Dari Hadramaut Membawa Sarung dengan Cinta Damai

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kain sarung. Atau biasa cukup disebut sarung. Kain panjang bentuk selongsong yang kedua sisi panjangnya ditautkan dengan dijahit. Cara penggunaannya dengan memasukkan ke tubuh dan melilitkan pada pinggang hingga menutup bagian bawah tubuh. Sejalan dengan kata “sarong” dalam bahasa Melayu, yang berarti “penutup” (kelas nomina) atau “menyelubungi” (kelas verba).
Agar posisi sarung tidak melorot atau merosot ke bawah, kita bisa mengetatkannya dengan sabuk. Lalu merapikannya dengan menggulung ujung atasnya beberapa kali untuk menutupi sabuk itu. Ada kalanya, sabuk tidak digunakan. Langsung digulung saja bagian atasnya beberapa kali.
Sarung sudah menjadi bagian yang akrab dalam wajah budaya di Indonesia. Pemerintah Pusat bahkan telah menetapkan tanggal 3 Maret sebagai Hari Sarung Nasional. Untuk pertama kalinya, Presiden Joko Widodo menetapkan hal tersebut pada Festival Sarung Indonesia 2019 di Plaza Tenggara Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta.
Dari Hadramaut
Hadramaut. Sebuah provinsi di Yaman. Berlokasi di pesisir pantai selatan Jazirah Arab. Dikenal dengan julukan Negeri Para Habib (keturunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam). Sesungguhnya dari sanalah asal muasal sarung itu.
Hadramaut merupakan lembah dan pegunungan yang mayoritas wilayahnya berupa padang pasir. Meski demikian, di beberapa tempat terdapat lembah-lembah subur. Penduduk di sana menyebut benda sarung itu sesuai dengan bahasa setempat sebagai fūṭah, izaar, atau saroon. Bagian dari pakaian tradisional mereka yang hadir menemani mereka dalam aktivitas keseharian.
Sarung atau fūṭah dari Hadramaut yang hadir ke Nusantara pada abad ke-14 terbuat dari kain putih yang mengalami proses pencelupan ke dalam pewarna nila atau hitam. Ada juga yang cokelat atau bahkan putih. Pendek kata, ada ikatan yang mesra dengan warna dasar dan netral.
Motifnya bersahaja. Tidak terlalu rumit. Ada kecenderungan fokus pada bentuk dasar seperti garis-garis, persegi, atau pola bunga yang tidak terlalu mengumbar kerumitan. Dengan tambahan sentuhan bordiran halus, kian menambah kesan elegan. Elok dan rapi.
Corak sarung dari Hadramaut terkadang fokus pada tekstur kain. Atau hanya memanfaatkan teknik tenun guna mengkreasikan pola. Dan, perkenalan penduduk Nusantara dengan sarung Hadramaut itu, secara evolutif melahirkan rengkuh adaptasi dengan selera dan motif- motif lokal di berbagai daerah di Nusantara.
Sarung Adaptasi Nusantara
Dialog adaptif sarung Hadramaut dengan budaya lokal di berbagai daerah Nusantara, melahirkan noktah-noktah kecirikhasan yang akrab dengan sentuhan keindahan dan keunikan masing-masing.
Sebut saja misalnya sarung poleng khas Bali. Hadir dalam orbit eksistensi lewat corak kotak-kotak beraturan dengan kandungan makna filosofis. Rwa Bhinena, corak kotak hitam dan putih, mengaksentuasikan makna setiap elemen alam semesta pastilah berpasangan. Tidak ada kanan tanpa kiri. Tidak ada siang tanpa malam. Ini menunjukkan kedua hal itu saling melengkapi untuk menjaga keseimbangan kosmos.
Kemudian ada sang poleng Tridatu, corak tiga kotak: merah, putih, hitam yang kuyup dengan keyakinan Hindu Bali. Merah merupakan representasi simbolis Dewa Brahma sang Pencipta. Putih Dewa Siwa sang Pelebur. Dan, hitam Dewa Wisnu sang Pemelihara.
Masih dalam kriteria sarung, ada kain songket Minangkabau.Dengan bahan katun atau sutra, motif-motifnya meraup inspirasi dari alam. Seperti Pucuak Rabuang (pucuk rebung), Bada Muduak (ikan teri), Saik Kalamai (jajargenjang kecil). Ada pula motif geometris. Biasa dikenakan saat acara pernikahan, khitanan, atau upacara keagamaan.
Lalu ada sarung ulos Batak. Terdapat berbagai jenis berdasarkan makna filosofisnya. Antara lain Ulos Rangidup (simbol kehidupan), Ulos Ragi Hotang (ikatan kasih sayang), Ulos Bintang Maratur (harapan terang), Ulos Mangiring (kesuburan), Ulos Sibolang (duka cita dan suka cita).
Kemudian kain troso, bisa untuk bahan kemeja atau sarung. Kerajinan tenun khas dari Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Dirintis sejak tahun 1935. Keunikan pembuatan kain tenun ikat ini, salah satunya hingga kini masih menggunakan alat tenun bukan mesin.
