tegal, Karanganyar, Blora, Grobogan, Purworejo, Banyumas, Temanggung, dan Semarang. Mereka datang bersama istri/suami, anak-anak, serta cucu-cucu masing-masing.

Setelah lulus pada 1987, ada sebagian yang sesekali masih merajut kontak. Namun, ada pula sebagian lain yang selama kurun waktu itu tidak pernah kontak. Bila dihitung dari tahun kelulusan, maka ada sebagian dari mereka yang dalam reuni kali ini baru bertemu setelah hampir 30 tahun.

Setelah mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Swt, kita perlu berterima kasih kepada WA. Berkat WA-lah kita dapat menyelenggarakan reuni kali ini,” canda Ketua Panitia Reuni Bastrasia IKIP Negeri Semarang 2016 Abdul Khalim dalam sambutannya.

Itulah momen pertama reuni kami setelah banyak tahun tidak berjumpa. Setelah itu ada satu momen reuni yang berlangsung. Sayang sekali, saya lalai mengklipingnya. Yang saya ingat, kira-kira satu atau dua tahun setelah itu. Sebelum pandemi Covid-19 bersimaharajalela di Tanah Air. Lokasi reuni kedua itu di Objek Wisata Eling Bening, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang.

Grup WhatsApp

Grup WhatsApp Bastrasia IKIP Semarang kira-kira terbentuk, sekitar tiga bulan sebelum reuni pertama pada 18 Mei 2016. Selama sepuluh tahun terakhir ini telah begitu banyak peristiwa bahagia yang datang bertandang sebagai bahan obrolan, seperti pernikahan putra-putri anggota grup. Bahkan beberapa tahun lalu, ada seorang anggota grup yang berbagi kebahagiaan dengan menginformasikan bahwa dirinya memutuskan untuk menikah lagi setelah lama menjanda.

Momen kebahagiaan lain yang terbagikan di dalam grup WhatsApp tersebut, seperti ketika putra-putri para anggota berhasil menyelesaikan studi dan menjalani wisuda. Atau, luapan kegembiraan tatkala pada akhirnya ada salah seorang anak yang meneruskan profesi dirinya menjadi guru yang mulia dan mencerdaskan bangsa itu. Sejumlah teman juga selalu istikamah menjalin tali silaturahmi dengan mengirim postingan pelbagai variasi stiker doa yang mengguyurkan ketenteraman batin. Juga, info-info tentang kesuksesan mereka memasuki masa purnatugas.

Grup WhatsApp Bastrasia IKIP Semarang juga menjadi saksi ketika momen nestapa menghampiri. Mulai dari sejumlah teman yang menghadapi cobaan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala berupa penyakit yang agak serius. Dan, puncaknya manakala terbetik kabar bahwa ada salah seorang dari kami yang pergi mendahului, pulang ke rahmatullah. Ketika grup WhatsApp awal terbentuk, ada dua teman kami yang telah tiada. Selama sepuluh tahun terakhir ini, ada empat sahabat kami yang menyusulnya.

Dengan demikian, di Grup WhatsApp Bastrasia IKIP Semarang, jumlah anggotanya secara alami akan terus berkurang. Berdasarkan Info Grup, sekarang ini jumlah anggotanya 19 orang. Dengan catatan, masih ada satu orang yang hingga kini belum dapat terdeteksi keberadaannya. Sudah ada sejumlah teman yang berupaya melakukan pencarian. Sayang, belum juga berhasil.

Postingan bernada sendu dari seorang teman saat mengingat mereka yang telah pergi mendahului, Sabtu (9/5/2026). (Foto: Mohamad Jokomono)

Ada sisi kebijakan hidup yang mengemuka manakala seseorang berada dalam situasi ke arah proses penyusutan lingkaran perkawanan dalam suatu komunitas. Seseorang itu akan dihentakkan oleh kontemplasi tentang esensi keberadaan. Yang paling dekat dengan kebutuhan biasanya terkait dengan penerimaan terhadap ketidakkekalan (impermanence). Ini prinsip spiritual yang seharusnya pertama kali tersedia.

