Diksi Keseharian dan Nonkeseharian dalam Karya Sastra
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahan dasar untuk melepaskan energi kreatif dalam proses penulisan karya sastra adalah kata. Berbicara tentang kata, itu berarti mendekatkan diri pada tindakan menentukan pilihan kata atau diksi. Dan, diksi itu sama-sama berpeluang menghadirkan estetika, baik manakala terambil dari bahasa keseharian maupun bahasa nonkeseharian.
Boleh terbilang, penentuan diksi bagi kreator sastra merupakan keputusan esensial. Pertimbangan utama yang menopang pemanfaatan diksi keseharian dalam karya sastra, mengacu pada strategi penulisan yang mengaktifkan pemakaian kosakata bahasa lisan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penulisan karya sastra, pengedepanan diksi keseharian sebagai wahana untuk mengekspresikan gagasan sastrawi, tidak “merusak” estetika. Akan tetapi, justru merupakan suatu teknik guna mengonstruksi kedekatan dengan realitas komunikasi.
Taruh misal, untuk mengambil contoh sederhana saja. Dialog “Lu mau ikut ngopi gak?” dalam sebuah cerita pendek akan terasa jauh lebih hidup dan membangun realisme fisik dengan autentisitas tinggi, manakala narasi memainkan karakter anak muda Jakarta. Tentu akan segera menciptakan barikade penerimaan wajar manakala tatanan dialog mewujud dengan kalimat baku, “Apakah engkau bersedia kuajak ke kedai kopi?”.
Melalui cara ini, penggunaan diksi keseharian, dapat mendekatkan jarak suasana narasi dengan khalayak audiens. Dengan cara demikian, akan lebih mudah terjalin ikatan emosional dengan narasi melalui bungkusan bahasa yang merepresentasikan isi kepala atau cara berkomunikasi sesuai dengan tuntutan di dunia riil.
Bahasa Kolokial
Sentuhan bahasa kolokial, variasi bahasa percakapan sehari-hari yang lebih memenuhi suasana santai, akrab, dan merujuk ke ragam lisan, mengalami pengadopsian ke dalam bentuk tulis, kerap tampak pada dialog dalam novel atau cerita pendek.
Kolokial secara etimologis berasal dari kata bahasa Latin, yaitu colloquium, yang bermakna percakapan. Cenderung tidak mengiblati kaidah gramatika baku atau formal. Kerap berupa pemendekan kata (seperti kak dari kakak, atau dok dari dokter), penyingkatan, atau pemakaian kosakata kasual keseharian.
Adapun fungsi bahasa kolokial dalam karya sastra, menghidupkan dialog antarkarakter menjadi berkesan alami, realistis, dan sesuai dengan latar belakang sosial atau usia mereka. Selain itu juga, membangun suasana narasi yang santai, akrab, dan memiliki gambaran kehidupan riil, sekurangnya manakala ada jalinan komunikasi verbal antarkarakter.
Bahasa kolokial dapat menunjukkan identitas sosial para karakter dalam novel atau cerita pendek. Menandai asal daerah, kelas sosial, atau kelompok pergaulan para karakternya. Bisa juga bahasa kolokial itu menghidupkan latar waktu. Ia bertindak sebagai penanda zaman.
Pemunculan kata ghosting (memutus komunikasi secara mendadak tanpa penjelasan), healing (berlibur, jalan-jalan, piknik, refreshing melepas penat dari rutinitas), atau mager (akronim “malas gerak”) langsung memberi informasi kepada khalayak audiens bahwa mereka tengah memasuki dunia narasi berlatar waktu pada era 2020-an.
Sementara itu, kata ngebrik (berkomunikasi dengan radio HT, tren teknologi remaja 1980-an), memble (ekspresi raut muka yang tidak sedap), ogut (saya), doku (uang), gokil (luar biasa, keren; dalam bahasa gaul anak sekarang mengalami modifikasi sebagai goks, memotong “il” dan menambahkan “s”), ngeceng (jalan-jalan cari perhatian), memberitahu bahwa latar waktu narasi terjadi pada tahun 1980-an.
