Konten dari Pengguna

“Dewi Fortuna” yang Sering Hadir dalam Kegiatan Berbahasa Sehari-hari

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jackpot menyediakan berbagai probabilitas,. Tidak saja keberuntungan, tetapi juga ketidakberuntungan. (Sumber: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Jackpot menyediakan berbagai probabilitas,. Tidak saja keberuntungan, tetapi juga ketidakberuntungan. (Sumber: Shutterstock)

Kata “dewi fortuna” yang ditulis dengan huruf d dan f kecil hadir sebagai salah satu entri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (KBBI VI Daring). Maknanya “dewi yang memberikan keberuntungan” serta merepresentasikan secara total dari sifat-sifat “keberuntungan” itu sendiri.

Dalam dunia olahraga, teristimewa sepak bola, kata “dewi fortuna” acapkali dikaitkan dengan laga dua kesebelasan yang kekuatannya seimbang. Terutama saat memasuki partai krusial seperti semifinal dan final, manakala mesti berlanjut ke babak perpanjangan 2 x 15 menit dan adu tendangan penalti.

Kemenangan dengan adu tendangan penalti inilah yang paling dekat dihubungkan oleh presenter televisi dalam siaran langsungnya, sedemikian sarat dengan campur tangan “dewi fortuna”. Keberuntungan. Jarak tendangan para pemain dari kedua tim yang terpilih sebagai eksekutor pun sama. Sejauh 11 meter dari garis gawang. Dengan demikian, tingkat probabilitas penciptaan gol juga sama.

Akan tetapi hasilnya bisa berbeda. Probabilitas terbesar, yaitu bola dapat bersarang di jaring gawang dengan mulus. Probabilitas menengah, bila kiper pintar membaca arah bola, maka sesekali dia mungkin mampu mengeblok, mengetip, atau bahkan menangkapnya. Probabilitas terkecil, bola itu tidak masuk ke jaring gawang, lantaran terkena tiang dan memantul keluar. Atau, tendangan melambung di atas mistar gawang. Atau lagi, bola melenceng dari arah target.

Meski demikian hukum anomali tetap berlaku. Bisa jadi karena eksekutor tidak bisa keluar dari beban mental yang kelewat berat menindih nalar sehatnya, tingkatan probabilitas itu dapat saling bertukar peringkat. Begitulah, dinamika permainan probabilitas dalam adu tendangan penalti inilah yang sering disoroti sebagai ranah yang paling sering dianggap paling sering diintervensi “dewi fortuna” (keberuntungan).

Dewi Keberuntungan

Sementara itu, sebagai mitologi Romawi, “Dewi Fortuna” (dengan D dan F kapital) adalah nama seorang dewi. Menurut KBBI VI Daring, salah satu arti dari lema “dewi” adalah “dewa perempuan”. Ada dewi penguasa langit, yang dalam kepercayaan agama Hindu bernama Dewi Aditi.

Kemudian ada dewi yang diyakini sebagai pemelihara pertumbuhan tanaman padi disebut Dewi Sri. Adapun dewi yang menguasai planet Bumi bernama Dewi Pertiwi. Kedua dewi tersebut terakhir juga merupakan wilayah keyakinan agama Hindu yang sudah mengalami moderasi budaya masyarakat Jawa, Bali, dan Sunda.

Dewi Pertiwi merupakan versi Nusantara dari Dewi Prithvi. Dewi Sri adalah versi Nusantara dari Dewi Lakshmi. Versi Nusantara, Dewi Pertiwi itu istri Dewa Wisnu (pemelihara Bumi). Menurut versi orisinal agama Hindu, Dewi Prithvi ini istri Dewa Dyaus Pita (dewa Langit).

Terdapat berapa dewi yang diatributi sebutan dewi keberuntungan. Dewi Lakshmi dalam agama Hindu diyakini sebagai dewi keberuntungan, selain kekayaan dan kemakmuran. Lalu Dewi Tyche dalam mitologi Yunani, juga menyandang predikat serupa dengan Dewi Lakhsmi.

Dalam mitologi Romawi dikenal Dewi Fortuna. Job description-nya pun hampir sama dengan kedua dewi yang tersebut terdahulu. Dengan sedikit variasi nomenklatur, yaitu keberuntungan, nasib baik, dan kemakmuran. Kuil-kuil untuk pemujaannya pun banyak dibangun di seantero wilayah Kekaisaran Romawi.

