Konten dari Pengguna

Dari Ice Breaking, Lalu Terjadi Barter Bahasa di Kongo

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak-anak di Republik Demokratik Kongo secara alami lebih mudah belajar bahasa Indonesia lewat interaksi sehari-hari dengan para prajurit TNI yang bertugas menjaga perdamaian di sana. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak di Republik Demokratik Kongo secara alami lebih mudah belajar bahasa Indonesia lewat interaksi sehari-hari dengan para prajurit TNI yang bertugas menjaga perdamaian di sana. (Sumber: Shutterstock)

Di media sosial, banyak muncul video anak-anak dari Republik Demokratik Kongo, mampu berbahasa Indonesia dengan relatif fasih untuk kategori konversasi ringan. Bahkan, ada pula yang bisa berbahasa Jawa, menitip pesan kepada Papa Indo (sebutan sayang mereka kepada para prajurit TNI) agar menjaga diri sehingga dapat tiba di Indonesia dengan tiada kurang suatu apa pun, sebagai ungkapan saat perpisahan. Wah, ternyata para Papa Indo yang bertugas dengan misi kemanusiaan di sana, juga begitu dermawan berbarter bahasa dengan mereka.

Dua tahun belakangan ini, ribuan personel TNI telah menerima penugasan di Republik Demokratik Kongo di bawah perintah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Misi yang mereka emban antara lain menjaga stabilitas dan keamanan di wilayah konflik, membantu upaya kemanusiaan PBB, dan mengatur infrastruktur.

Pada 2024, Indonesia memberangkatkan 1.025 prajurit TNI untuk misi perdamaian. Dan, pada 2025 ini Indonesia memberangkatkan 175 prajurit TNI untuk menjadi bagian dari Satuan Tugas Kompi Zeni (Satgas Kizi) Kontingen Garuda XX-V Mission de l'Organisation des Nations Unies pour la stabilisation en République démocratique du Congo (MONUSCO) atau Misi Stabilisasi Organisasi PBB di Republik Demokratik Kongo.

Barter Bahasa

Untuk memperlancar tugas kemanusiaan itu, sebelum berangkat para prajurit TNI mendapat bekal pembelajaran bahasa Prancis dan bahasa Swahili untuk kepentingan percakapan sehari-hari. Adapun bahasa Swahili, ada yang menyebutnya Kiswahili, merupakan lingua franca di Afrika Timur dan Afrika Tengah dengan penutur lebih dari 150 juta.

République démocratique du Congo atau Republik Demokratik Kongo, merupakan negara di Benua Afrika yang terletak di bagian tengah. Hanya memiliki sedikit wilayah pesisir di Samudra Atlantik. Di utara, berbatasan dengan Afrika Tengah dan Sudan Selatan. Di timur, dengan Uganda, Rwanda, Burundi, dan Tanzania. Di selatan, dengan Angola. Di selatan dan tenggara, dengan Zambia. Di barat, berbatasan dengan Republik Kongo, Provinsi Cabinda (wilayah Angola), dan Samudra Atlantik.

Negara yang dahulu memiliki nama Zaire (1971-1997) itu mengalami konflik bersenjata berkepanjangan. Yang terkini konflik kelompok M23 (Gerakan 23 Maret) dengan kekuatan militer Republik Demokratik Kongo. Konflik ini mengakibatkan jutaan orang terpaksa harus mengungsi demi menyelamatkan diri dari ekses benturan bersenjata. Krisis kemanusiaan pun tak pelak lagi terjadi. PBB turun tangan bertindak dan prajurit TNI berperan serta dalam upaya merehabilitasinya.

Dengan penguasaan bahasa Prancis dan Swahili untuk tujuan mencairkan kekakuan (ice breaking) dalam komunikasi dengan warga setempat, ternyata tak dinyana justru terjadilah semacam barter bahasa. Ada saat di waktu senggang yang memungkinkan, para prajurit TNI itu mengajari mereka bahasa Indonesia. Tidak dinyana, anak-anak Kongo antusias. Dalam kategori percakapan ringan sehari-hari, mereka dapat fasih mengatakannya.