Penerapan Diksi Keseharian
Penerapan diksi keseharian yang paling sering terjadi pada novel atau cerita pendek terjadi di dalam dialog antarkarakter. Fungsinya untuk menunjukkan latar belakang sosial, usia, dan kedekatan relasi antarkarakter. Contoh kalimat dialog: “Wah, gue burnout banget sama tugas-tugas kuliah Pak Hari,” keluh Yuda sambil memijit-mijitkan tangan kanannya ke dahinya sendiri.
Satu catatan kecil, dalam dialog karakter Yuda pada contoh di atas, terdapat kata gaul burnout. Artinya, kondisi manakala seseorang merasa sangat capai, tidak kuasa berkelit dari serangan stres, dan kehilangan semangat akibat terlalu banyak menerima beban penugasan terkait dengan aktivitasnya sehari-hari.
Contoh lain, sebuah narasi yang merekam interaksi ibu dan anak lelakinya saat berada di dapur:
“Bukannya udah dibilangin, jangan suka nyeker kalau lantai baru dipel. Nanti masuk angin, Nak,” tegur Ibu sambil menata piring.
“He he he, sori, Bu. Tadi buru-buru mau ambil hape di kamar,” sahut Bayu.
Kata-kata kolokial pada contoh di atas, fokus kalimat dialog yang terdapat di dalam dua tanda petik yang mengapitnya, terdapat kata udah (ragam lisan dari sudah), dibilangin (bentuk santai dari diberi tahu), nyeker (tidak mengenakan sandal), sori (ucapan akrab untuk maaf), ambil (ragam lisan mengambil).
Selain di dalam dialog antarkarakter, diksi keseharian yang mewujud sebagai kata kolokial, menemukan langkah penerapan di dalam sudut pandang (point of view) yang menjadi pilihan kreator sastra. Penggunaan pronomina persona pertama tunggal gue (bahasa gaul) merupakan salah satu contoh pemfaedahan diksi keseharian dalam penulisan karya sastra.
Kreator sastra melalui karakter protagonis yang menjadi narasumber narasi dapat menggunakan diksi keseharian itu tanpa harus mengganggu estetika bahasa racikannya. Contoh: Malam itu hujan turun deras banget. Alih-alih galau, gue malah pesen mi instan pake telur setengah matang.
Pronomina persona pertama tunggal gue pada contoh barusan, tampak berkolaborasi dengan6 sejumlah kata kolokial juga. Seperti bentuk superlatif curahan hujan, yaitu deras banget. Ini sangat ragam lisan yang terpindahkan ke ragam tulis. Semestinya adjektiva yang muncul deras atau lebat sekali.
Juga dengan penulisan kata pake yang terasa seperti transkripsi fonetik atau cara pelafalan dari kata pakai. Ini bisa dikatakan pula sebagai diksi keseharian dengan pilihan ejaan yang sangat mendekati cara pengucapannya dalam kehidupan berbahasa yang natural dan wajar.
Akan tetapi, bisa juga pronomina persona pertama tunggal gue itu seolah menyelinap begitu saja di antara kata-kata yang masih relatif terstandardisasi ke dalam ragam tulis. Kutipan di bawah ini adalah contohnya:
Pagi itu, gue berjalan tergesa-gesa menyusuri trotoar yang basah karena sisa hujan semalam. Di tangan kanan, gue memegang erat secangkir kopi panas yang baru dibeli dari kedai ujung jalan. Tiba-tiba, sebuah sepeda motor melintas cepat dan mencipratkan air genangan ke celana gue. Gue langsung menghentikan langkah dan menghela napas panjang, mencoba meredam rasa kesal yang hampir meledak di dada.
Tetap Terkendali
Kendatipun ada kebebasan, pemakaian bahasa kolokial atau diksi keseharian dalam karya sastra, terdapat batas takaran keterkendaliannya. Perlu ada penyesuaian dengan karakternya. Tidak seharusnya seorang profesor sepuh misalnya, berdialog dengan kata cenat-cenut (sensasi emosional untuk mendeskripsikan perasaan berdebar, gugup, deg-degan karena jatuh cinta atau cemas).