Pada 31 Sebelum Masehi, Kekaisaran Romawi telah berdiri. Untuk Kekaisaran Romawi Barat berakhir pada 476 Masehi. Sementara itu, Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) hingga 1453 Masehi.

Patung marmer putih Dewi Fortuna yang terdapat di Postdam, Jerman. (Sumber: Shutterstock)

Rekonstruksi Pemujaan

Pada masa Kekaisaran Romawi, Dewi Fortuna menjadi salah satu dari banyak dewa-dewi yang menerima pemujaan dari para pemeluk agama Romawi Kuno yang politeistik. Dia mendapatkan ritus penyembahan, karena dalam anutan keyakinan mereka, merupakan dewi yang melindungi berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk pertanian dan rumah tangga.

Kuil-kuil pemujaan Dewa Fortuna itu pun banyak didatangi oleh pemeluk agama Romawi Kuno. Ada beberapa tahapan penting dalam tata cara pemujaan yang meliputi persembahan, doa, dan ritual. Kira-kira demikian rekonstruksinya. Sebelum dan sesudah pemujaan mereka membersihkan di sumber air suci.

Sumber air suci itu biasanya terletak tidak jauh dari kuil pemujaan tersebut. Air suci memiliki fungsi untuk menjalankan ritual keagamaan sebagai upaya penyucian diri dan sekaligus persembahan kepada dewa atau dewi yang dipuja di kuil itu.

Setelah melewati proses penyucian, mereka memasuki kuil dengan membawa sejumlah benda persembahan. Mereka menuju ke altar kuil, membawa wadah berbentuk tanduk. Namanya cornucopia. Kata bahasa Latin ini, secara harfiah, terbentuk dari cornu yang bermakna “tanduk” dan copia (“kelimpahan”). Tanduk kelimpahan.

Wadah berbentuk tanduk itu di dalamnya berisi hasil bumi dan buah-buahan segar sebagai simbol kesuburan dan kelimpahan. Kemudian ada bunga matahari atau bunga warna kuning sebagai simbol keberuntungan. Ada beberapa koin sebagai simbol kemakmuran yang tidak lupa mereka masukkan. Tidak sedikit yang menambahkan cokelat atau permen, simbol tentang kehidupan mereka yang manis atau bahagia.

Selanjutnya, untuk menghidupkan atmosfer suasana yang sakral dan aromatik, mereka membakar dupa. Ada lilin yang dinyalakan sebagai simbol penerangan dan harapan. Seterusnya doa kepada Dewi Fortuna pun dipanjatkan. Mereka memohon berkah, perlindungan, dan keberuntungan dalam mengikuti langkah-langkah kehidupan selanjutnya.

Tidak Stabil

Patung Dewi Fortuna di Amsterdam, Belanda yang berdiri di atas bola. (Sumber: Shutterstock)

Dewi Fortuna acapkali menerima penggambaran berdiri di atas bola. Ini menggulirkan perlambang bahwa sifat dari keberuntungan itu dapat berubah setiap waktu. Dengan demikian, keberuntungan bisa datang dan pergi. Tidak seorang pun mampu mengetahui dengan pasti kapan dan melalui jalan apa keberuntungan itu mendatanginya lagi.

Dewi Fortuna juga sering menerima penggambaran sebagai sosok yang tidak bisa melihat (tunanetra). Ada interpretasi, bahwa itu menjadi perlambang bahwa Dewi Fortuna tidak memilih-milih status sosial, jenis kelamin, atau nasab dari mereka yang bakal menerima keberuntungan.

Pesan moral yang dapat terengkuh di balik mitologi Dewi Fortuna, yaitu keberuntungan bisa saja datang dan pergi setiap waktu. Bersahabat dengan ketidakpastian adalah pilihan hidup yang arif. Menerima ketidakpastian sebagai kesemestian dinamika kehidupan, mempermudah seseorang untuk tetap bersyukur. Baik manakala keberuntungan sedang datang menyambanginya maupun ketika memantapkan hati untuk melepas keberuntungan itu pergi. ***