Motif kain troso tradisional yang legendaris, yaitu cemara dan lompong (daun talas). Adapun motif kontempores, ada krisna, ukir, mawar, bambu, burung, naga, lilin, antik, cempaka, dan masih banyak kreasi motif yang lain dari para perajin.
Lalu sarung Nusa Tenggara Timur (NTT). Kain tenun yang khas dan terkenal dari Bumi Nusa Cendana itu, seperti Tenun Sikka dari Flores, Tenun Songket dari Mangarai, dan Tenun Amarasi dari Kabupaten Kupang.
Sarung batik menawarkan keragaman motif yang memiliki nilai kekhasan dari berbagai sudut wilayah Nusantara. Warna lokalitas itu pun berdialog secara harmonis dengan tawaran-tawaran pengaruh dari luar. Meski demikian, warna lokalitas itu juga sekaligus menjadi pembeda yang khas. Seperti halnya motif Serit daan Untulawang pada sarung batik Pekalongan.
Di samping itu, juga ada sarung lurik. Ciri khas yang menandai, yaitu terdapat motif garis horizontal, vertikal, atau gabungan keduanya.
Teknik Pembuatan dan Bahan
Teknik pembuatannya, ada sarung tenun ikat, yaitu dengan rangkaian proses dari pembuatan motif lewat pengikatan benang secara selektif. Lalu pewarnaan benang sesuai dengan ikatan. Pelepasan ikatan yang membentuk motif dari benang yang diwarnai. Proses selebihnya penenunan benang yang sudah mengalami pengikatan dan pewarnaan ke dalam tenun sehingga dapat menghasilkan kain sarung ikat bermotif.
Lalu ada sarung tenun buna. Bersamaan dengan proses menenun, pembuatan motif dengan cara menyisipkan benang-benang warna secara manual. Hasil yang muncul adalah motif timbul dan padat. Kelihatan seperti hasil sulaman.
Hampir sama cara prinsip tenun ikat, yaitu teknik pembuatan sarung tenun lotis. Ada yang menyebutnya sarung tenun sotis. Atau, sarung tenun songket. Dimulai dengan pencelupan benang yang sudah diikat. Bagian yang terikat tidak terkena warna guna menciptakan motif saat proses penenunan.
Perbedaan teknik pembuatan antara sarung tenun ikat dan sarung tenun lotis tetletak pada motif dan warna. Untuk sarung tenun lotis, motifnya dengan dasar warna gelap, seperti hitam, cokelat, dan biru tua. Sementara itu, motif sarung tenun ikat hadir pada latar warna, yang bisa gelap seperti ungu anggur atau biru navy arau dongker. Dan, bisa pula dengan warna cerah, seperti hijau neon.
Ada pula sarung yang teknik pembuatannya diprinting dengan teknologi khusus. Dapat berupa penerapan metode pencetakan desain pada kain sarung secara digital dengan teknologi sublimasi guna menghadirkan hasil cerah plus tahan lama. Dapat juga dengan teknologi digital printing langsung ke kain (direct to fabric).
Berbagai bahan dapat digunakan untuk sarung, seperti katun rayon atau polycotton. Bisa dari sutra yang menghadiahkan kelembutan dan kilau mewah. Dari katun, pilihan bahan yang populer dan nyaman. Atau, dengan kain goyor dengan tekstur halusnya.
Biasanya ukuran standar sarung untuk lelaki dewasa Indonesia, lebar 110 - 125 sentimeter x panjang 105 - 130 sentimeter. Tersedia sarung jumbo untuk lelaki berpostur tinggi atau gemuk, seperti 121 x 222 sentimeter atau bahkan 200 x 110 sentimeter. Adapun sarung anak-anak: 50 x 45 sentimeter (1-2 tahun), 65 x 85 sentimeter), 65 x 85 sentimeter (3-6 tahun), 100 x 90 sentimeter (7-12 tahun).
Catatan Menarik
Sarung pernah hadir di masa Pemerintahan Hindia Belanda sebagai simbol perlawanan. Sarung yang berkolaborasi sebagai fesyen dengan jas dan peci pada masa silam itu, sebagaimana banyak para tokoh nasionalis mengenakannya, menjadi simbol representasi martabat bangsa. Mereka hendak menunjukkan bahwa keindonesiaan yang tengah mereka perjuangkan kelahirannya sebagai identitas kebangsaan saat itu, memiliki budaya yang kuat dan berwibawa.
Sarung dewasa ini di Indonesia telah menjelma menjadi bagian dari tren mode. Sarung telah menemukan jejak perkembangannya sebagai item mode yang mampu mengintervensi secara fleksibel dalam gelaran acara baik yang bersuasana santai maupun formal. Tidak sedikit, para desainer mempertemukan kembali dalam ranah estetika motif sarung, unsur-unsur tradisional dengan modern dalam buah kreasi mereka.
Begitulah, dari Hadramaut pada kisaran abad ke-14, lewat tangan perniagaan para pedagang dari Hadramaut, Yaman dan juga Gujarat, India, sarung mereka bawa dengan cinta damai sebagai pengaruh tren busana di Nusantara. Dan, dalam pusaran perjalanan evolutifnya selama berabad-abad, kini sarung telah menjelma dengan ciri-ciri keindonesiaannya yang sedemikian kental. ***