Atau, tidak seharusnya pula ucapan profesor tua itu menyentuh kata skena. Dalam bahasa gaul, kata tersebut merupakan akronim yang menggabungkan tiga kata, yaitu “s” mewakili sua (bertemu), “ke” mewakili cengkerama (mengobrol, bercanda), dan “na” mewakili kelana (jalan-jalan).
Namun, persoalannya menjadi lain ketika kreator sastra hendak menampilkan sosok profesor sepuh dalam performa yang berlumuran dengan suasana komedi. Profesor sepuh dengan dialog yang melibatkan cenat-cenut dan skena atau kata kolokial gaul lainnya, bisa jadi karena keunikan performa yang menjadi tujuan.
Selanjutnya, untuk menghindari anakronisme, bahasa kolokial tentu perlu pencermatan kreator sastra terkait dengan latar belakang zamannya. Taruh misal ada yang berminat untuk berimajinasi tentang kisah mahasiswa baru di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) pada zaman Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, awal abad ke-20.
Kata-kata kolokial yang muncul dalam dialog antarkarakter, tentulah mesti mengalami penyesuaian dengan realitas zamannya. Ketika ada karakter yang menyebut dalam dialognya kata dalam bahasa Belanda, ontgroening, untuk menyebut masa perpeloncoan atau masa orientasi mahasiswa baru. Tentulah kata ini memang sesuai dengan kehendak suasana zamannya.
Atau, sebutan groentje, bentuk kolokial untuk mahasiswa baru STOVIA, yang memiliki makna “anak bawang” yang tengah menjalani ontgroening (ritual inisiasi). Kedua kata tersebut bisa turut mewarnai suasana zaman yang hendak terkonstruksi kreator sastra.
Frasa kolokial dari bahasa Belanda, seperti inlandsche arts (dokter bumiputra), juga menjadi catatan tersendiri. Di kalangan alumni STOVIA pada masa itu, frasa tersebut mereka ucapkan dengan nada penuh kebanggaan untuk membedakan mereka dari dokter lulusan Eropa (Europeesche arts).
Campur kode atau penggunaan dua bahasa atau lebih dalam suatu ujaran, sering menjadi bentuk kolokial komunikasi santai di asrama STOVIA. Para mahasiswa itu, kerap memakai pronomina persona pertama tunggal ik (aku) dan pronomina persona kedua tunggal jij (kamu) ketika berbicara dalam bahasa Melayu. Seperti “Ik mau pergi mendaki ke Gunung Merbabu saat pakansi nanti”. Atau, “Jij sudah sudah menjalani prop?”.
Batasan berikutnya, dalam pemakaian bahasa kolokial seharusnya kreator sastra dapat terus merawat struktur rasa. Mengungkapkan gagasan naratif dengan memanfaatkan diksi keseharian, tetap membutuhkan ritme dan estetika, agar karyanya tidak kehilangan esensi sebagai karya sastra dan berubah menjadi sekadar chat di media sosial.
Jujur dan Membumi
Diksi kolokial begitu dekat dengan kehidupan berbahasa sehari-hari. Sederhana tetapi tetap mempunyai getaran rasa yang puitis dan mendalam. Terasa jujur, membumi, dan tidak menyemburatkan kesan “menara gading”.
Diksi keseharian yang terkait dengan waktu dan suasana, seperti kata rebah. Ia menyulihi kata tidur atau istirahat. Terasa lebih menekankan beban lelah sekaligus berbaur pasrah. Lalu kata jeda yang memberikan ruang bernapas di tengah tindihan kesibukan. Kata istirahat atau frasa berhenti sejenak yang seatmosfer makna dengannya belum mencapai titik estetika yang seoptimal dengannya.
Kemudian kata lekas terasa lebih lembut dan penuh harapan berbandingkan daripada kata cepat atau buru-buru. Adapun kata senggang terasa lebih menawarkan laku kontemplatif ketimbang frasa waktu luang yang mengasosiasikan adanya sentuhan kekosongan. Dan, kata temaram yang merujuk cahaya redup tatkala senja tiba, menorehkan kesan intim serta melankolis.
Diksi keseharian yang bertalian dengan benda dan ruang sekitar. Kata beranda misalnya, ia sering menerima jamahan asosiasi sebagai tempat untuk menunggu atau ruang kontemplasi. Daya semantis yang sedemikian lebih terbentuk daripada ketika kreator sastra menetapkan pilihan kata teras.