Semestinya ada wilayah di hati kita, tempat menancapkan titik damai dengan menerima kenyataan. Bahwa segala sesuatu ada awal dan ada akhirnya. Kemampuan seseorang untuk melepaskan teman-teman sebaya pulang terlebih dahulu tanpa rasa sedih yang berlebihan merupakan suatu kedewasaan spiritual pula. Bukankah dalam QS. Al-'Ankabut: Ayat 57, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ (Kullu nafsing zaaa-iqotul-mauut, summa ilainaa turja'uun). “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan" (Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id)?

Prinsip berikutnya agar seseorang tidak terlalu kehilangan jika ada teman sebaya yang meninggal, yaitu dengan menggeser pandangan dari “melakukan” ke “menjadi”. Orientasi verba “melakukan” adalah pencapaian suatu hasil, sedangkan “menjadi” fokus pada nilai dan identitas diri. Selanjutnya, perpindahan dari pola pikir yang tertuju ke masa depan (target), menuju kesadaran penuh (mindfulness) terhadap masa kini.

Kemudian, mulai meminimalisasi kebutuhan secara terus-menerus untuk membuktikan diri, berjuang, atau mengelola segala sesuatu. Dan, mulai belajar untuk merasa aman nyaman dengan kehadiran diri yang tenang. Ketika, seseorang yang lanjut usia telah sampai pada tahapan “menjadi”, itu artinya yang bersangkutan telah mampu menghuni tubuh dan pikirannya dengan sadar. Tidak beranggapan sebagai sesuatu yang perlu mendapat perbaikan atau pengelolaan secara kontinu.

Pada konteks spiritual atau psikologis, ini masa transisi guna meminimalisasi kesibukan eksternal dalam upaya memaksimalisasi koneksi batin. Dengan perkataan yang lebih simpel, agar terkondisikan seseorang yang sudah lanjut usia bisa lebih dewasa secara spiritual ketika menyikapi realitas sahabat sebayanya mendahului “pulang kampung”, yang bersangkutan perlu melakukan perubahan dari pola hidup yang “selalu sibuk mengerjakan sesuatu” (doing) menuju ke pola hidup “menikmati dan menghayati kehidupan yang sedang berjalan” (being).

Bila Allah Subhanahu Wa Ta'ala menghendaki seseorang yang sudah lanjut usia itu termasuk deretan personel yang masih memiliki umur ketika sebagian besar yang tergabung di grup WhatsApp telah pergi, maka seharusnya yang bersangkutan memegang anutan prinsip kesadaran bahwa kehidupan teman-teman sebayanya yang telah wafat memiliki makna ketika dia dan sedikit teman sebaya lain yang masih hidup turut berpartisipasi merawat kenangan. Tanggung jawab moralnya, mengingat kebaikan mereka yang telah tiada.

Dengan semakin sedikit anggota yang kelak bakal tersisa di grup WhatsApp, bisa jadi pada perguliran tahun hingga puluhan langkah ke depan, mereka terkondisi pada level kebebasan emosional yang hampir tidak mungkin atau jarang menemukan bentuk ekspresinya ketika mereka masih muda.Pada akhirnya kelak, mereka yang masih tersisa di grup WhatsApp, akan menemukan keindahan dalam keheningan.

Mereka yang telah menjalin pertemanan selama berpuluh-puluh tahun, akan terbentuk pemahaman yang melampaui kata-kata. Mereka akan bisa memahami, bahwa kehadiran tidak perlu secara fisik. Ketika melihat nama teman, mem-posting stiker doa atau ucapan asalamualaikum di layar telepon seluler, itu rasanya sudah lebih dari cukup untuk sebuah makna kehadiran. Ketika satu per satu “lampu” di grup WhatsApp itu padam, momen sesederhana itu bisa menjelma semburat cahaya kenangan untuk menerangi langkah mereka yang masih tersisa dan semakin tertatih. ***