Prajurit TNI berbincang ringan dengan anak warga setempat. (Sumber: Gemini AI)

Kemampuan anak-anak sehingga dapat dengan mudah belajar bahasa kedua (asing), terutama dengan cara praktik langsung, terjadi karena otak mereka berada dalam tahapan perkembangan yang fleksibel. Kelenturan otak mereka inilah, memungkinkan bagi mereka untuk menyerap bahasa baru secara alami. Anak-anak memang sesungguhnya adalah pembelajar bahasa alami melalui aktivitas meniru. Mereka mempunyai kemampuan alami menyerap intonasi, pengucapan, dan struktur bahasa tanpa perlu pembelajaran secara eksplisit formal.

Itulah yang terjadi pada sajian video-video di media sosial yang menarasikan tentang kemampuan anak-anak Republik Demokratik Kongo itu berbahasa Indonesia atau bahkan berbahasa Jawa dialek ngapak (Banyumas). Ada yang berupa tanya jawab ringan dengan prajurit TNI seputar nama, usia, dan sekolahnya. Ada yang berupa statemen sederhana dari mereka mengenai suatu hal. Ada yang menawarkan sesuatu, seperti buah nanas, kepada para prajurit TNI. Ada narasi saat mereka menirukan dari yang telah mereka simak sebagai pelajaran informal dari prajurit TNI.

Di suatu tempat yang dengan jarak tidak kurang 10.601 kilometer atau jika ditempuh dengan penerbangan diperlukan waktu sedikitnya 30 jam, dari Bandara Internasional Soekarno - Hatta Jakarta hingga Bandara Internasional Kinshasa N’djili di Republik Demokratik Kongo, tak bisa dibayangkan ada anak-anak warga setempat yang bicara dengan bahasa Indonesia. Bahkan, bicara dengan bahasa Jawa dialek ngapak. Dengan slogan “Ora Ngapak, Ora Kepenak” (Tidak bicara dengan dialek Banyumas, Kurang Nyaman Rasanya). Ini tentu saja di luar Suriname. Dengan para keturunan etnik Jawa yang hingga kini masih mampu berbicara dalam bahasa ibunya. Yang juga jaraknya harus ditempuh di kisaran waktu 26 - 30 jam penerbangan dari Jakarta ke Paramaribo.

Kemanusiaan Hakiki

Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada prajurit TNI yang telah memopulerkan bahasa Indonesia dan Jawa di sana. Siapa tahu kelak pada kemudian hari ada di antara anak-anak di Republik Demokratik Kongo itu yang tertarik dengan bahasa Indonesia atau Jawa serta berminat memperdalamnya dengan menimba studi di sini. Terima kasih telah menebarkan citra positif dengan sentuhan soft power militer yang lebih menyentuh sisi-sisi kemanusian yang hakiki.

Di tengah kesibukan para prajurit TNI yang tergabung dalam bidang penyediaan konstruksi dan perbaikan infrastruktur (zeni) serta dukungan kemanusiaan, mereka mampu berinteraksi dengan warga setempat dengan cara-cara simpatik. Di sela-sela waktu luang saat membangun jalan, jembatan, fasilitas publik, dan sarana vital lain yang memberi dukungan pergerakan dan stabilitas di teritorial konflik, mereka membaur dalam interaksi sosial dengan warga setempat.

Di sinilah kemudian terjalin komunikasi ringan. Pada mulanya dibuka dengan penguasaan elementer bahasa Prancis dan Swahili untuk menegur sapa atau mengenalkan diri. Karena memang kedua bahasa itu yang yang riil berada dalam genggam penguasaan warga setempat. Kemudian anak-anak itu mendengar antarsesama prajurit TNI berbincang dalam bahasa Indonesia. Anak-anak itu kemudian tertarik dan menirukannya.

Melihat keingintahuan mereka, ada yang lalu mengajari mereka satu dua kata yang mewadahi makna yang kerap muncul dalam tuturan hari-hari. Lama-kelamaan jumlah kata yang anak-anak itu kuasai semakin banyak. Dengan sering mendengarkan, mereka pun mampu membentuk kalimat sederhana dari kata-kata sederhana pula. Demikian kira-kira cara anak-anak itu belajar lewat interaksi komunikasi langsung dengan penutur asli.

Selain itu, pada dasarnya bahasa Indonesia memang ramah untuk dipelajari. Dengan alfabet Latin yang telah mendunia, tidak ada tekanan naik turun atau panjang pendek silabel yang membedakan arti, kian melempangkan jalan menuju ke raihan pemahaman yang tidak terlampau berkelok liku. Struktur kalimatnya (penyusunan subjek - predikat - objek) pun relatif konsisten sehingga tidak terlalu menyebabkan kening berkerut berat bagi para pembelajarnya. ***