Sementara itu, kata sudut, sebagaimana tampak pada bentukan frasa sudut kamar, sudut jalan, sudut kedai kopi menawarkan impresi sebagai ruang personal atau kesendirian yang menenangkan.
Kemudian kata reruntuh yang merujuk pada konsep semantik “sisa-sisa atau pecahan kecil dari sesuatu yang telah rusak berkeping-keping", dapat pula memperoleh penerapan terhadap ingatan. Ini menjadi begitu menyentuh, manakala kreator sastra mendeskripsikan sosok karakter yang telah begitu beruntung banyak menerima limpahan tahun-tahun kehidupan, sehingga dia hanya bisa mengenang reruntuh ingatannya tentang memori indah di masa lampau.
Juga kata pualam bisa masuk ke dalam kutub kategorial diksi keseharian. Ia merujuk pada benda marmer untuk mendeskripsikan sesuatu yang dingin, tapi indah dan kokoh. Tidak ketinggalan kata gawai (gadget) bisa terasa begitu puitis dan ironis, saat ia misalnya melekat pada klausa “menatap gawai yang sunyi”.
Diksi keseharian yang bersangkut paut dengan perasaan dan interaksi, misalnya kata sapa terasa lebih personal dan puitis daripada tegur. Lalu kata dekap terasa lebih penuh perasaan ketimbang peluk apalagi rangkul. Berikut, kata seling seperti dalam frasa diseling tawa, terasa lebih variatif sebagai pilihan.
Selebihnya kata kawan yang sangat biasa. Akan tetapi, tatkala ia berada dalam konteks kalimat yang tepat, bisa menjadi sedemikian mengandung makna filosofi mendalam: //…/ kawan, mari kita putuskan kini di sini/ Ajal yang menarik kita/ mencekik diri sendiri// … //Sekali lagi kawan, sebaris lagi/ Tikamkan pedangmu hingga ke hulu// (petikan Puisi “Kepada Kawan”, karya Chairil Anwar).
Diksi keseharian yang bertalian dengan gejala alam yang acap kali terakrabi, seperti kata deru, suara angin, kendaraan, atau ombak yang berisik dengan konstan. Menggambarkan keriuhan pikiran. Selanjutnya ada kata renyai, gerimis tipis yang turun perlahan. Gambaran kesedihan tanpa gejolak.
Kemudian kata pijar, api yang menyala, mengusung simbol harapan yang masih tersimpan di dada. Selebihnya kata desir, suara angin yang menggesek daun, kerap mendapat pengaitan dengan getaran lembut di dada (desir hati).
Adapun daya puitis diksi keseharian tidak terletak pada kemewahan katanya, tetapi pada bagaimana cara kreator sastra memadukannya dalam suatu rangkaian kalimat. Contoh pemakaian diksi keseharian yang tetap menunjukkan muruah kepuitisannya: Aku memilih rebah di beranda, menatapi gawai yang sunyi di antara renyai hujan.
Diksi Nonkeseharian
Pertimbangan menggunakan diksi nonkeseharian, manakala kreator sastra berkehendak untuk mencapai tujuan tertentu. Pertama, untuk menciptakan jarak estetis (defamiliarisasi). Dengan memanfaatkan diksi yang jarang terdengar, seperti renjana (rasa hati yang kuat) atau syahdu (khidmat, mulia, agung), khalayak audiens menerima ajakan untuk memperlambat tempo menikmati keindahan bahasa.
Kedua, membangun atmosfer historis atau fantasi. Dalam narasi yang memasang latar belakang sejarah, kerajaan, atau dunia fantasi, keberadaan diksi arkais (klasik) sangat mendukung bangunan dunia (world building) agar khalayak audiens merasa benar-benar telah bermigrasi ke dimensi waktu berbeda.
Ketiga, mengejar ritme dan rima (musikalitas). Kreator puisi acap kali menggunakan diksi nonkeseharian demi menggapai harmoni bunyi, bisa lewat asonansi (perulangan bunyi vokal dalam deretan kata) atau aliterasi (perulangan bunyi konsonan dalam deretan kata). Atau, jumlah silabel yang pas demi estetika auditori.
Keempat, menyampaikan makna yang filosofis atau ambigu. Pilihan kata kompleks atau jarang menemukan realisasi pemakaian kerap mempunyai lapisan makna lebih dalam dan multitafsir. Realitas ini mempersembahkan ruang bagi khalayak audiens untuk merenung dan menafsirkan karya secara lebih personal.
Diksi nonkeseharian juga bisa berupa kosakata puitis dan sastra, seperti kata asmaraloka (dunia alam cinta kasih) yang tertuang dalam bait: Berdua kita melangkah, menembus batas waktu, dan hanyut ke dalam asmaraloka yang abadi.
Kata atma (jiwa/roh) sebagaimana terdapat dalam kalimat: Di bawah temaram rembulan, atma yang terluka itu meratap sunyi, mencari kedamaian yang hilang ditelan malam.
Selanjutnya, kata anila (angin) seperti tertuang ke dalam kalimat: Tirai sutra di kamar sang putri menari-nari indah, terpikat oleh belaian lembut anila senja yang menyelinap lewat jendela.
Lalu kata derana (tabah/tahan menderita) yang mengisi makna kalimat: Senyum getir itu menjadi bukti betapa dia telah tumbuh menjadi musafir derana di sepanjang jalan takdir berliku.
Bisa pula diksi nonkeseharian itu merujuk pada kata renjana (rasa rindu, cinta yang kuat) ketika hadir dalam kalimat: Langkah kakinya terasa berat, terseret oleh renjana yang teramat dalam kepada tanah kelahiran dan kenangan masa lalu.
Juga, kata saujana (sejauh mata memandang) yang mengisi celah dalam kalimat: Kabut tipis perlahan turun, menyelimuti saujana ladang teh yang bergelombang di bawah naungan langit senja.
Diksi nonkeseharian itu bisa juga berupa kata arkais/klasik. Kata syahdan (selanjutnya, lalu) tak bisa termungkiri dari ingatan orang mengenai narasi hikayat (sastra lama). Walaupun demikian, kata ini terkadang muncul juga dalam sastra modern. Kehadirannya bahkan berangkat dari faktor kesengajaan kreator guna membangkitkan efek dramatis, puitis, melankolis.
Atau, menghadiahkan kesan waktu yang bergerak lamban. Seperti keberadaannya di dalam kutipan kalimat: Syahdan, kota yang dahulu bising oleh klakson dan ambisi itu perlahan sunyi, menyisakan sepasang kekasih yang saling menggenggam jemari tangan di bawah lampu jalan yang temaram.
Kemudian, kata mahligai (istana tempat tinggal raja dan ratu dengan putra-putrinya). Dalam sastra modern, kerap secara metaforis (kiasan) untuk mendeskripsikan tempat nan indah, megah. Atau, suasana hati dan kehidupan sakral seperti rumah tangga. Seperti tampak pada kalimat: Di tengah debu kota yang bising, mereka merajut impian kecil untuk membangun mahligai kebahagiaan.
Dari diksi arkais kalbu (perasaan hati), di tangan kreator sastra modern, ia bisa mendukung kalimat yang menapaskan refleksi diri, sebagaimana termaktub dalam kalimat: Dalam riuhnya dunia digital yang serbacepat, ia memilih menepi sejenak, mendengarkan bisikan kalbu yang jujur tentang apa yang sebenarnya dia cari.
Sebagai penutup tulisan, terdapat satu kesimpulan yang dapat teraksentuasikan. Baik diksi keseharian maupun diksi nonkeseharian, pada realisasinya justru saling melengkapi. Kreator sastra akan senantiasa menyesuaikan diksi dalam jerih kreasinya dengan roh cerita, tujuan estetik, dan khalayak audiens yang menjadi segmentasi targetnya.
Akan tetapi, tidak sedikit pula kreator sastra moden yang mendamaikan diksi keseharian dengan diksi nonkeseharian guna menghadirkan kontras yang dinamis dalam karya mereka. Suatu perpaduan yang menyebabkan gaya bahasa mereka mempunyai ritme nan seru. Mengaduk-aduk pikiran dan sekaligus perasan khalayak audiens. ***

